Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Dikunjungi Dubes Belanda, Kantor SKPKC Fransiscan didatangi intel pada malam hari
  • Rabu, 05 April 2017 — 12:48
  • 4322x views

Dikunjungi Dubes Belanda, Kantor SKPKC Fransiscan didatangi intel pada malam hari

"Banyak orang berpakaian preman, yang kami duga itu intel, datang. Kami merasa tidak nyaman, karena itu pertemuan tertutup. Mereka ada di belakang dan samping sekretariat, juga duduk di aula kami," kata Yuliana.
Orang-orang berpakain preman yang diduga intel tampak memotret di pelataran Kantor SKPKC Fransiscan - Dok. SKPKC
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Direktur Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiscan, Yuliana Langowuyo mengkritik kinerja aparat keamanan yang menurutnya sangat mengganggu pertemuan antara aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua dengan Duta Besar Belanda untuk Indonesia di Kantor SKPKC Fransiscan, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (4/4/2017).

Yuliana kepada Jubi mengatakan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Rob Swartbol saat berkunjung ke kantor SKPKC Fransiskan Papua, tidak hanya dikawal oleh polisi dengan pakaian resmi (sesuai prosedur) tetapi juga orang-orang berpakaian preman yang masuk ke area Kantor SKPKC dan melakukan "gerakan-gerakan" yang tidak perlu.

"Banyak orang berpakaian preman, yang kami duga itu intel, datang. Kami merasa tidak nyaman, karena itu pertemuan tertutup. Mereka ada di belakang dan samping sekretariat, juga duduk di aula kami," kata Yuliana.

Menurut Yuliana, orang-orang yang diduga intel ini jalan berkeliling area kantor, berusaha masuk dari pintu yang sudah ditutup, memotret dan mendatangi kantor lagi pada waktu malam.

"Saat mereka datang malam hari, mereka tanya-tanya kepada yang jaga kantor. Mereka tanya pertemuan tadi soal apa, tanya alamat email dan nomor kontak aktivis yang bertemu dengan duta besar juga," jelas Yuliana.

Yuliana, meski tidak tahu orang-orang berpakaian preman tersebut dari mana, berpendapat, cara-cara seperti ini sebagai kerja intelijen yang tidak profesional dan perlu dikritisi.

"Ini tidak profesional dan perlu dikritisi. Sebab sudah ada polisi yang mengkawal Duta Besar. Kami tidak tahu mereka itu dari satuan mana, entah polisi, TNI atau Badan Intelijen Negara (BIN) tapi mereka berpakaian preman. Mereka ini mau masuk ikut pertemuan untuk apa?" tanya Yuliana.

Sebelumnya, Duta Besar Belanda untuk Indonesia berkunjung ke Kantor DPR Papua dan bertemu dengan beberapa legislator Papua di antaranya, Ferinando A.Y. Tinal, Laurenzus Kadepa, Elvis Tabuni, Mathea Mamoyaow, Orwan Tolli Wone, Deerd Tabuni, Syamsunar Rasyid, Emus Gwijangge, Tan Wie Long, Sinut Busup, Ignasius W Mimin, Natan Pahabol dan Yakoba Lokbere.

Usai pertemuan, Ferinando Tinal mengatakan kedatangan Rot ke Papua merupakan kunjungan rutin. Tujuannya memantau program dan bantuan yang diberikan Pemerintah Belanda dalam pengembangan ekonomi, penguatan hak-hak wanita, air bersih dan di bidang pertanian.

"Anggota dewan juga sudah sampaikan berbagai aspirasi. Diantaranya masalah pelanggaran HAM, kebebasan berekspresi dan beberapa hal lainnya," kata Ferindando Tinal. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kejari didesak tahan tersangka dugaan korupsi pelabuhan Depapre

Selanjutnya

KNPB wilayah Numbay rayakan HUT ke-7

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe