Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Antara sepak bola dan musik di Tanah Papua
  • Jumat, 28 April 2017 — 17:40
  • 2232x views

Antara sepak bola dan musik di Tanah Papua

Dalam sejarah sepak bola di Papua, olahraga ini selalu mendapat dukungan dari pihak mana pun, baik pemerintah maupun swasta dalam berbagai hal, mulai dari fasilitasnya hingga gaji pemain yang nilainya sangat fantastis dan menggiurkan.
Emanuel Giyai (kanan) bersama dua pemusik dari Black Brother di taman Imbi Jayapura – Jubi/Abeth You
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

(Sebuah catatan hati detik-detik bergulirnya Liga 1 Indonesia 2017)

Oleh: Emanuel Y. Giyai
 
SEPAK BOLA dan musik adalah dua sisi mata uang koin yang tak dapat dipisahkan dalam sejarah dan keseharian orang asli Papua (OAP) dalam tempo yang lama dan mengakar. Keduanya kadang diidentikkan dengan jati diri OAP. Jika berbicara harga diri berarti apa pun menjadi taruhan demi meraihnya, tanpa mengedepankan segala sesuatu yang mengikat, baik kesibukan pribadi hingga kepentingan yang kompleks, karena menyangkut sesuatu yang nilainya tak bisa digantikan oleh apa pun sekali pun miliaran. 

Berbicara soal sepak bola, selalu saja ada banyak istilah tentang olahraga yang satu ini di Papua. Banyak yang mengatakan bahwa Papua adalah ‘gudangnya’ pesepakbola Indonesia, masa depan sepak bola Indonesia, dan banyak istilah sesuai versi masing-masing penggemarnya. 

Dalam sejarah sepak bola di Papua, olahraga ini selalu mendapat dukungan dari pihak mana pun, baik pemerintah maupun swasta dalam berbagai hal, mulai dari fasilitasnya hingga gaji pemain yang nilainya sangat fantastis dan menggiurkan.

Olahraga ini berkembang sangat pesat di Papua, dengan munculnya klub-klub di setiap daerah yang tersebar sejak lama dan dalam waktu yang singkat. Salah satu klub di Jayapura yaitu Persipura Jayapura (namanya berganti beberapa kali) bangkit dan disulap menjadi klub ternama dan disegani di tanah air dan Asia.

Persipura pun menjadi klub idola dan incaran, bukan hanya bagi setiap anak Papua yang ingin memilih masa depannya sebagai pesepak bola, melainkan juga dari daerah lain di Indonesia, sehingga tidak menjadi sebatas olahraga. Namun, di sana harga diri dan martabat orang Papua dipertaruhkan. Kini nama Persipura menjadi abadi dan melegenda dalam setiap benak orang Papua.

Lainnya yang tidak kalah dan menjadi nafas hidup orang Papua adalah musik. Beberapa waktu yang lalu dalam suatu launching album rohani ‘Highland Praise Papua’ dari sahabat kita yang berasal dari Pegunungan Tengah Papua, di antaranya Albert Yigibalom, Ennys Kogoya Oaganak dan kawan-kawannya yang didukung penuh Bapak Befa Yigibalom (Bupati Lanny Jaya saat itu) di GOR Cenderawasih APO, Kota Jayapura. Presiden GIDI, Pdt. Dorman Wandikbo mengatakan, “Orang Papua adalah musik, ketika mendengar bunyi musik yang dimainkan tetangga, mereka akan goyang-goyangkan kepala. Itu tandanya dalam diri setiap orang Papua mengalir darah musik.”

Berawal dari album ‘Mambesak’ bersama Arnold Ap, dkk. hingga pada akhirnya dikolaborasikan oleh ‘Black Brothers’ (BB) dengan musik modern unik yang dikomandoi Bung Andy Ayamiseba kala itu, musik hadir menjadi sebuah napas dan urat nadi orang Papua yang merasa sedang hidup dalam kegelapan yang berkepanjangan. Dari album ke album yang diluncurkan Black Brothers mampu menghipnotis pencinta musik tanah air hingga ke negara-negara Pasifik, bahkan Eropa dan akhirnya menjadi band legendaris Tanah Papua. Sehingga memang benar bahwa sepak bola dan musik adalah dua sisi koin yang tak dapat dipisahkan bagi orang Papua sekalipun langit terbelah. 

Beberapa hal yang menjadi catatan pribadi dalam perjalanan perkembangan keduanya adalah sepak bola berkembang baik, sepak bola menghibur (walau sesaat), sepak bola mahal nilai jualnya, sepak bola adalah jati diri suatu suku bangsa, sepak bola banyak pendukung (sponsor), miliaran bukan ukuran untuk sepak bola demi jati diri dan lain-lain.

Tak kalah dengan musik yang juga adalah jati diri orang Papua yang selalu berusaha diangkat penggiat musik tanah ini dalam berbagai kesempatan dari waktu ke waktu dan berusaha meyakinkan dari hati ke hati, tetapi terkesan kurang terlihat oleh para pencinta dan penggemarnya. Dari sekian banyak keunggulannya, musik akan hidup selamanya sepanjang dunia elektronik belum lenyap dari muka bumi. Misalnya, saya mengenal lagu Hari Kiamat (Black Brothers) sekitar tahun 2000-an saat di bangku SD kelas VI di Mowanemani (sekarang Kabupaten Dogiyai) yang ternyata lagu tersebut di-record beberapa tahun sebelumnya dan tersebar di seluruh pelosok tanah air dan masih terdengar hingga kini dan menjadi abadi walau beberapa personel dari grup band ini telah tiada. 

Berbeda dengan sepak bola yang ditonton hari ini, pulang ke rumah langsung lupa pemain hingga gaya bermainnya yang pada akhirnya hanya tahu siapa yang menang dan siapa yang kalah serta skor akhirnya yang mana di akhir kompetisi yang tersisa hanyalah siapa juaranya. Lupa semuanya tentang satu musim yang sudah berjalan.

Jika keduanya adalah penting dan merupakan jati diri orang Papua, di era Otonomi Khusus (Otsus) yang sudah berjalan kurang lebih 16 tahun ini semestinya sepak bola maupun musik mendapatkan segala fasilitas dan sponsor yang sama demi mengangkat jati diri orang Papua. Semoga! (*)

Penulis adalah pemusik pemula dari Meepago dan staf pada Dinas Kesehatan Provinsi Papua, tinggal di Dok II Jayapura.

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

PSK Anak dan HIV di Jayapura

Selanjutnya

Ironi WPFD 2017 : Standar ganda kebebasan pers di Indonesia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe