Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Pendidikan dan ekonomi penyebab utama kesehatan di Mamra
  • Jumat, 12 Mei 2017 — 18:28
  • 1039x views

Pendidikan dan ekonomi penyebab utama kesehatan di Mamra

“Masalah utamanya ya pendidikan dan ekonomi, kalau dari segi pendidikannya kurang maka masyarakat tersebut belum tahu bagaimana hidup sehat, membawa bayi mereka ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dan sebagainya,” katanya kepada Jubi di Kasonaweja, Rabu (11/5/2017).
Masyarakat Angreso memeriksakan bayinya di Posyandu Angreso – Jubi/Roy Ratumakin.
Roy Ratumakin
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Kasonaweja, Jubi – Kepala Puskesmas Kasonaweja dr. Pithagoras mengatakan, persoalan mendasar di Kasonaweja yang mengakibatkan banyak masyarakat jatuh sakit hingga bayi gizi buruk, karena pengetahuan tentang pentingnya kesehatan dan juga ekonomi masyarakat lemah, sehingga berakibat kurangnya pemenuhan gizi.

“Masalah utamanya ya pendidikan dan ekonomi, kalau dari segi pendidikannya kurang maka masyarakat tersebut belum tahu bagaimana hidup sehat, membawa bayi mereka ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dan sebagainya,” katanya kepada Jubi di Kasonaweja, Rabu (11/5/2017).

Selain itu, tambahnya, ekonomi masyarakat hanya bergantung pada hasil bumi. Masyarakat Mamberamo Raya pada umumnya bercocok tanam, namun belum paham tanaman mana yang bergizi untuk mereka dan juga anak-anak mereka.

“Di Kampung Angreso dua tahun lalu pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk. namun setelah kami masuk dan memeberikan pemahaman, saat ini anak-anak dan juga balita sudah tidak ada gizi buruk lagi,” ujarnya.

Dr. Pithagoras yang telah mengabdi di Puskesmas Kasonaweja enam tahun mengisahkan, masyarakat di wilayah Mamberamo Raya kebanyakan belum mengerti pentingnya kesehatan.

“Jangankan kesehatan, bayi mereka saja ada yang tidak memiliki nama dan sebagian besar orang tua mereka tidak tahu tanggal kelahiran anak mereka,” katanya.

Bidan Desa Yosephina mengatakan harus pintar-pintar berkomunikasi dengan masyarakat untuk mengetahui bulan berapa bayi-bayi tersebut lahir.

“Kalau tepuk-tepuk tangan, ada lampu-lampu dan pohon Natal berarti itu bulan Desember, untuk menentukan bulan selanjutnya itu berpatokan pada bulan Desember tersebut,misalnya kalau habis tepuk- tepuk tangan, ada lampu-lampu dan pohon Natal? Bulan depannya mati berarti bayi lahir Februari, atau kalau habis tepuk tangan, ada pohon Natal bulan depannya mati dan bulan depannya lagi mati, berarti bayi tersebut lahir Maret, begitu seterusnya,” jelas mama Yosephina sapaan, akrabnya.

Dikatakan, cara perhitungan bulan tersebut sudah turun-temurun dilakukan masyarakat setempat untuk menentukan bulan berapa bayi mereka lahir.

“Hal ini harus kami ketahui sehingga proses penanganan kesehatan seperti suntik imunisasi dan selanjutnya tidak salah, termasuk mengetahui berat badan ideal seorang bayi,” katanya.

Terkait antusias masyarakat untuk datang ke Posyandu, mama Yosephina mengatakan, perlu kerja keras untuk menghimpun masyarakat untuk membawa anak-anak mereka ke posyandu.

“Semuanya harus dipanggil dari rumah ke rumah, kalau tidak dilakukan begitu, mereka tidak akan datang, jadi kita sebagai petugas harus jemput bola,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Puskesmas Kustra nilai Satgas Kijang sangat membantu

Selanjutnya

Kadinkes Mamra: Masyarakat harus dibantu dari segala bidang

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5438x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2857x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2746x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe