Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Masih ada diskriminasi, Pelapor Khusus PBB : Ada keprihatinan serius pada kesehatan OAP
  • Selasa, 04 April 2017 — 06:02
  • 1703x views

Masih ada diskriminasi, Pelapor Khusus PBB : Ada keprihatinan serius pada kesehatan OAP

Puras juga mengakui masih ada stigma dan diskriminasi layanan kesehatan yang dirasakan OAP.
Pelapor khusus untuk kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dainius Puras saat bertemu masyarakat sipil di Jayapura, Jumat (31/3/2017) - Jubi/Benny Mawel
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Pelapor khusus untuk kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dainius Puras mengungkapkan, rasa saling tidak percaya menjadikan masalah kesehatan di Papua sangat rumit.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/4/2017), Puras menyebutkan masalah kesehatan di Papua sebagai komplikasi yang serius.  Ia mencontohkan program Keluarga Berencana (KB) yang sangat jelas menunjukkan ketidakpercayaan Orang Asli Papua (OAP) kepada pemerintah Indonesia.

"Seandainya pun program KB ini dijalankan secara etis dan baik, rakyat Papua masih berpikir bahwa KB ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk asli Papua,” ungkap Puras, seperti dikutip satuharapan.com

Kepada satuharapan.com, Puras mengaku sulit untuk menjelaskan hal tersebut karena menurutnya program KB adalah program yang baik. Namun jika program KB itu dijalankan secara paksa, itu melanggar HAM.

“Tetapi kalau dilaksanakan dengan cara yang baik, diedukasi, tidak memiliki anak satu setiap tahun, itu bagus. Namun, dalam lingkungan yang tidak saling mempercayai, ini menjadi komplikasi. Jadi harus ada solusi untuk hal ini," jelas Puras kepada satuharapan.com

Lanjut Puras, masalah ketidaksaling-percayaan Papua dan Jakarta merupakan isu penting yang harus dicarikan solusinya, karena memiliki pengaruh pada layanan kesehatan.

Baca Bertemu korban KLB Mbua, apa yang dibicarakan pelapor khusus PBB?

Puras juga mengakui masih ada stigma dan diskriminasi layanan kesehatan yang dirasakan OAP.

“Ada keprihatinan serius pada kesehatan Orang Asli Papua. Bukan hanya tingginya prevalensi HIV AIDS, tetapi juga tingkat kematian bayi dan ibu, serta gizi buruk pada anak,” kata Puras.

Dalam pertemuan dengan masyarakat sipil di Jayapura, Jumat (31/3/2017) seorang petugas rumah sakit di Abepura bercerita pihak rumah sakit membatasi kelahiran orang Papua dengan cara menteror keluarga ibu yang hendak bersalin dengan ancaman kematian.

"Sebenarnya lahir normal itu bisa tapi kadang petugas bilang kalau tidak operasi ibu atau anak mati. Keluarga terpaksa tanda tangan operasi,” kata petugas ini.

Sementara bidan dari Yahukimo mengatakan pembatasan hak reproduksi juga menjadi pintu masuk bagi kekerasan terhadap perempuan. Praktik program KB yang tidak informatif menyebabkan banyak perempuan di Yahukimo mengalami kekerasan dalam rumah tangga. (*)

loading...

Sebelumnya

RSUD Kaimana bantah pembuangan limbahnya tak berfungsi

Selanjutnya

Siswa SMA yang dibakar hidup-hidup di Merauke meninggal dunia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe