Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Pemimpin komunis: prioritas di Tibet lawan Dalai Lama
  • Senin, 03 Oktober 2016 — 06:57
  • 1471x views

Pemimpin komunis: prioritas di Tibet lawan Dalai Lama

Kementerian Luar Negeri Tiongkok tampak geram dan mengancam akan bertindak keras, setelah pemimpin spiritual Tibet berbicara di depan Parlemen Eropa, Prancis.
Dalai Lama terus memperjuangkan otonomi sejati bagi Tibet dari Tiongkok - IST
ANTARA
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:14 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 15:38 WP
Features |
Sabtu, 18 Agustus 2018 | 09:47 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Beijing, Jubi - Agenda prioritas Tiongkok atasi masalah di Tibet dengan melawan pengaruh Dalai Lama, demikian pemimpin Partai Komunis di wilayah itu.

Ia menegaskan, semua kegiatan biksu itu akan dianggap "pemberontakan" dan "merongrong".

Kementerian Luar Negeri Tiongkok tampak geram dan mengancam akan bertindak keras, setelah pemimpin spiritual Tibet berbicara di depan Parlemen Eropa, Prancis.

"Pertama, kami akan meningkatkan perlawanan terhadap pengaruh Dalai Lama, hal itu merupakan prioritas tertinggi dalam isu etnis di Tibet, sementara misi jangka panjangnya, memperkuat kesatuan etnis di wilayah tersebut," kata sekretaris partai di Tibet, Wu Yinjie dalam pidato yang diterbitkan harian pemerintah, "Tibet Daily", Jumat (30/9).

"Kita harus menentang aksi reaksioner Dalai Lama ke-14, melawan segala kegiatan separatis dan subversif, serta menghapus akar pengaruhnya yang membahayakan kesatuan etnis," kata Wu.

Penghormatan masyarakat terhadap Dalai Lama dilarang di Tibet, sejak dia melarikan diri dari Tiongkok pada 1959 karena pemberontakan yang gagal. Meski secara diam-diam, banyak warga Tibet memuja sosoknya dan memajang fotonya di rumah.

Pemerintah menyangkal kritik dari pegiat HAM dan para pelarian politik. Mereka menilai pemerintah Tiongkok membatasi hak religius dan budaya warga Tibet.

Namun pemerintah berdalih pihaknya telah menyejahterakan rakyat tertinggal di Tibet. Masalah lain pemerintah Tiongkok di Tibet diantaranya, kemiskinan, hambatan bahasa, dan program pembangunan yang tak sesuai dengan tradisi pengembala.

Rakyat Tibet sempat diakui sebagai kelompok minoritas Tiongkok pada 1956, dan mendapat jaminan perlindungan hukum atas bahasa serta budayanya.

Namun, mereka kerap dipinggirkan dan dicurigai otoritas di Beijing yang beranggapan rakyat Tibet berpotensi separatis.

Otoritas menilai, pembelajaran bahasa Mandarin bagi kelompok minoritas mampu menjamin kesatuan nasional serta membuka peluang ekonomi.

Akan tetapi, ada semacam penolakan terhadap pembelajaran bahasa Mandarin untuk sekolah di Tibet. Masyarakat setempat khawatir, pemerintah mengasimilasi budayanya. Namun, pemerintah Tiongkok menyangkal dugaan tersebut.(*)

loading...

Sebelumnya

Sejuta perempuan miskin Inggris sering dilecehkan

Selanjutnya

Abbas dan Netanyahu bersalaman di pemakaman Shimon Peres

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe