Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bomberai
  3. Populasi penyu di Kaimana nyaris punah 
  • Rabu, 26 April 2017 — 08:28
  • 1086x views

Populasi penyu di Kaimana nyaris punah 

“Terjadi penurunan jumlah penyu secara drastis. Salah satu contoh penyu belimbing tahun 2008 ada sekitar 15.000 sarang per tahun, menurun jadi 2.000 sarang per tahun di tahun 2011. Tahun lalu tercatat hanya ada 1.500 sarang per tahun,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Jubi di Sorong, Selasa (25/4/2017). 
Pemaparan hasil survei penyu di Kaimana tanggal 18 April 2017 – Jubi/IST
Florence Niken
gendis2005.soebroto@gmail.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sorong, Jubi – Pusat Penelitian Sumberdaya Perairan Pasifik (P2SP2) Universitas Papua menyebutkan populasi penyu di Kaimana, Papua Barat nyaris punah. 

Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di antaranya dari Indonesia. Empat dari enam penyu Indonesia ini terdapat di Papua Barat, yaitu, penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing yang pergerakannya menyebar ke Aru, Kei, Maluku Tenggara, Kaimana dan Fakfak, Papua Barat.

Pada Maret-Oktober 2016, P2SP2 melakukan penelitian tentang penyu. Survei di Teluk Etna (Lakahia dan Ombanariki) dan Pulau Venu, Kaimana menggunakan metode wawancara. Tokoh-tokoh masyarakat dan nelayan setempat diwawancarai perihal keberadaan penyu. 

Dosen Biologi Kelautan dan Konservasi Unipa, Ricardo Tapilatu mengatakan, jumlah penyu menurun karena beberapa faktor. Selain predator seperti babi, biawak, elang dan hiu, kondisi lingkungan juga sangat mempengaruhi, seperti suhu pasir yang tinggi dan air pasang.

“Terjadi penurunan jumlah penyu secara drastis. Salah satu contoh penyu belimbing tahun 2008 ada sekitar 15.000 sarang per tahun, menurun jadi 2.000 sarang per tahun di tahun 2011. Tahun lalu tercatat hanya ada 1.500 sarang per tahun,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Jubi di Sorong, Selasa (25/4/2017). 

Ancaman terbesar bagi penyu, lanjutnya, yaitu perilaku manusia. Penggunaan alat kerja nelayan seperti kail dan pancing yang ditelan penyu dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Selain itu, sampah-sampah plasik yang dimakan penyu mengakibatkannya mati. 

Penyu berperan cukup penting bagi konservasi lingkungan laut. Penyu hijau misalnya, merupakan spesies kunci yang memakan lamun, sehingga kesuburan lamun meningkat. Sedangkan penyu sisik mengonsumsi sponges, tetapi juga menjaga kesuburan sponges. 

“Kedatangan penyu untuk melepaskan telornya di pantai berpasir bisa merupakan indikator baik-buruknya lingkungan pantai itu. Hanya perairan dan pantai yang tidak tercemar serta tidak rusak ekosistemnya yang menjadi tujuan kedatangan penyu,” kata Director Marine Conservation International Indonesia, Victor Nikijuluw.

Wakil Bupati Kaimana, Ismail Sirfefa menegaskan, perlu ada sosialisasi masalah ini kepada masyarakat, sekaligus mengajak mereka untuk menjaga lingkungan dan spesies penyu.  “Masyarakat harus berhenti mengkonsumsi penyu,” katanya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Lima tahun masyarakat Kampung Go nikmati listrik gratis

Selanjutnya

Status kepemilikan tanah di Raja Ampat tidak jelas 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe