Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Lembar Olahraga
  3. Panpel JWW diskualifikasi Uncen karena ketahuan pakai dua pemain “haram”
  • Jumat, 21 April 2017 — 07:54
  • 798x views

Panpel JWW diskualifikasi Uncen karena ketahuan pakai dua pemain “haram”

Kampus paling dihormati dan disegani, Universitas Cenderawasih tidak sportif serta terbukti secara sah memakai pemain haram alias bukan mahasiswa Uncen terlibat menjadi pemain dalam tim ini.
Ketua panitia JWW Cup, Alberth Yomo – Jubi/IST
Simon Daisio
simon@tabloidjubi.com
Editor : Jean Bisay

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi – Turnamen sepak bola antar perguruan tinggi se-tanah Papua, JWW Cup I 2017 harus ternoda. Menjelang babak semifinal yang akan berlangsung hari ini, Jumat (21/4/2017), salah satu kontestan dihukum panitia.

Kampus paling dihormati dan disegani, Universitas Cenderawasih tidak sportif serta terbukti secara sah memakai pemain haram alias bukan mahasiswa Uncen terlibat menjadi pemain dalam tim ini.

Ketua panitia JWW, Alberth Yomo saat dikonfirmasi Jubi, Kamis (20/4/2017) menyebutkan kedua pemain yang belakangan diketahui statusnya bukan mahasiswa Uncen adalah Hanveri C Marlisa dan Marthen B Duwith.

Alberth Yomo menginformasikan kepada seluruh tim peserta turnamen JWW Cup 2017, bahwa berdasarkan surat protes dari STT GKI I.S Kijne terhadap tim Universitas Negeri Cenderawasih (Uncen), maka panpel melalui komdis melakukan penyilidikan dokumen dari 2 pemain yg diprotes itu.

Hasilnya, kedua pemain itu tidak memiliki dokumen yang sah dan meyakinkan sebagai mahasiswa Uncen. Bahkan keduanya tidak terdata dalam bank data Dikti sebagaimana yang berlaku bagi semua mahasiswa yang terdaftar.

“Dengan demikian, komdis menjatuhkan sanksi kepada tim Uncen berupa kemenangan atas STT IS Kijne dibatalkan dan diberikan kemenangan itu kepada tim STT. Selain itu tim Uncen juga dikurangi 3 poin,” jelasnya.

Berdasarkan keputusan itu, maka Unmus Merauke yang dinyatakan sebagai runner pp pool A mendampingi Universitas Ottow dan Geissler untuk maju ke semifinal JWW Cup 2017.

Daniel Womsiwor, dosen di Fakultas Penjaskesrek Uncen mengatakan hal ini sangat disayangkan, serta membawa citra buruk.

"Pahala sebagai dosen Uncen membiarkan itu terjadi," kata Womsiwor.

Daniel menyatakan sejak tahun 2011-2013, saat dirinya menjadi pelatih Uncen yang sukses merebut piala Gubernur dan piala Presiden, pada Liga Pendidikan Indonesia, begitu teliti soal pemain dan tidak pernah ambil risiko mengambil pemain yang nota bene bukan mahasiswa aktif.

“Saya tidak pernah mainkan pemain yang statusnya tidak jelas. Kita sebagai dosen yang mengajar mahasiwa yang bayar SPP, agar pribadi kita dan institusi tidak tercoreng seperti ini,” tegasnya.

Mantan pelatih fisik tim PON Papua ini menegaskan, Uncen sebagai jenderal LPI terbukti menahan piala Gubernur dan Presiden menjadi milik Papua dan itu harusnya dijaga setiap pelatih Uncen.

“Sebagai mantan pelatih Uncen, saya tidak respek dengan kinerja orang yang tidak jujur dan setia di tanah ini,” demikian tegas Daniel Womsiwor. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Prestasi karate Papua harus kembali bangkit

Selanjutnya

Tutup turnamen Bupati Cup, Abock Busup: Yahukimo siap sumbang atlet di PON 2020

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua