Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Kelompok jurnalis Timor Leste dan SEAPA dukung kebebasan pers di Papua
  • Selasa, 02 Mei 2017 — 19:06
  • 2888x views

Kelompok jurnalis Timor Leste dan SEAPA dukung kebebasan pers di Papua

"Sebagai SEAPA kami hendak menegaskan solidaritas kami dan akan mendukung kerja-kerja bersama yang dapat kita lakukan ke depan untuk meyuarakan kasus-kasus di West Papua ke tingkat regional,” ujar dia.
Ed Legaspi, Direktur Eksekutif South East Asia Press Alliance (SEAPA) memberi solidaritas untuk kebebasan pers Papua di acara Free Press in West Papua, Hotel Century Park, Jakarta, Minggu (30/4/2017) – Jubi/Zely Ariane
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Jurnalis independen, para pembela HAM dan organisasi pro kebebasan di Timor Leste menyerukan badan-badan internasional agar memprioritaskan keamanan jurnalis Indonesia. Mereka juga menyoroti kurangnya kebebasan media di West Papua meski Presiden Jokowi disebut-sebut menjanjikan pers bebas di wilayah Papua.

Seiring Hari Kebebasan Pers Sedunia yang saat ini sedang berlangsung di Jakarta, Asia Pacific Report Selasa (2/5/2017), dalam situsnya melansir sekitar 30 kelompok di Timor Leste yang terdiri dari jurnalis, pembela HAM dan anggota-anggota Timor Papuan Connection, menuntut UNESCO agar melindungi kegiatan jurnalisme independen.

Dalam pernyataan persnya mereka menekankan jurnalis independen di Indonesia kerap membahayakan hidupnya demi menuliskan laporan jurnalistik. Mereka juga mengalami intimidasi dan ancaman kekerasan sehari-harinya.

“Para fotografer di Indonesia kerap berhadapan dengan ancaman dan mengalami perusakan alat-alat foto, intimidasi dan kekerasan saat melaporkan dari lokasi peristiwa.”

Celestino Gusmāo Pereira, mewakili kelompok tersebut secara khusus meminta perhatian atas pentingnya media yang independen dan berkualitas untuk memajukan kesadaran masyarakat, dan menyuarakan ketidakadilan politik dan sosial.

“Jangan lupa, kami di Timor Leste masih menunggu pertanggungjawaban Indonesia atas pembunuhan Balibo Five dan Roger East di tahun 1975, serta Agus Muliawan dan Sander Thoenes di tahun 1999,” ujarnya.

Dikatakan meski sudah ada saksi-saksi dan barang bukti, tetap saja para pembunuh wartawan tersebut tidak dibawa ke mekanisme peradilan, ujar kelompok tersebut.

Mereka juga menyoroti kurangnya kebebasan media di West Papua, “meskipun ada perbaikan pasca jatuhnya Soeharto pada Mei 1998, namun pemerintah masih saja melakukan pembatasan serius terhadap para jurnalis di sana,” ujar Pereira.

Solidaritas SEAPA

Terpisah, pada sambutan di acara Malam Budaya Kebebasan Pers untuk Papua yang diselenggarakan di Century Park Hotel, Jakarta, Minggu (30/4), Ed Legaspi, Direktur Eksekutif South East Asia Press Alliance (SEAPA), menekankan pentingnya kebebasan pers di Papua.

SEAPA adalah jaringan yang terdiri dari tiga belas anggota dari tujuh negara yang berkaitan dengan advokasi media.

“Saya mewakili anggota jaringan menyatakan solidaritas saya terhadap para jurnalis di Papua dan kebebasan media di Papua sangat penting bagi SEAPA,” ujarnya di sela-sela sambutan acara Panggung Budaya Papua Side Event yang diselenggarakan oleh tujuh kelompok pemerhati Papua.

Di Asia Tenggara, menurut SEAPA Indonesia sebetulnya memiliki pers yang cukup bebas dibanding negara-negara tertentu lainnya yang lebih buruk seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam dan Laos yang sepenuhnya di bawah kontrol  pemerintah.

Namun terkait ketiadaan kebebasan pers di West Papua, Legaspi mengibaratkan ada kepal tangan yang disodok ke tenggorokan sehingga Papua tidak bisa bersuara apa adanya.

“Atas situasi itulah, sebagai SEAPA kami menegaskan solidaritas kami dan akan mendukung kerja-kerja bersama yang dapat kita lakukan ke depan untuk meyuarakan kasus-kasus di West Papua ke tingkat regional,” ujar dia.

Ed Lagaspi yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pers tersebut mengajak para hadirin untuk meneruskan perjuangan kebebasan pers di Papua.

“Tetap kuatlah dalam perjuangan kalian, kami akan berusaha mendukung semaksimal yang kami bisa,” ujarnya.

Selasa, 2 Mei malam ini diselenggarakan diskusi publik yang menyoroti situasi pers di Papua dengan pembicara dari pendiri Tabloid Jubi, Victor Mambor; pimpinan Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid; dan Direktur Pacific Media Centre di Auckland University of Technology, Profesor David Robie.

Sebanyak 1500 orang telah terdaftar mengikuti acara resmi World Press Freedom Day tahun ini di Jakarta, yang dituanrumahi oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Dewan Pers, dari tanggal 1 hingga 4 Mei 2017 di Balai Sidang Jakarta.(*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

University of Rhode Island jajaki kerjasama dengan Papua

Selanjutnya

Kasus pemukulan wartawan dilapor ke Propam Polda Papua 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe