TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Harapan masyarakat Desa Hula terhadap pemilu
  • Jumat, 12 Mei 2017 — 13:45
  • 1399x views

Harapan masyarakat Desa Hula terhadap pemilu

Hampir setengah dari jumlah penduduk Desa Hula di Provinsi Central tergolong sebagai usia pemilih. Terhadap pemilu nasional yang akan berlangsung tak lama lagi di Papua Nugini, masyarakat Desa Hula menuangkan harapannya.
Ilustrasi. Seorang nelayan di Papua Nugini beserta ikan hasil tangkapannya. /coraltriangleinitiative.org
Post Courier
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Hula, Jubi – Hampir setengah dari jumlah penduduk Desa Hula di Provinsi Central tergolong sebagai usia pemilih. Terhadap pemilu nasional yang akan berlangsung tak lama lagi di Papua Nugini, masyarakat Desa Hula menuangkan harapannya.

Masalah yang dikeluhkan masyarakat Desa Hula sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang dihadapi oleh penduduk desa-desa lain di Papua Nugini. Mereka mengeluhkan kondisi jalan yang buruk, pasokan listrik yang terbatas, kesempatan bisnis yang buruk dan lain sebagainya.

Seperti halnya Alu dan Vevai Ravu. Dua pria bersaudara ini bekerja sebagai nelayan. Bagi mereka berdua, laut adalah tempat mencari hidup selama ini. “Menangkap ikan adalah mata pencaharian kami; seharusnya kami memiliki mesin pembuat es batu, akses listrik dan jalan yang bagus agar mudah memasarkan hasil tangkapan kami. Inilah cara terbaik untuk memperbaiki taraf hidup kami di sini. Kami sudah meyakini ini sejak 10 tahun lalu,” ujarnya.

Para nelayan seperti Alu dan Vevai menjual hasil tangkapan mereka ke pasar desa. Jika beruntung, mereka bisa meraih 200 Kina. Mereka berdua harus bergeser ke pasar yang lebih besar di Port Moresby jika ingin mendapatkan uang lebih dari itu.

Tarif angkutan dari Hula menuju Port Moresby untuk ongkos pulang dan pergi mencapai 26 Kina. Selain itu, mereka juga harus membayar biaya es sebesar 20 Kina untuk 100 liter es dan atau 30 Kina untuk 300 liter es. Karena itu, Alu tidak pernah meninggalkan desanya.

Berbeda dengan Alu yang menjadi nelayan sejak kecil, Vevai baru bergabung menjadi nelayan setelah sebelumnya mencoba peruntungan dengan bekerja menjadi tukang kayu.

Menurut Vevai, kualitas hidup di desa tidak pernah beranjak membaik. Contohnya, pesawat televisi di desanya tidak pernah bertambah jumlahnya. Harga pesawat televisi dinilai terlalu mahal bagi penduduk desa hingga tak mampu membelinya.

Kaum muda di desa tidak pernah dianggap sebagai masa depan pembangunan. Sebaliknya, kaum muda di desa selalu diremehkan. Mereka hanya diandalkan ketika ada pertandingan olahraga dan itupun semata hanya untuk memudahkan mobilisasi massa ketika pemilu. Para kandidat mengeksploitasi suara para kaum muda ini.

Seorang janda bernama Marcia Karo mengatakan bahwa bagi penduduk desa yang memutuskan hidup di desa dan tidak pergi ke kota sangat menginginkan perbaikan iklim bisnis skala kecil. “Tolong, perbaiki jalan agar transportasi menjadi mudah,” ujarnya.

Tak berubah

Seorang sopir di desa Hula, Kila Aluvula, mengatakan bahwa ia tidak melihat perubahan sedikitpun selama lebih dari 20 tahun hidup di desa. Jalanan tetap rusak sehingga masyarakat desa sulit bepergian.

“Rumah sakit tidak memiliki obat-obatan. Anggota parlemen dari daerah pemilihan kami, Ano Pala menyumbang sebuah mobil ambulans, tapi kami harus membayar 200 Kina jika ingin menggunakannya untuk mengangkut pasien ke Rumah Sakit Umum Port Moresby,” ujarnya.

Hal serupa terjadi di bidang pendidikan. Menurut dia, tahun lalu Gubernur Kila Haoda membangun dua lantai ruang kelas untuk sekolah menengah umum dan menyumbang sebuah kendaraan jemputan sekolah. “Namun, guru-guru di sekolah dasar tidak memiliki rumah. Mereka harus membayar 100 Kina per empat malam agar bisa tinggal di rumah penduduk desa. Pokoknya, kami ingin anggota parlemen yang baru yang lebih peduli pada kami,” ujar Aluvula.

Seorang tenaga relawan, Veari Ani yang juga menjabat sebagai ketua Komite Pembangunan Hula menyatakan bahwa hampir setiap orang di desa mempertanyakan hal yang sama. “Mengapa pelayanan publik yang mereka terima tidak sesuai harapan? Kami butuh rumah sakit dengan dokternya karena populasi Desa Hula mencapai 20.000 orang. Tidak ada perubahan sejak 41 tahun lalu. Kami ingin ada pasokan listrik dan lahan peternakan yang layak,” ujarnya.

Keadaan di desa Hula itu serupa dengan desa-desa lain di sekitarnya. Seorang penduduk desa Kamali yang berdekatan dengan desa Hula, Gimana Tau mengatakan bahwa desanya tidak pernah berubah sejak 10 tahun terakhir. Hanya karena menjelang pemilu, tiba-tiba warga menerima pasokan listrik. Sementara, kondisi jalan tidak pernah berubah sejak 30 tahun terakhir.

Ada lagi Kila Gure dari Desa Papaka. Menurut dia, harapan masyarakat terhadap pemilu nasional ini dapat memperbaiki hidup mereka melalui infrastruktur yang lebih baik, dan juga akses pendidikan dan kesehatan.

Menurut seorang warga desa Irupara, Mairi Kapa, pemimpin yang baik seharusnya mau bertemu rakyatnya dan mendengar pandangan dan harapan rakyatnya. Ketika harapan itu tak terpenuhi, akhirnya warga berswadaya membangun seperti yang dilakukan di Desa Kaparoko. Empat klan adat di desa tersebut akhirnya iuran sebesar 50.000 Kina per klan untuk membangun gereja. **

loading...

Sebelumnya

Papua Nugini waspadai impor daging unggas dari Asia Tenggara

Selanjutnya

Menteri Pariwisata PNG diserang kelompok tak dikenal

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4869x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4293x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4162x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3490x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2945x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe