PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Empat tahun Lukmen dan peresmian gedung negara 
  • Selasa, 11 April 2017 — 15:10
  • 786x views

Empat tahun Lukmen dan peresmian gedung negara 

"Empat tahun kepemimpinan Lukas Enembe - Klemen Tinal memang tak lepas dari kontroversi. Berbagai kebijakan dan sikap Pemprov Papua dibawa Lukas Enembe - Klemen Tinal selalu diperdebatkan. Baik dalam kebijakan di daerah, maupun sikap terhadap pemerintah pusat,"kata Yulius Kogoya, Warga Kota Jayapura kepada Jubi pekan lalu.
Istana zaman Enembe - Jubi
Hengky Yeimo
yeimohengky@gmail.com
Editor : Dominggus Mampioper

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi- Tak terasa pemerintahan Gubernur Papua Lukas Enembe dan wakil Gubernur Papua Klemen Tinal atau disingkat Lukmen sudah memasuki tahun ke IV masa jabatan. Hanya tinggal setahun 9 April 2018 pasangan Lukmen menyelesaikan masa jabatan sebagai orang nomor satu di Provinsi Papua.

"Empat tahun kepemimpinan Lukas Enembe - Klemen Tinal memang tak lepas dari kontroversi. Berbagai kebijakan dan sikap Pemprov Papua dibawa Lukas Enembe - Klemen Tinal selalu diperdebatkan. Baik dalam kebijakan di daerah, maupun sikap terhadap pemerintah pusat,"kata Yulius Kogoya, Warga Kota Jayapura kepada Jubi pekan lalu.

Dia menambahkan dalam hal pembangunan mungkin tidak terlalu terlihat. Namun kata dia salah satu terobosan mereka adalah memberikan 80 persen dana Otsus ke kabupaten/kota. 

"Kalau hari ini tidak ada pembangunan, pemeritah kabupaten/kota yang harus dipertanyakan. Dikemanakan dana Otsus 80 persen itu. Kalau masalah pembangunan gedung negara, saya pikir itu bukan untuk kepentingan Gubernur Pribadi,"katanya. 

Apalagi lanjut dia, Lukas Enembe hanya akan menjabat lima tahun. "Maksimal 10 tahun," katanya seraya menambahkan setelah itu Lukas Enembe tidak mungkin akan terus menempati gedung negara.

Lanjut Kogoya kalau nantinya ketika Presiden ke Papua akan menginap di gedung negara. "Saya pikir ini juga untuk kepentingan daerah. Toh kalau ada dugaan lain, ya nanti akan dibuktikan oleh pihak berwenang. Tapi satu hal positif lainnya dari Lukas Enembe, dia berani melawan kebijakan pemerintah pusat kalau itu tidak menguntungkan Papua,"katanya.

Hal senada juga dikatakan mahasiswa Universitas Kristen Ottow Geissler, Letinus Murib  masa kepemimpinan Lukas Enembe itu bagus, saat dia memimpin itu semua berjalan sesuai aturan baik dalam pemerintah.
 
"Dan dana desa itu sudah berjalan sesuai aturan yang turun langsung ke desa langsung turun ke masyarakat jadi masyarakat dapat menikmati,  dan kepemimpinan Lukas Enembe ini banyak perubahan seperti pengadaan rumah layak huni," katanya.

Dia menambahkan kepemimpinan Lukas Enembe  juga selaku pak gubernur Papua sampai ada Kartu Papua Sehat (KPS) itu satu kelebihan yang luar biasa.

Sementara itu Simon Petrus Bame Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem  Jayapura mengatakan empat  tahun kepemimpinan Lukmen sudah menunjukan kemajuan yang signifikan walaupun beberapa aspek belum terasatasi. 

"Namun secara keseluruhan sudah menunjukan kemajuan di Provinsi Papua. Misalkan Dinas Kesehatan Papua sudah menunjukkan atau menterjemahkan Visi Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera. Dengan  membentuk Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP) di mana dengan cepat mengatasi masyarakat yang sakit,"katanya.

Dia menambahkan angka kemiskinan berkurang semenjak 2014. "Adanya keberanian Gubernur Enembe dalam mengambil keputusan menjadi tuan rumah PON 2020. Keberanian Gubernur Papua  memberikan Otsus 80 persen ke Kab/kota se Provinsi Papua," katanya.

Kata dia PMKRI berharap agar pada Pilkada Gubernur Papua berikutnya harus memiliki keberanian seperti Lukas Enembe sebab beliu salah satu anak Papua bisa dengan berani mengancam atau melawan  kekuatan negara untuk kebaikan rakyat Papua.

Beringin dan Gedung Negara

Banyak pro dan kontra ketika pertama kali dilantik pada 9 April 2013, langsung Gubernur Lukas Enembe memerintahkan penebangan pohon beringin di depan kantor Gubernur Papua. Pasalnya kata Gubernur Papua mengganggu keindahan halaman Kantor Gubernur Papua. 

Padahal aktivis Lingkungan dari Green Peace kala itu, Charles Tawaru menyayangkan penebangan itu. Bukan di kalangan aktivis yang protes, bahkan orang nomor satu Kota Jayapura Tommy Benhur Mano menyayangkan penebangan beringin karena sedang gencar menjalankan program Jayapura hijau dengan menanam pohon.

Tepat 19 April 2013, pohon beringin yang ditanam mantan Perdana Menteri Papua New Guinea (PNG) Michael Somare pada 1976 harus ditebang. Gubernur Papua Lukas Enembe tetap menjalankan perintah penebangan pohon beringin yang saat itu menjadi tempat orang berteduh saat berkunjung ke kantor Gubernur Papua.

Selanjutnya Gubernur Papua Lukas Enembe merenovasi gedung negara atau Istana Negara yang telah dibangun sejak jaman Belanda Februari 1958. Istana Negara di bilangan jalan Trikora Dok V Atas pertama kali dibangun oleh mantan Gubernur Nederlands Nieuw Guinea Jan van Baal. Gubernur yang juga ahli antropologi kenamaan dari Universitas Leiden ini Prof Dr Jan van Baal tidak sempat menempati Istana Baru. Pasalnya Jan van Baal digantikan oleh Dr Plateel pada juni 1958. Istana Negara tahun 1958 iti tetap bertahan sampai dengan masa Gubernur Irian Barat mendiang Frans Kaisiepo pada 1965-1973. Sebelumnya Gubernur Provinsi Irian Barat Eliezer Ian Bonay 1963-1964. 

Selanjutnya Brigjen TNI Acub Zainal pengganti Kaisiepo melakukan renovasi tanpa merobah bangunan aslinya yang memiliki halaman yang luas dan banyak pohon kasuari.

Pengganti Brigjen Acub Zainal, Gubernur Irian Jaya asal Trenggalek Brigjen TNI Soetran menghijaukan seluruh tanah Papua dengan menanam pohon cengkeh termasuk kediaman Istana Negara kediaman Gubernur Irian Jaya. Mayjen Busiri hingga Izaac Hindom dan Jacob Patippi.Hanya Gubernur Irian Jaya dan Papua, Barnabas Suebu yang dua kali menempati Gedung Negara alias Istana Negara dan telah merenovasi serta menambah ruang baru.

Tahun pertama menjadi Gubernur Papua, Lukas Enembe sudah melakukan renovasi menyeluruh dengan meratakan dengan tanah gedung tua peninggalan Belanda bernama Istana Negara.

Perombakan Istana Negara juga mendapat protes karena situs sejarah Papua yang harus hilang lenyap terbawa zaman. Beringin ditebang apalagi gedung negara yang tua dimakan rayap.

Pembangunan gedung negara dilakukan di atas lahan seluas dua hektar, semuanya bernuansa ukiran Papua dari atap Honai sampai tiang-tiang bermotif tifa. Semua tiang pilar utama berbentuk tifa dan atap bagian atas berbentuk honai yang melambangkan rumah adat di Papua serta dihiasi ukiran-ukiran dari lima wilayah adat seperti Asmat dan Sentani.

Untuk ukiran Asmat dan Sentani langsung dikerjakan seniman asal Sentani dan orang Asmat. Konsep pembangunan gedung negara ini bergambar burung Cenderawasih yang sedang terbang lengkap dengan ekornya.

Gubernur Papua, Lukas Enembe saat meninjau langsung gedung negara mengaku bangga karena di era kepemimpinannya baru ada Gubernur yang bisa membangun sebuah gedung negara benar-benar bernuansa Papua.

“Dari Gubernur ke Gubernur belum ada yang bisa membangun gedung negara seperti ini. Jadi kalau ada yang menyoroti pembangunan gedung negara ini adalah orang yang keliru,”kata Gubernur Lukas Enembe sebagaimana dilansir papua today.com. (Arjuna Pademme)

Sebelumnya

Boleh bersaing, tapi jangan pakai isu Papua untuk politik

Selanjutnya

Administrasi harusnya tidak menghambat siswa

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua