Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Badai Donna akibat perubahan iklim
  • Senin, 08 Mei 2017 — 14:32
  • 1272x views

Badai Donna akibat perubahan iklim

Badai siklon yang kini tengah melanda beberapa wilayah di Pasifik disebut sebagai salah satu pertanda perubahan iklim.
Petugas dan relawan Palang Merah Vanuatu./RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:02 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 12:40 WP

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Otago, Jubi – Badai siklon yang kini tengah melanda beberapa wilayah di Pasifik disebut sebagai salah satu pertanda perubahan iklim. Badai siklon Donna yang tengah melanda Vanuatu dan kini mengarah ke Kaledonia Baru itu merupakan hasil langsung dari perubahan iklim.

Pakar iklim dari Universitas Otago, Jim Salinger mengatakan badai seperti badai Donna tergolong jarang terjadi. Badai ini juga tidak umum terjadi karena temperatur udara sekitar Vanuatu dan Kaledonia Baru masih sama dengan keadaan normal pada bulan Maret.

“Kita tidak sedang berada dalam gejala El Nino dan tidak pula La Nina, jadi Anda tidak mungkin bisa berharap temperatur akan sehangat itu, meski bisa saja terjadi. Jadi, apa yang sedang kita alami sekarang ini, saya bisa katakana bahwa pemanasan global tengah terjadi,” ujar Dr. Salinger.

Salinger lalu menjelaskan bahwa prediksi saintifik tentang badai siklon yang lebih intens dan lebih kuat dalam waktu yang lebih lama merupakan hasil dari perubahan iklim yang terjadi.

Badai Donna kini terus berlanjut dan sudah memasuki kategori lima dengan kecepatan angina hingga 300 kilometer per jam. Badai ini kini menuju arah tenggara setelah menyapu habis kawasan utara Vanuatu, merusak pemukiman, ladang dan menara pemancar sinyal telefon.

Peramal cuaca senior dari Badan Meteorologi Fiji, Steven Meke mengatakan gambar satelit menunjukkan bahwa badai belum juga melemah. “Badai ini justru menguat dibandingkan badai yang terjadi pada tengah hari. Sekarang temperatur lebih hangat, lihat saja di gambar satelit kini berubah menjadi berwarna putih, artinya awan menjadi kian gelap,” ujarnya.

Meluas

Badai Donna semula hanya berdiam di utara Vanuatu dan meluluhlantakkan provinsi Torba. Namun, kini area terdampak badai kian meluas hingga ke Sanma dan Malampa. Sementara, Kaledonia Baru sudah bersiap-siap menyambut datangnya badai Donna di provinsi yang berada di sebelah utara serta pulau Ouvea dan Lifou.

Peringatan bencana telah diumumkan di Kaledonia Baru pada pukul 2 siang, Senin (8/5/2017). Masyarakat diimbau untuk bersiap-siap menghadapi badai. Seluruh penerbangan domestik sudah dihentikan pada Senin dan seluruh sekolah diliburkan hingga paling tidak Selasa (9/5/2017).

Saluran komunikasi ke utara Vanuatu masih terhambat setelah badai merusak seluruh fasilitas pemancar sinyal serta merusak segala bangunan yang terlewati badai.

Kantor Manajemen Bencana Nasional masih terus mencoba mengumpulkan informasi korban dari wilayah terpencil di utara provinsi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun sambungan komunikasi yang berhasil terhubung dengan wilayah tersebut.

Direktur NDMO, Shadrack Welegtabit mengatakan badai kini menuju ke Barat negara itu yang berarti menuju ke wilayah Kaledonia Baru. Kekhawatiran dan ketakutan terus membayangi bagi mereka yang tinggal di area terdampak bencana. Mereka kini bahkan telah menderita karena pemukiman dan ladang perkebunan mereka juga telah hancur dirusak badai.

“Kita masih perlu kontak dengan orang-orang yang ada di pantai Barat Santo. Kita belum berhasil mengadakan kontak dengan mereka dan kita masih memonitor sistem dan NDMO masih terus mencoba mengirimkan pesan kepada orang-orang di sana tentang apa saja yang harus mereka lakukan ketika menghadapi masalah seperti sekarang,” ujarnya.

Welegtabit mengatakan bahwa pihaknya tengah berencana untuk mengirimkan sebuah tim yang akan mengunjungi area bencana segera setelah cuaca membaik. “Kita tidak bisa mengumpulkan data korban sekarang, karena sistem masih menunjukkan badai berada di Utara. Angin masih berhembus kuat di sekitar provinsi tersebut sehingga tidak aman bagi pesawat maupun perahu untuk berlayar ke wilayah tersebut,” tuturnya.

Keadaan itu membuat Welegtabit dan timnya mulai frustrasi karena tidak dapat menjangkau area bencana. Ia dan kurang lebih 300 relawan Palang Merah yang sudah siap untuk diterjunkan ke daerah bencana hingga kini hanya bisa berjaga-jaga.

Juru Bicara Palang Merah, Corinne Ambler mengatakan sumber air bersih telah terkontaminasi bahan berbahaya, ladang pertanian rusak dan fasilitas toilet rusak. “Relawan Palang Merah tidak dapat menjangkau area untuk menolong korban. Pemerintah tidak bisa mengumpulkan laporan korban, sementara cuaca masih buruk dan laut begitu ganas sehingga tidak aman bagi siapapun untuk pergi ke area bencana, makanya situasi ini sangat membuat kami frustrasi,” ucapnya.

Setidaknya kini 1.000 orang penduduk lokal telah berlindung di tenda-tenda darurat dan pusat evakuasi serta beberapa bahkan ada yang berlindung dalam gua. **

loading...

Sebelumnya

Kepolisian Solomon akhirnya dipersenjatai lagi

Selanjutnya

Rakyat Kaledonia Baru tunggu sikap En Marche terhadap referendum

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5982x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2937x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 2910x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe