PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bomberai
  3. Pengunjung diminta hormati adat-istiadat Raja Ampat
  • Jumat, 31 Maret 2017 — 13:18
  • 596x views

Pengunjung diminta hormati adat-istiadat Raja Ampat

“Kalau kami dari adat, dari cara berpakaian tentu itu tidak wajar. Mereka yang datang berwisata ke Raja Ampat biar bagaimana pun harus menghormati adat yang ada di daerah yang dikunjungi,” katanya kepada Jubi di Sorong, Kamis (30/3/2017).  
Matahari terbenam di Kampung Pam, Kepulauan Fam, Raja Ampat – Jubi/Florence Niken
Florence Niken
gendis2005.soebroto@gmail.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sorong, Jubi – Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Maya, Raja Ampat, Papua Barat, Kristian Thebu, meminta agar wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata ini menghormati adat-istiadat masyarakat adat setempat. 

Hal ini dikatakan Kristian menanggapai penyebaran foto pada akun instagram @angelsontrip di Vianemo, Raja Ampat. 

Pada laman https://www.instagram.com/p/BR__Wd6jJOT/ dengan pengguna akun angelsontripVianemo, Raja Ampat dipajang foto seorang perempuan berpakaian  seadanya. Mengenakan celana dalam berwarna hitam dan kutang dengan tali putih dan membentangkan tulisan #Kamu harusnya ikutan! hingga Kamis malam, foto memiliki 58 likes dan beberapa komentar.

“Kalau kami dari adat, dari cara berpakaian tentu itu tidak wajar. Mereka yang datang berwisata ke Raja Ampat biar bagaimana pun harus menghormati adat yang ada di daerah yang dikunjungi,” katanya kepada Jubi di Sorong, Kamis (30/3/2017).  

Ia pun mengimbau agar pengunjung memperhatikan norma sopan santun masyarakat setempat meski itu daerah tujuan wisata. 

“Bila dibiarkan bagaimana dengan generasi muda adat? Mereka bisa terpengaruh dan bisa saja tidak menghormati adat lagi,” katanya.

Terpisah, aktivis lingkungan dan juga pelaku pariwisata di Raja Ampat, Amandra Gunadarma mengatakan, travelling mesti dipahami sebagai aktivitas rekreasional, sarana aktualisasi diri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Saya pikir peribahasa 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung' harus dipahami dan dihayati sebagai nilai universal. Di mana pun kita berada, dan kemana pun kita akan pergi. Ini bukan hanya pekerjaan rumah dari masyarakat dan pemerintah saja. Justru pelaku industri pariwisatalah (mulai dari agen, operator wisata, hingga kepada pemandu wisata), yang berada di garis 'terdepan,' yang mesti mendidik para wisatawan,” kata Darma. 

Menurut Darma, jika perilaku “kebarat-baratan” dibiarkan, maka akan berdampak pada semacam syok budaya, yang pada akhirnya berujung kepada tergerusnya identitas unik dari penduduk lokal. (*)

Sebelumnya

Ini kata legislator Raja Ampat soal dana JLW

Selanjutnya

April, dua maskapai layani penerbangan ke Kaimana 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua