Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Banyak perusahaan kontraktor kamp pengungsi melanggar HAM
  • Rabu, 05 April 2017 — 13:47
  • 923x views

Banyak perusahaan kontraktor kamp pengungsi melanggar HAM

Organisasi Amnesty International memperingatkan beberapa perusahaan kontraktor penyelenggara kamp pengungsi milik Australia di Nauru. Perusahaan-perusahaan ini dituding telah melakukan pelanggaran HAM selama menjalankan tugasnya di kamp.
Pusat penampungan pengungsi di Nauru./RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:02 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 12:40 WP

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Nauru, Jubi – Organisasi Amnesty International memperingatkan beberapa perusahaan kontraktor penyelenggara kamp pengungsi milik Australia di Nauru. Perusahaan-perusahaan ini dituding telah melakukan pelanggaran HAM selama menjalankan tugasnya di kamp.

Dalam laporan terbarunya yang berjudul 'Treasure I$land', Amnesty International menyebut perusahaan kontraktor asal Spanyol, Ferrovial, melalui anak perusahaannya, Broadspectrum, telah menangguk keuntungan hingga miliaran dolar selama mengelola kamp. Untung yang diperoleh Broadspectrum dari kamp pengungsi jauh lebih tinggi dibandingkan bidang bisnis lainnya yang mereka kerjakan.

 

Baru-baru ini, Ferrovial telah menyatakan tidak akan memperpanjang kontraknya yang akan berakhir pada Oktober mendatang. Menurut Direktur Kampanye Amnesty Selandia Baru, Meg deRonde, hal itu terjadi karena massifnya gelombang protes terhadap perusahaan Ferrovial hingga reputasinya hancur.

“Dalam hal ini sangat jelas, keuntungan tidak dapat diraih dengan mengabaikan hak asasi manusia dan bagi setiap perusahaan yang ingin menjalankan dan atau memperpanjang kontrak pekerjaan di kamp pengungsi, mereka harus tahu bahwa hal itu melanggar hukum internasional dan pelanggaran HAM khususnya terhadap anak-anak dan wanita,” ujarnya.

Amnesty International selama ini dikenal karena termasuk yang paling getol mengawasi praktik penyelenggaraan kamp pengungsi milik Australia yang ada di Nauru dan di pulau Manus, Papua Nugini. Laporannya terdahulu pernah mengungkap praktik penyiksaan terhadap pengungsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang ada di kamp.

Laporan Amnesty yang dipublikasikan oleh The Guardian itu pernah menggoncangkan dunia dan membuat posisi pemerintah Australia tersudut. Serangkaian protes muncul di berbagai tempat menuntut pemerintah Australia menutup kamp pengungsi.

Australia tetap tidak mau menerima permohonan suaka politik dari para pengungsi dan pencari suaka. Mereka bekerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat agar menerima sebagian para pencari suaka untuk bermukim di AS. **

 

loading...

Sebelumnya

Wallis dan Futuna pilih ketua DPR baru

Selanjutnya

PM Vanuatu minta para dubes promosikan bisnis dan investasi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5995x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2943x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 2925x views
Otonomi |— Selasa, 13 Februari 2018 WP | 2589x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe