Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Mama-Mama Papua gelar demo tolak intervensi Pokja Papua
  • Senin, 03 April 2017 — 13:07
  • 2453x views

Mama-Mama Papua gelar demo tolak intervensi Pokja Papua

"Mereka buat proposal ke BUMN. Ke pihak lain atas nama mama-mama. Mereka tinggal di hotel selama dua bulan. Mereka mau pakai lantai IV untuk kantor mereka. Kami tolak Pokja dan 24 BUMN. Pasar ini diperjuangkan dengan air mata, darah, keringat dan juga korban nyawa," kata Cintia.
Aksi demo damai Mama-Mama Pedagang Asli Papua menolak intervensi Pokja Papua di Pasar Mama-Mama yang baru dibangun, Senin (3/4/2017) - Jubi/Arjuna
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Sedikitnya, 200an Mama-mama pedagang asli Papua menggelar demo damai di Taman Imbi, Kota Jayapura, Papua, Senin (3/4/2017).

Mama-mama yang dikoordinir Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap) dan didampingi beberapa organisasi pemuda, mahasiswa diantaranya GMKI dan PMKRI menuntut Pojka Papua pimpinan Judith Dipodiputro keluar dari pasar permanen Mama-mama Papua. Mama-mama mempertanyakan kepentingan Pokja Papua sehingga ingin menguasai pasar Mama-mama Papua. Bahkan Pokja akan menggunakan lantai IV pasar sebagai kantor.

Salah satu mama-mama Papua, Yuliana Douw kepada Jubi disela-sela aksi demo mengatakan, menolak keberadaan Pokja dan program-programnya.

"Kami tidak mau. Selama ini Solpap dan anak-anak mahasiswa serta berbagai aktivis lainnya yang memperjuangkan kami. Makanya Pojka harus keluar dari pasar. Pokja jangan seakan-akan mau jual kami. Mau proyekkan kami untuk dapat uang. Padahal selama 15 tahun kami demo. Menuntut pembangunan pasar, tidak ada Pokja," kata Mama-mama Yuliana.

Katanya, pelatihan yang diberikan Pokja Papua kepada mama-mama Papua beberapa waktu lalu tidak terlalu bermanfaat untuk mama-mama.

"Selama tiga hari kami ikut pelatihan, kami hanya dikasih tunjuk gambar-gambar sayur dan lainnya. Dihari ketiga, kami diajarkan bagaimana kebersihan badan dan lain-lainnya. Kami tidak diajar cara menjual, memanajemen dan lainnya. Mama-mama disuruh tandatangan. Pulang diantar dengan bus dan diberikan perlengkapan mandi," ujarnya.

Di tempat yang sama, aktivis Solpap, Franky Warer mengatakan, sejak 2001 hingga kini, Solpap mendampingi mama-mama. Tidak pernah ada Pokja Papua. Namun kini, Pokja Papua tiba-tiba muncul. Ada indikasi Pokja ingin mengambil alih pasar. Harusnya Pokja yang katanya mewakili pemerintah berkoordinasi dengan Solpap dan Mama-mama Papua.

"Banyak hal yang Pojka buat, namun tidak mengakomodir apa yang dibutuhkan mama-mama. Sampai sekarang belum berkoordinasi dengan kami dan mama-mama," ujar Franky.

Beberapa fasilitas pasar permanen Mama-mama Papua belum dilengkapi. Namun Pojka memaksa mama-mama segera menempati pasar. Solpap khawatir nantinya ini akan menimbulkan konflik antar mama-mama. Harusnya Pokja duduk membicarakannya dengan Solpap.

"Bicara mama-mama, bicara Solpap. Bicara Solpap, bicara mama-mama. Kami tolak dengan tegas semua yang Pokja lakukan," imbuhnya.

Rekan Franky, Cintia Warwe dalam orasinya mengatakan, pasar yang telah dibangun merupakan perjuangan mama-mama Papua yang didampingi Solpap selama 15 tahun. Pokja Papua tidak boleh merebutnya. Namanya Pokja Papua tapi berkantor di Jakarta. Pikirannya, pikiran orang Jakarta.

"Kenapa kita tolak? Mereka gunakan mama-mama untuk proyek. Mereka buat proposal ke BUMN. Ke pihak lain atas nama mama-mama. Mereka tinggal di hotel selama dua bulan. Mereka mau pakai lantai IV untuk kantor mereka. Kami tolak Pokja dan 24 BUMN. Pasar ini diperjuangkan dengan air mata, darah, keringat dan juga korban nyawa," kata Cintia.

Orator lainnya, Edy Pekei dalam orasinya mengatakan, siapapun yang ingin masuk ke pasar, harus berkoordinasi dengan Solpap. Solpap dan mama-mama yang selama ini berdarah-darah memperjuangkan sehingga pasar mama-mama dibangun.

"Mama-mama tidak sendiri. Kami akan kawal mama-mama. Mama-mama yang melahirkan kami. Membesarkan kami. Sehingga kami ada. Mama-mama jangan khawatir. Meski saudara kami Rojit (Robert Jitmau) sudah meninggal. Mungkin sengaja dibunuh untuk kepentingan menguasai pasar. Tapi Rojit-Rojit lain masih ada," kata Edy.

Salah satu mama-mama Papua lainnya dalam orasinya mengatakan, pihaknya tahu, selama 15 tahun Solpap yang melindungi dan memperjuangkan kepentingan mama-mama. Mama-mama berjualan di pinggir toko, trotoar tidak pernah ada yang datang merangkul mereka.

"Solpap yang merangkul kami. Kenapa ibu Judith masuk ke pasar tanpa ijin ke kami. Apakah Judit disuruh presiden atau untuk bisnis pribadi. Kalau bisnis pribadi silahkan pulang. Kami juga mau hidup seperti orang lain," kata mama-mama itu.

Beberapa point pernyataan sikap Solpap dan Mama-mama Papua yakni, menolak semua bentuk kegiatan Pokja Papia di pasar permanen Mama-mama Papua, karena tidak mengakomodir kepentingan dan kebutuhan mama-mama. Meminta Pokja Papua segera menyelesaikan beberapa hal yang sudah disepakati antara lain, dibangun kios, tempat cuci sayur, buah dan tempat menyimpan jualan. Hentikan semua pengiriman barang jualan dari luar yang nantinya akan memperngaruhi harga lokal dan berdampak pada pendapatan mama-mama di pasar. Pemerintah Daerah, Pokja Papua dan Solpap harus duduk bersama mencari penyelesaian masalah ini. Apabila Pokja Papua mempertahankan sikap tidak koordinatif, tidak transparan kepada Solpap dan mama-mama, mama-mama tidak akan masuk ke pasar permanen hingga ada kejelasan, meski Presiden Jokowi sudah meresmikan pasar itu. Solpap menolak penggunaan lantai IV oleh Pokja yang akan dipergunakan bukan untuk kepentingan dan kebutuhan mama-mama.

Setelah berorasi kurang lebih satu jam, aksi damai mama-mama pedagang asli Papua itu ditutup dengan doa bersama sebelum mereka membubarkan diri. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pengusaha Papua desak copot Kepala BBPJN Papua dan Papua Barat

Selanjutnya

DPR Papua akan dorong perbaikan jalan Kaureh

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua