Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Ongohbete dan Nenandubete: minyak kayu putih di Kampung Wasur
  • Kamis, 04 Mei 2017 — 16:31
  • 2389x views

Ongohbete dan Nenandubete: minyak kayu putih di Kampung Wasur

Hari ini adalah hari kedua saya di Kampung Wasur pada 12 April 2016. Saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur, Tobias Gebze. Saya melihat dari depan rumahnya mama-mama berkumpul di rumah panggung persis di belakang rumah Tobias. Sambil melambaikan tangan saya meminggirkan motor untuk menemui mereka. Seorang mama yang menuntun anaknya bersuara kecil, “Dong (mereka) sedang memasak daun kayu putih,” ujarnya singkat. Saya semakin penasaran karena dari pinggir jalan saya sudah melihat mesin berwarna silver berdiri di panggung berbahan semen di ujung bangunan rumah panggung. 
Para mama dari kelompok kayu putih Nenandubete sedang menimbang daun minyak kayu putih yang mereka bawa untuk siap disuling – Jubi/I Ngurah Suryawan
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Penulis    : I Ngurah Suryawan

Mereka akan tidur beralaskan daun-daun kayu putih di atas tikar. Harumnya daun-daun kayu putih ini memenuhi seluruh ruangan. Lalu melekat di badan. 

Hari ini adalah hari kedua saya di Kampung Wasur pada 12 April 2016. Saya menuju ke rumah Kepala Kampung Wasur, Tobias Gebze. Saya melihat dari depan rumahnya mama-mama berkumpul di rumah panggung persis di belakang rumah Tobias. Sambil melambaikan tangan saya meminggirkan motor untuk menemui mereka. Seorang mama yang menuntun anaknya bersuara kecil, “Dong (mereka) sedang memasak daun kayu putih,” ujarnya singkat. Saya semakin penasaran karena dari pinggir jalan saya sudah melihat mesin berwarna silver berdiri di panggung berbahan semen di ujung bangunan rumah panggung. 

Saat saya memasuki rumah panggung saya disapa Tobias Gebze bersama mama-mama yang lain. Dari depan rumahnya saya melihat dua mama yang membawa karung putih besar berisi daun-daun kayu putih. Dua karung besar itu kemudian ditimbang oleh mama yang lain dan disaksikan oleh Tobias Gebze sendiri. Perlahan setelah selesai ditimbang, ia mulai mencatat jumlah dari daun kayu putih tersebut. Tempat “memasak” (penyulingan) daun kayu putih baru mulai persiapan awalnya pada tahun 2013 dan mendapatkan bantuan alat penyulingan dari Dinas Kehutanan pada awal tahun 2015. Usaha ini bukan yang pertama di Kampung Wasur karena yang memulai usaha penyulingan ini adalah Emiliana Gebze yang kemudian membentuk kelompok sendiri bernama Ongohbete--bahasa Marori Mengey—artinya untuk kebaikan kita. Sementara kelompok yang dikoordinir Tobias Gebze sendiri bernama Nenandubete--bahasa Marori Mengey—artinya untuk kita sendiri. Dua kelompok penyulingan daun kayu putih untuk menjadi minyak inilah yang berada di Kampung Wasur dan mulai berkembang mengikuti kelompok-kelompok lain di Kampung Yanggandur dan Rawa Biru. 

Tobias Gebze menuturkan, daun kayu putih sudah diketahui sejak dahulu kala oleh nenek moyang marga Marori Mengey yang berkhasiat untuk menghangatkan badan. Dalam bahasa Marori Mengey pohon kayu putih sendiri secara umum dinamai Ru. Dari penuturan tetua Marori Mengey kepada Tobias, daun kayu putih biasanya digunakan nenek moyang untuk menyegarkan badan-badan yang sakit sehabis berburu atau bekerja di tengah hutan. Cara yang dilakukan adalah daun-daun kayu putih ini biasanya akan diletakkan di atas tempat tidur, biasanya di atas tikar-tikar. Mereka akan tidur beralaskan daun-daun kayu putih di atas tikar tersebut. Harumnya daun kayu putih sudah terasa di dalam ruangan dan kemudian melekat di badan. Keesokan harinya jika bangun tidur badan terasa lega karena uap-uap naik ke badan saat tidur dan meresap dengan baik. Hal itulah yang menyebabkan badan terasa segar. Cara lain yang dilakukan adalah mandi dengan air daun kayu putih. Cara ini lebih segar lagi karena air dan aroma daun kayu putih langsung meresap ke seluruh tubuh sehingga sangat bermanfaat untuk menghilangkan kelelehan. Cara-cara itulah yang dilakukan tetua suku Marori Mengey memanfaatkan daun kayu putih untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Mereka memanfaatkan langsung daun kayu putih. Namun kini generasi selanjutnya memproses kembali daun kayu putih menjadi minyak.

Tobias Gebze menjelaskan, pohon Ru (kayu putih) dan daunnya yang ada di kawasan Taman Nasional Wasur (TNW), termasuk di Kampung Wasur, Yanggandur dan Rawa Biru ada dua jenis, yaitu yang berdaun kuning dan berdaun merah. Masing-masing daun dari pohon Ru tersebut menjadi simbol dari marga Suku Marori Mengey. Pohon Ru yang berdaun kuning ini adalah salah satu simbol dari marga Gebze, sedangkan yang daunnya merah adalah milik marga Balagaize. Daun Ru yang berwarna merah ini dalam bahasa Marori Mengey disebut dengan Mor yang sering digunakan tali untuk membuat rumah/pondok. Mor ini dengan seluruh batangnya dimanfaatkan sebagai tali oleh marga Balagaize untuk membuat pagar dari kebun-kebun mereka.Tobias telah mencoba kedua daun tersebut yang menghasilkan minyak warna hijau jika “memasak” daun Ru berwarna merah dan minyak berwarna bening bagi daun yang berwarna kuning. Oleh sebab itulah seluruh masyarakat sekarang mengambil daun berwarna kuning untuk mengolahnya menjadi minyak kayu putih yang harum. 

Potensi daun kayu putih yang melimpah di Kampung Wasur dan di seluruh kampung di wilayah TNW dimanfaatkan betul oleh masyarakat. Mama-mama akan menghimpun kelompok-kelompok sendiri untuk mempersiapkan diri mencari daun kayu putih di wilayah marga mereka masing-masing. 

Dinas Kehutanan Kabupaten Merauke pun berinisitif untuk menyumbangkan mesin penyulingan untuk memproduksi minyak kayu putih. Sementara rumah panggung yang menjadi aktivitas penyulingan dibantu Yayasan Kasih Mulia, sebuah yayasan yang bekerja sama dengan Keuskupan Merauke untuk membantu usaha-usaha kecil yang dilakukan oleh umat-umatnya di Merauke.

Meskipun baru mulai beroperasi pada awal 2015, usaha dari kelompok Nenandubete terbukti berhasil menggerakkan ekonomi mama-mama di Kampung Wasur. Saya menyaksikan sendiri beberapa kelompok mama-mama menunggu taksi (angkutan umum) yang disewanya untuk mencari kayu bakar di beberapa wilayah di kawasan TNW. Sementara kelompok yang lain mencari kayu bakar di beberapa daerah di wilayah adatnya. Mereka mulai berkumpul di pingir jalan trans Papua-Merauke pukul 8.00 WIT atau pukul 8 pagi. Mereka telah menyiapkan karung-karung putih tempat daun kayu putih, makan siang sebagai bekal karena mereka baru akan meninggalkan hutan menuju kampung pada sore hari. 

Saya menyaksikan sendiri dua mama duduk-duduk di pinggir jalan menunggu rombongan lain yang lebih besar dengan taksi datang bergabung. Pada saat itu hari menginjak siang dan rombongan mama-mama yang menggunakan taksi belum juga datang. Kedua mama ini dengan sabar menunggu. Mereka harus berjalan kaki menuju hutan selama 45 menit untuk memetik daun kayu putih. Kedua mama ini menyiapkan dirinya dengan beras dan sayur yang sudah dimasak dari rumah. Beras akan dimasak di hutan sambil mencari daun kayu putih. 

Aktivitas mencari daun kayu putih bisa dilakukan tiga sampai empat kali seminggu. Usaha memasak daun kayu putih ini dirasakan sangat membantu rumah tangga mereka. Di tempat penyulingan, daun kayu putih dari mama-mama ini bisa diproses dua sampai tiga kali, tergantung daun kayu putih yang ada. 

Menurut Tobias usaha penyulingan daun Ru sekarang mulai mendapat perhatian dari mama-mama Papua. Setiap keluarga biasanya akan mengumpulkan daunnya sendiri-sendiri untuk kemudian dibawa ke lokasi penyulingan. Satu keluarga datang kemudian ditampung, ditimbang isinya untuk mengetahui berapa berat daun tersebut dan berapa liter minyak yang bisa dihasilkan. 

Tobias menuturkan dari pengalamannya bersama mama-mama yang memasak daun kayu putih, daun yang beratnya 125 kg melalui dua kali proses penyulingan untuk menghasilkan minyak. Bagi mama-mama yang siap untuk memasak yang perlu dipersiapkan selain daun kayu putih juga kayu bakar. Seluruh masyarakat di Kampung Wasur dipersilakan untuk bergabung dalam usaha penyulingan daun kayu putih tersebut. Rumah panggung dan mesin penyulingan yang ada sekarang di belakang rumah dari kepala kampung adalah milik masyarakat. 

Jika sudah menjadi minyak kayu putih, masyarakat sendiri bebas untuk menjualnya dengan harga yang bebas pula. Jika tidak mendapatkan pembeli, Yayasan Kasih Mulia yang membantu rumah panggung siap membeli Rp 100.000/liter. Namun demikian, masyarakat merasakan bahwa harga tersebut sangat rendah dan sebaliknya mereka bisa menjual lebih dari harga tersebut kepada para pembeli yang datang langsung ke Kampung Wasur. Para pembeli ini berasal dari Kota Merauke atau pembeli dari orang Tionghoa di kota yang berani membeli lebih mahal dari Rp 100.000 dan dalam jumlah yang banyak. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Perkenalkan ke masyarakat, Pertamina siapkan 1000 tabung bright gas 

Selanjutnya

PDBI bakal gelar lomba marching band 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe