Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Badai Cook serang beberapa negara di Pasifik
  • Rabu, 12 April 2017 — 11:13
  • 948x views

Badai Cook serang beberapa negara di Pasifik

Bagi negara-negara kecil yang tersebar di Pasifik, ancaman badai senantiasa menghantui. Kerusakan yang disebabkan badai dapat menghancurkan berbagai sendi negara dan proses pemulihannya berlangsung bisa sangat lama seperti terjadi di Fiji dan Vanuatu tahun lalu yang terhempas badai Winston.
Wilayah Edgecumbe di Selandia Baru terendam banjir akibat badai Cook/RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP
Features |
Kamis, 13 September 2018 | 18:55 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Kouaoua, Jubi – Bagi negara-negara kecil yang tersebar di Pasifik, ancaman badai senantiasa menghantui. Kerusakan yang disebabkan badai dapat menghancurkan berbagai sendi negara dan proses pemulihannya berlangsung bisa sangat lama seperti terjadi di Fiji dan Vanuatu tahun lalu yang terhempas badai Winston.

Kini, ancaman badai itu kembali datang dari badai Cook. Beberapa wilayah yang sudah terserang badai ini, antara lain Vanuatu, Kaledonia Baru, Tonga dan Selandia Baru. Selasa (11/4/2017) badai Cook merenggut nyawa seorang penduduk Kaledonia Baru yang berusia 73 tahun. Ia ditemukan tewas setelah dinyatakan hilang sehari sebelumnya.

Pria nahas yang berasal dari area Kouaoua ini dilaporkan tengah berada di perjalanan menuju rumah salah seorang rekannya. Namun, meningginya volume air sungai telah serta merta membawanya hanyut. Ia lalu ditemukan tewas beberapa kilometer dari tempat kejadian.

Badai Cook yang mulai menghampiri Kaledonia Baru pada Senin (10/4/2017), telah menyebabkan kerusakan di beberapa komunitas sekitar Thio, Canala, Houailou dan Kouaoua yang berada di sepanjang pantai timur. Menurut siaran radio setempat, beberapa rumah di Loyalty Islands kehilangan atapnya.

Karena serangan badai, kini pemerintah tengah berusaha mengembalikan layanan listrik yang sempat mati. Selain itu, dilaporkan bahwa setidaknya delapan orang narapidana berusaha melarikan diri dari penjara selama badai menyerang.

Begitu pula di wilayah Edgecumbe, Selandia Baru. Wilayah ini diguyur hujan lebat selama 48 jam terus menerus hingga terendam banjir. Setidaknya 1.600 warga terpaksa diungsikan karena ancaman badai belum akan berhenti. Pemerintah setempat telah menetapkan status darurat di wilayah tersebut.

Pada Rabu (12/4/2017), penetapan status darurat ini meluas hingga distrik Whakatane, Opotiki dan Kawerau. Di wilayah-wilayah tersebut, Kementerian Pendidikan telah memerintahkan agar 57 sekolah yang ada untuk meliburkan para pelajarnya dari kegiatan belajar.

Juru bicara Dinas Pertahanan Sipil, Clinton Naude mengimbau warga untuk mengevakuasi diri dan membawa serta beberapa peralatan keselamatan. “Ini adalah situasi lingkungan yang terus berubah, kami akan terus menelusuri arah gerak badai Cook dan seluruh warga harus selalu waspada,” ujarnya.

Pemerintah setempat telah mengatur laju air di bendungan Matahina untuk mencegah dampak kerusakan yang lebih parah. Aliran listrik di daerah itu masih belum pulih akibat serangan badai Debbie pekan lalu dan kini datang lagi badai Cook.

Departemen Pertahanan telah mengirimkan 23 tentara untuk membantu proses evakuasi di Edgecumbe. Komodor Udara, Kevin McEvoy mengatakan bahwa Angkatan Darat juga telah membantu dengan mengirimkan dua truk dan dua kendaraan lainnya untuk keperluan darurat di Whakatane.

Badan Meteorologi Selandia Baru memperkirakan badai Cook kali ini akan menjadi badai terburuk yang melanda negara itu sejak tahun 1968 ketika mereka dihantam badai Giselle. Saat itu, badai menenggelamkan sebuah kapal ferry Lyttelton-Wellington “Wahine”. Peristiwa yang disebut sebagai bencana maritime terburuk sepanjang sejarah itu menelan 50 korban nyawa.

Pemulihan di Vanuatu

Sementara, Vanuatu hingga saat ini masih berjuang bangkit dari serangan badai Cook yang telah lebih dulu menghantam negara itu. Badai Cook kategori 2 yang terjadi pekan lalu di Vanuatu mengakibatkan banjir dan kerusakan infrastruktur serta perkebunan utamanya di Efate.

Departemen Perencanaan dan Penelitian, Peter Korisa mengatakan bahwa kebanyakan warga kini telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan rumah mereka dari lumpur bekas banjir. Pihaknya juga telah menurunkan tim khusus untuk membantu proses pemulihan.

“Sejauh ini, tim kami masih mencoba untuk fokus bekerja di bawah arahan otoritas provinsi melakukan asesmen, khususnya di bidang sanitasi, infrastruktur dan pendidikan,” ujarnya.

Korisa mengatakan, meski masalah bantuan pangan menjadi hal utama bagi semua korban di semua wilayah, namun prioritasnya yaitu mengoordinasikan bantuan makanan bagi masyarakat yang terdampak paling parah.

Seusai badai ini, para petani di Vanuatu juga telah diimbau untuk menanam tanaman yang lebih tahan terhadap badai. Badai Cook pekan lalu menghantam area pertanian dan perkebunan di pulau itu, di antaranya di perkebunan Epi. Angin kencang menghancurkan perkebunan yang ditanami tanaman berakar kuat, namun juga merusak perkebunan pepaya dan pisang.

Senior di Kamar Dagang Vanuatu, Francois Kavierere mengatakan bahwa pemilihan tanaman yang tahan badai ini menjadi penting dilakukan di Vanuatu. “Ketika lahan rusak karena badai, maka kita harus mengulang lagi dari awal. Mulai saat ini kita harus arahkan agar petani menanam tanaman yang tahan terhadap badai agar ketika badai menghantam lagi, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap cadangan pangan kita,” katanya.

Kendati demikian, Kavierere menilai bahwa kerusakan lahan perkebunan akibat badai Cook kali ini tidak lebih parah dibandingkan kerusakan karena badai Pam tahun 2015 lalu. **

loading...

Sebelumnya

Obama liburan di Moorea

Selanjutnya

Susan Karike wafat, PNG berkabung

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe