PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Yohana: kekerasan terhadap anak di Papua harus diputus
  • Sabtu, 08 April 2017 — 01:33
  • 572x views

Yohana: kekerasan terhadap anak di Papua harus diputus

Yohana juga berpesan agar pengelola sekolah tidak membiarkan jika guru mengerasi peserta didiknya dalam proses belajar-mengajar.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak Republik Indonesia Yohana Yembise dengan murid SD Negeri Inpres, Vim II, Jalan Jeruk Nipis Kotaraja, Kota Jayapura –Jubi/ Hengky Yeimo.
Hengky Yeimo
yeimohengky@gmail.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
 
Jayapura, Jubi - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Yohana Yembise menegaskan, rantai kekerasan terhadap anak di Papua harus diputus.

“Papua harus dilepaskan dari kekerasan terhadap anak, kami harus memutuskan mata rantai kekerasan terhadap anak-anak, kekerasan fisik, psikis, dan lainnya," katanya saat berkunjung ke SD Negeri Inpres Vim II, Jalan Jeruk Nipis Kotaraja, Kota Jayapura, Kamis, (6/4/2017).
 
Bersama Menteri juga hadir Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Asisten II,  Kepala DBP dan KB Provinsi Papua, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura.
 
Yohana juga berpesan agar pengelola sekolah tidak membiarkan jika guru mengerasi peserta didiknya dalam proses belajar-mengajar.
 
"Kepada bapak ibu guru, jangan ada kekerasan fisik, guru memukul anak sudah tidak boleh terjadi di sekolah, kalau ada guru yang memukul muridnya akan berhadapan dengan hukum, karena itu sudah ada di undang-undang," katanya.
 
Tugas guru, kata Menteri, hanya memberikan ilmu. Kepada anak nakal atau perilakunya tidak baik itu tugas guru untuk memperbaikinya, bukan dengan cara memukul.
 
“Orang tua saja kita larang memukul anaknya, apa lagi guru tidak boleh memukul, anak-anak tidak boleh menderita batin, tekanan itu melanggar Undang-Undang Anak apalagi kekerasan seksual,” ujarnya.
 
Ia menekankan agar anak jangan sampai mengalami kekerasan seksual. Sudah ada Undang-Undang baru 2016 yang mengatur bagi siapa yang melakukan kekerasan terhadap anak perempuan, sampai mengalami cacat atau meninggal dikenai pidana seumur hidup, dipenjara, hukum kebiri, dan lainnya.
 
“Negara sudah melindungi benar-benar, jangan main-main dengan anak-anak ini," tegas Menteri.
 
Lanjut Yohana yang mengaku warga BTN Furia, Kotaraja ini, jika ada kekerasan di Jayapura orang tua bisa melapor kepada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau kepada dirinya langsung melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
 
Dalam kesempatan itu Yohan menyerahkan sejumlah bantuan komputer dan peralatan olah raga kepada sekolah tersebut.
 
Dalam sambutan, Penjabat Wali Kota Jayapura yang diwakili Asisten II Nurjainudin Konu bersyukur karena perhatian menteri kepada sekolah di Kota Jayapura. (*)
 

Sebelumnya

Ijazah tak terdaftar, 12 siswa SMK di Kota Jayapura batal ikut UNBK

Selanjutnya

UP2KP: dana afirmatir tenaga kesehatan di Keerom sudah dibayar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua