Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Maluku
  3. Maluku kekurangan dokter spesialis
  • Selasa, 04 April 2017 — 17:26
  • 2863x views

Maluku kekurangan dokter spesialis

Maluku kurang diminati oleh dokter-dokter spesialis, karena infrastruktur belum menunjang. Contohnya, di daerah-daerah sangat terpencil atau daerah perbatasan yakni MTB, MBD dan Kepulauan Aru.
Ilustrasi (Jubi /HealthNewsNG)
ANTARA
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Ambon, Jubi - Kadis Kesehatan Maluku, Meikyal Pontoh, mengatakan telah meminta bantuan kepada Kementerian Kesehatan tentang dokter spesialis melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS), mengingat terbatasnya tenaga dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di daerah ini.

Program WKDS tujuannya untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya di daerah-daerah yang selama ini kesulitan dengan dokter-dokter spesialis.

Dia menjelaskan, masyarakat setempat masih beranggapan bahwa dokter spesialis seakan-akan hanya ada di ibu kota provinsi, yakni di RSUD Haulussy Ambon. Tetapi dengan adanya program WKDS, di semua rumah sakit kabupaten/kota sudah ada dokter spesialis, paling rendah dokter residen.

Dia menambahkan, RSUD Karel Satsuitubun tipe C di kabupaten Maluku Tenggara, membutuhkan masing-masing satu dokter spesilias anak, obgin, penyakit dalam, bedah maupun anastesi.

Menurutnya, Maluku kurang diminati oleh dokter-dokter spesialis, karena infrastruktur belum menunjang. Contohnya, di daerah-daerah sangat terpencil atau daerah perbatasan yakni MTB, MBD dan Kepulauan Aru.

"Masalahnya kalau kita merujuk pasien dari daerah-daerah terpencil ke pusat rujukan di RSUD Haulussy Ambon, membutuhkan biaya besar dengan pesawat. Apalagi merujuk pasien dalam posisi tidur, paling kurang ada sembilan tempat duduk yang harus di buka," kata Meikyal.

Padahal, pesawat-pesawat yang masuk ke kabupaten tipe kecil.Selain itu, fasilitas kelistrikan, kalau di ibu kota kabupaten rumah sakit maupun Puskesmas semua sudah diterangi listrik 24 jam.

Sedangkan, Puskesmas di pinggiran atau jauh dari ibu kota kabupaten, listrik hanya menyala 12 jam.

"Inilah yang terjadi di Maluku. Padahal di daerah-daerah pinggiran tersebut ada masyarakat di sana yang sangat membutuhkan tenaga kesehatan," ujarnya. (*)


 

loading...

#

Sebelumnya

Cuaca buruk di Ternate, harga ikan melonjak

Selanjutnya

Maluku Utara peroleh lima armada ferry

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Pilihan Editor |— Selasa, 25 September 2018 WP | 9825x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6404x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 6050x views
Berita Papua |— Senin, 24 September 2018 WP | 4697x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe