Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Aktivis khawatir peleburan ke Dinkes pengaruhi kinerja KPA
  • Selasa, 25 April 2017 — 18:04
  • 1453x views

Aktivis khawatir peleburan ke Dinkes pengaruhi kinerja KPA

"Saya juga baru tahu wacana itu. Tapi kalau KPA dilebur ke dinas kesehatan, bisa saja berdampak pada program mereka. Ini tergantung pihak terkait. Kalau mereka benar-benar mau serius, saya pikir tidak ada masalah," kata mantan Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Papua itu ketika dihubungi Jubi, Selasa (25/4/2017).
Ilustrasi - IST
Arjuna Pademme
Editor : Admin Jubi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Rencana peleburan Komisi Penanggulangan HIV dan AIDS ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua dikhawatirkan berdampak pada program-program kerja lembaga itu.

Salah satu aktivis HIV dan AIDS di Papua, Julia Petra mengatakan, tidak menutup kemungkinan hal itu bisa saja terjadi. Menangani masalah HIV dan AIDS kata dia, butuh keseriusan dan niat. Tidak bisa setengah-setengah. Perlu dukungan semua pihak, terutama pemerintah dalam hal penganggaran.

"Saya juga baru tahu wacana itu. Tapi kalau KPA dilebur ke dinas kesehatan, bisa saja berdampak pada program mereka. Ini tergantung pihak terkait. Kalau mereka benar-benar mau serius, saya pikir tidak ada masalah," kata mantan Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Papua itu ketika dihubungi Jubi, Selasa (25/4/2017).

Menurutnya, Gubernur Papua, Lukas Enembe memang berkomitmen meminimalisir penyebaran HIV dan AIDS di provinsi paling timur Indonesia. Namun komitmen tersebut perlu didukung pihak yang ada dalam jajaran Pemprov Papua.

Namun kata dia, selama ini selain KPA ada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus penanganan HIV dan AIDS.

"Selain KPA, kan ada beberapa LSM yang juga bergerak dibidang HIV dan AIDS. Misalnya YPKM dan Yayasan Harapan Ibu (YHI)," ujarnya.

Sementara Direktur Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) Papua, Tahi G Butarbutar mengatakan, ia tidak bisa berkomentar terkait hal itu.

"Alangkah baiknya tanyakan kepada pihak KPA Papua langsung atau Dinas Kesehatan Papua. Kalau saya tanya hal yang lain saja," katanya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua mengklaim, telah menemukan sebanyak 26 ribu lebih kasus baru penderita HIV dan AIDS tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dari temuan setahun sebelumnya yang mencapai 25.125 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Drg Aloysius Giyai mengatakan, jumlah yang baru terdata ini adalah pengidap lama. Meski demikian, secara umum tren laju epidemi HIV dan AIDS di Papua sudah mulai menurun.

Daerah yang terdapat temuan kasus baru antara lain, Jayawijaya, Merauke, Nabire, Kota Jayapura dan Mimika. Angka temuan kasus baru terbanyak di Mimika dan Jayawijaya. (*)

loading...

Sebelumnya

Petugas senang DPRP-UP2KP sidak ke RSUD Abepura

Selanjutnya

Ini tanggapan Direktur RSUD Abepura terkait kelangkaan obat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe