Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Politik Kepulauan Marshall masih dikooptasi AS
  • Selasa, 18 April 2017 — 15:08
  • 697x views

Politik Kepulauan Marshall masih dikooptasi AS

Panggung politik Kepulauan Marshall masih sangat dikooptasi oleh kepentingan politik dan militer Amerika Serikat. Hal itu disimpulkan John Pilger, seorang pembuat film dokumenter ternama asal Australia.
Salah satu tokoh dalam film The Coming War on China karya John Pilger/RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Kepulauan Marshall, Jubi – Panggung politik Kepulauan Marshall masih sangat dikooptasi oleh kepentingan politik dan militer Amerika Serikat. Hal itu disimpulkan John Pilger, seorang pembuat film dokumenter ternama asal Australia.

Kendati banyak kerusakan yang disebabkan oleh uji coba senjata nuklir milik Amerika Serikat di kepulauan itu, namun politikus dan pemimpin negara tak mampu berbuat apa-apa karena kepentingan politik dan militer AS masih berada di atas segalanya di kepulauan tersebut.

Baru-baru ini, Pilger merampungkan sebuah film yang menggambarkan sisa-sisa kerusakan akibat uji coba senjata nuklir milik Amerika Serikat di Kepulauan Marshall. Dalam film tersebut, Pilger merekam dan mewawancarai penduduk Kepulauan Marshall yang menjadi korban akibat uji coba senjata nuklir AS.

Secara umum, film bertajuk “The Coming War on China” itu menunjukkan peran Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik. “Jadi Kepulauan Marshall berada lokasi uji coba senjata nuklir yang berlangsung setelah Perang Dunia II. Sekarang lagi-lagi mereka menjadi lokasi uji coba senjata pemusnah massal yang kemungkinan akan digunakan dalam perang lain, kali ini melibatkan China di Pasifik,” ujarnya.

Film ini juga berhasil meraih penghargaan internasional atas keberaniannya mengungkap fakta-fakta yang dialami penduduk Kepulauan Marshall akibat uji coba senjata nuklir Amerika Serikat puluhan tahun lalu. Publik dibuat mengerti penderitaan berkepanjangan akibat senjata nuklir.

John Pilger yang kini berusia 77 tahun itu dikenal sebagai jurnalis yang banyak memproduksi film dokumenter berisi kritik terhadap kebijakan luar negeri negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.  

Melalui film ini, Pilger menunjukkan bahwa kompensasi yang diberikan AS kepada warga Kepulauan Marshall sangat kurang dan tidak sebanding dengan penderitaan yang mereka alami karena uji coba senjata nuklir. Kerusakan genetis yang diakibatkan nuklir masih terasa hingga sekarang berlangsung turun temurun.

Selain itu, penduduk asli Kepulauan Marshall juga menderita karena absorpsi kebudayaan mereka oleh kebudayaan pendatang, yaitu dari AS. “Khususnya para elit. Apakah para kaum elit itu mampu mewakili kepentingan rakyat Kepulauan Marshall demi perubahan yang lebih baik? Saya tidak yakin saya punya jawabannya tapi yang pasti integrasi rezim yang didasari praktek kolonialisme AS ini telah membuat politikus di pulau ini terkooptasi oleh kepentingan AS,” tuturnya.

Seperti halnya kontaminasi senjata nuklir, tindakan AS yang menjadikan Kepulauan Marshall untuk tujuan militer telah menyebabkan pemiskinan sistemik di pulau tersebut.

Selama Pilger membuat film tersebut di Kepulauan Marshall, ia mengaku merasakan penderitaan penduduk Kepulauan Marshall yang kini mengalami kekurangan tenaga produktif karena anak mudanya sangat kurang dan melunturnya nilai-nilai tradisi mereka karena yang tua sudah mulai meninggal dunia.

Bagi Pilger yang sudah menjalani profesi jurnalis selama hampir 50 tahun itu pemiskinan sistemik yang terjadi di Kepulauan Marshall ini disebabkan oleh tereksploitasinya kekayaan alam Kepulauan Marshall.

“Infrastruktur sangat terbatas di Kepulauan Marshall. Amerika Serikat bisa saja membangunnya kembali, jika mau, mungkin akan bisa menolong penduduk kepulauan ini sedikit. Tapi, AS memilih untuk tidak membangun infrastuktur kecuali untuk kepentingan mereka. Di tengah ibu kota kepulauan, Majuro, Anda bisa buktikan bagaimana level plutonium di tubuh Anda. Sangat parah,” ujarnya.

71 Tahun

Pada 1 Maret lalu, penduduk Kepulauan Marshall menggelar aksi massa besar untuk memperingati 71 tahun sejak uji coba senjata nuklir pertama kali dilakukan Amerika Serikat di atol Bikini pada tahun 1946.

Presiden Kepulauan Marshall, Hilda Heine mengatakan bahwa ketakutan, teror dan kemarahan belum pudar dari penduduk Kepulauan Marshall meski uji coba senjata nuklir itu telah berlalu selama 71 tahun.

Aksi massa diisi dengan parade yang ditandai dengan bunyi bel sebanyak 71 kali adalah beberap aktivitas yang dilakukan masyarakat di ibu kota Majuro dalam hari libur nasional itu.

Selain itu, mereka juga menggelar konferensi besar bertajuk “Warisan Nuklir: Perjalanan Mencari Keadilan” yang dihadiri oleh Tony deBrum, perwakilan penduduk Kepulauan Marshall dan para ahli dari Amerika Serikat dan Jepang yang khusus datang ke Majuro untuk menghadiri konferensi.

Senator Enewetak, Jack Ading berbicara atas nama wilayah atol yang juga terdampak uji coba senjata nuklir. Ia mengatakan bahwa beberapa orang yang selamat dari evakuasi tahun 1940-an dan yang menjadi saksi hidup uji coba senjata nuklir saat itu hingga kini masih hidup dan menderita.

Secara keseluruhan, kata dia, ada 67 kali uji coba senjata nuklir yang mewariskan racun dan radiasi dalam tubuh penduduk Kepulauan Marshall selama beberapa generasi mendatang. Baru pada tahun 1979, Amerika Serikat membangun kubah Runit di Enewetak untuk menampung sampah radio aktif. Namun, kerusakan sudah terjadi dan terus berlangsung hingga kini. **

 

loading...

Sebelumnya

Anggota Militer PNG serang kamp pengungsi Manus

Selanjutnya

Australia didesak mengubah arah bantuan luar negerinya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5149x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2829x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2723x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe