PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Faktor ekonomi penyebab hutan daun sagu berganti atap seng
  • Kamis, 06 April 2017 — 19:41
  • 807x views

Faktor ekonomi penyebab hutan daun sagu berganti atap seng

Ondoafi Kampung Bambar, Distrik Waibu, Doyo Lama, Kabupaten Jayapura itu mengatakan, hal tersebut tak lepas dari faktor ekonomi dan pesatnya pembangunan. Pemilik tanah adat tak kuasa menahan perkembangan zaman. Akibatnya mereka menjual tanah ulayat mereka yang dulunya merupakan hutan sagu untuk disulap menjadi rumah toko (ruko) atau kawasan perumahan beratap seng.
Ilustrasi Hutan Sagu - dok. Jubi
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Angela Flassy

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Wakil Ketua Dewan Adat Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Orgenes Kaway mengatakan, kini sebagian besar hutan sagu di wilayah Kabupaten Jayapura telah berganti rupa. Pohon dan daun sagu kini berganti atap berbahan dasar metal bergelombang yang lazim disebut atap seng.

Ondoafi Kampung Bambar, Distrik Waibu, Doyo Lama, Kabupaten Jayapura itu mengatakan, hal tersebut tak lepas dari faktor ekonomi dan pesatnya pembangunan. Pemilik tanah adat tak kuasa menahan perkembangan zaman. Akibatnya mereka menjual tanah ulayat mereka yang dulunya merupakan hutan sagu untuk disulap menjadi rumah toko (ruko) atau kawasan perumahan beratap seng.

"Siapa pun dia, awalnya berteriak jangan jual tanah. Namun dengan kondisi ekonomi kini, tingkat kemahalan harga kebutuhan, kemudian dari sisi pembangunan, Papua dijadikan percontohan pembangunan wilayah Timur, ini tak bisa dibendung," kata Orgenes Kaway, Rabu (5/4/2017).

Ia mencontohan, dulu pemilik ulayat di wilayah Doyo menyatakan tidak boleh menjual tanah. Namun lantaran pembangunan di wilayah Kabupaten Jayapura kini mengarah ke wilayah Doyo, mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya warga menjual tanah. 

Namun kata dia, tidak semua hutan sagu di Kabupaten Jayapura yang kini disulap menjadi ruko dan kawasan perumahan, sagunya bisa dimakan ada hutan sagu yang tepung sagunya tidak dapa dikonsumsi.

"Sagu yang bisa dimakan itu ada di tempat-tempat khusus. Misalnya di arah Pasar Baru Sentani. Itu bukan sagu yang bisa dikonsumsi. Itu sagu hutan," ujarnya.

Terpisah, anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Pertanahan, Emus Gwijangge mengatakan, pemilik tanah ulayat perlu menyadari pentingnya tanah untuk masa depan generasi berikut.

"Kalau bisa jangan jual tanah. Dikontrakkan saja. Ini demi generasi berikut. Kalau tanah sudah habis dijual, bagaimana dengan generasi Papua kedepan," kata Emus. (*)

Sebelumnya

Kadis PU Papua nyagub, Komisi I: Stop kumpul di Papua pakai di tempat lain

Selanjutnya

19 kadistrik tersangka, Legislator: Ada apa?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua