Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kunjungan Turnbull diharapkan bisa cari solusi Manus
  • Senin, 10 April 2017 — 14:52
  • 558x views

Kunjungan Turnbull diharapkan bisa cari solusi Manus

Kunjungan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull ke Papua Nugini yang penuh dengan kontroversi itu tetap menyalakan api harapan bagi ratusan pengungsi yang masih berada di kamp penampungan pulau Manus.
Pertemuan bilateral antara Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull dan Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neill di Port Moresby/RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Port Moresby, Jubi – Kunjungan Perdana Menteri Australia, Malcolm Turnbull ke Papua Nugini yang penuh dengan kontroversi itu tetap menyalakan api harapan bagi ratusan pengungsi yang masih berada di kamp penampungan pulau Manus.

Setelah menggelar pertemuan bilateral, kedua negara sepakat untuk menutup kamp penampungan pengungsi pulau Manus paling lambat pada akhir Oktober. Mayoritas dari 800 orang yang ditahan di pulau Manus terbukti adalah pengungsi.

Menteri Imigrasi Australia, Peter Dutton mengatakan bahwa di bawah perjanjian Manus, sebenarnya adalah tanggung jawab Papua Nugini untuk menempatkan para pengungsi. Namun, Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill menyatakan bahwa kebanyakan pengungsi di Manus tidak mau tinggal di Papua Nugini. “Kami tidak mau memaksa orang yang tidak mau tinggal di sini,” ujar O’Neill.

Namun, Turnbull lebih memilih untuk fokus pada kesepakatan yang dicapai oleh kedua pemerintah. “Yang penting, kita telah berhasil menghentikan penyelundupan manusia. Seperti yang kita semua tahu, kita tengah menunggu proses penempatan kembali oleh Amerika Serikat,” ujarnya.

Staf imigrasi Amerika Serikat telah mengunjungi pulau Manus dalam beberapa pekan terakhir untuk melakukan verifikasi pengungsi yang memenuhi syarat untuk diterima di AS. Ternyata dari 800 orang, hanya sekitar 300 orang pengungsi yang memenuhi syarat dan mereka telah diambil sidik jarinya untuk keperluan verifikasi selanjutnya.

Menteri Luar Negeri Papua Nugini, Rimbink Pato mengatakan ia tidak yakin berapa orang pengungsi yang akan dipindahkan ke AS berdasarkan kesepakatan ini. “Jika mereka (AS) bisa menampung lebih banyak lagi, itu akan lebih baik,” ujar Pato.

Dari 1.500 pencari suaka politik yang datang ke Papua Nugini, sebanyak 500 di antaranya telah kembali dengan sukarela ke negeri asalnya. “Sisanya masih ada di kamp penampungan dan lebih dari 26 orang telah setuju untuk menetap di Papua Nugini,” katanya.

Berdasarkan kesepakatan, Pato menegaskan bahwa Australia yang bertanggung jawab penuh atas pembiayaan hidup para pengungsi yang dikirim ke pulau Manus. “Jadi, hingga orang terakhir masih tertinggal di kamp, hingga orang terakhir yang tidak diterima di AS atau ditempatkan di negara ketiga atau di Papua Nugini, maka Australia harus membantu untuk mencari solusi, karena ini benar-benar Australia lah yang meminta tolong,” ujarnya.

Tokoh oposisi Papua Nugini, Ben Micah mengatakan bahwa Australia sendiri seharusnya yang menyelesaikan masalah ini. “Jika para pengungsi tidak mau menetap di Papua Nugini, mengapa memperlakukan mereka seperti hewan dalam kandang?” ujarnya.

Micah juga menegaskan bahwa Papua Nugini tidak mau menjadi tanah buangan bagi orang-orang yang tidak mau tinggal dan menetap di negeri ini. “Australia seharusnya membangun kamp penampungan di wilayah mereka sendiri, untuk memproses pengungsi. Kami hanya akan menerima pengungsi yang memang mau tinggal dan menetap di negeri kami,” tuturnya.

Pembahasan tentang kamp pengungsi pulau Manus tampaknya menjadi isu paling penting dalam kunjungan Turnbull ke Papua Nugini. Hal ini menepis kekhawatiran banyak politikus Papua Nugini yang menduga kedatangan Turnbull akan mengintervensi pemilu.

Minggu (9/4/2017), kembali terjadi perkelahian massal antara 60 orang pengungsi dengan penjaga kamp karena dipicu oleh kekurangan makanan dan kualitas makanan yang buruk. Kericuhan seperti ini bukan sekali terjadi, bulan lalu juga terjadi dengan masalah pemicu seputar makanan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Departemen Imigrasi Papua Nugini bersama Badan Perbatasan Australia sangat giat mengimbau para pengungsi dan pencari suaka politik itu untuk secara sukarela kembali ke negeri asalnya di bawah program bernama “voluntary repatriation”.

Bagi para pengungsi yang mengikuti program ini, mereka yang berasal dari Libanon, Bangladesh, dan Vietnam masing-masing ditawari uang sebesar 25 ribu dolar Australia.

Tidak populer

Meski Turnbull mengutarakan kemajuan kerjasama perdagangan antar kedua negara, namun sensitivitas isu pengungsi dalam kunjungan tersebut tidak dapat dinafikan.

Ben Micah mengkritisi kedatangan perdana Turnbull ke Papua Nugini justru dilakukan menjelang pemilu dan menemui pemerintahan O’Neill yang tengah merosot popularitasnya. “Apapun yang mereka sepakati hari ini, mungkin akan berubah dalam waktu empat bulan mendatang. Saya kira, pemilihan waktu kunjungannya ini tidak tepat dan tidak sensitif terhadap keadaan politik dalam negeri Papua Nugini saat ini,” ujarnya.

Lebih buruk lagi, jurnalis Papua Nugini dilarang mengikuti konferensi pers dan tanya jawab bersama Turnbull ketika ia mengunjungi makam pahlawan Perang Dunia di Bomana.

Di pemakaman Bomana ini, ada sekitar 3.800 makam tentara Australia yang gugur dalam Perang Dunia II. Di Bomana, Turnbull sempat berhenti dan memberikan penghormatan di lima makam. Dua di antaranya yaitu makam Bruce Kingsburry dan John French. Satu lagi yaitu makam pahlawan perempuan, Sister Marie Craig. **

 

loading...

Sebelumnya

WHO: Lebih dari 30.000 penduduk Fiji alami depresi

Selanjutnya

Kaledonia Baru bersiap hadapi badai Cook

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe