Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pers mulai terancam dalam pemilu Papua Nugini
  • Senin, 22 Mei 2017 — 13:16
  • 843x views

Pers mulai terancam dalam pemilu Papua Nugini

Kebebasan pers untuk meliput pemilu di Papua Nugini mulai terancam. Dewan Pers Papua Nugini mengutuk aksi kekerasan yang menimpa kru EMTV oleh pendukung salah satu kandidat pemilu di Moresby South.
Justin Tkatchenko./postcourier.com.pg
Post Courier
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Port Moresby, Jubi – Kebebasan pers untuk meliput pemilu di Papua Nugini mulai terancam. Dewan Pers Papua Nugini mengutuk aksi kekerasan yang menimpa kru EMTV oleh pendukung salah satu kandidat pemilu di Moresby South. Ketua Dewan Pers Papua Nugini, Alexander Rheeney menyebut insiden itu tidak dapat diterima.

“Ini tidak dapat diterima dan sama sekali tidak diinginkan karena media memiliki peran penting untuk mendiseminasikan informasi tentang 3331 kandidat yang bertarung di 89 daerah pemilihan di 22 provinsi,” ujarnya.

Insiden kekerasan itu menimpa tiga orang kru EMTV, sebuah stasiun televisi ternama di Papua Nugini pada 11 Mei lalu. Korban bernama Stanley Ove Jr dan Konts Kara tengah bekerja sebagai kameraman mendampingi reporter bernama Bethanie Harriman. Saat itu, pendukung kandidat Justin Tkatchenko tiba-tiba berkata kasar pada Bethanie dan menggebuk Stanley dengan menggunakan tripod seberat 16 kilogram di bagian tengkuknya.

Para pendukung Justin ini meminta agar Bethanie dan Stanley menghapus rekaman video tentang ramainya spanduk-spanduk pemilu di sekitar Port Moresby. Setelah merekam gambar di beberapa tempat, keduanya beristirahat di South Moresby.

Saat keduanya sedang berada dalam mobil EMTV, tiba-tiba sekelompok pendukung Justin muncul dan mendesak agar para wartawan tersebut menghapus gambar video yang baru mereka ambil.

Kamera yang tengah digenggam Konts direbut secara brutal. Para pendukung Justin itu lalu menghancurkan kaca-kaca mobil kru sembari mengambil kunci mobil yang masih terpasang di kemudi.

Menurut Rheeney, Papua Nugini memiliki lebih dari empat juta pemilih dan semuanya bergantung pada media untuk mendapat informasi kritis terkait kandidat pemilu 2017, baik itu partai politik dan kebijakannya.

Media seharusnya dibiarkan meliput tanpa rasa takut seperti yang terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya. “Insiden Kamis lalu yang melibatkan kru EMTV dan pendukung kandidat tertentu ini sungguh tidak bisa diterima,” ujarnya.

Seluruh kandidat seharusnya bertanggungjawab mengatur para pendukungnya sehingga semua tindakan pendukung yang tidak pantas harus dilaporkan ke pihak berwajib.

Kepada seluruh pelaku industri media, Rheeney mengimbau agar tetap bersatu dan berani menghadapi situasi seperti ini. Sebaliknya, media diimbau untuk mendidik para pendukung dan pemilih dalam pemilu nanti agar bisa menjaga perilakunya.

“Jurnalis kami, baik itu reporter, fotografer dan kru kamera seharusnya diberi akses untuk meliput semua reli politik dan pertemuan masyarakat terkait pemilu untuk tujuan pembuatan berita,” ujarnya.

Jika kandidat atau pendukung keberatan dengan hasil liputan, mereka bisa mengontak organisasi media yang bersangkutan dan melayangkan surat keberatan atau melapokannya ke Dewan Pers. “Kekerasan bukanlah solusi dan tidak akan pernah menjadi solusi dalam pertikaian terkait peliputan media. Seluruh organisasi media memiliki prosedur terhadap para pembacanya, jadi itu langkah terbaik yang bisa ditempuh,” katanya.

Justin mengutuk

Menanggapi insiden tersebut, Justin Tkatchenko mengutuk keras penyerangan terhadap kru EMTV. Ia mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah menonton berita di televisi pada hari insiden tersebut terjadi.

“Penyerangan itu di luar kendali. Dan saya sendiri tetap pada posisi saya untuk mendukung pemilu yang bebas, adil dan aman bagi pemilih, warga dan tim media yang meliput pemilu. Semua pendukung saya yang terlibat dalam insiden tersebut sudah diserahkan kepada pihak berwajib. Saya tidak akan memperbolehkan sedikitpun konfrontasi selama periode kampanye pemilu ini,” ujarnya.

Di masa sekarang di mana pendidikan pemilih sudah makin membaik, para pemilih menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas yang baik dari para kandidat pemilu. Di saat bersamaan, paranoid di tingkat kandidat dan pendukungnya juga meningkat.

Aksi kekerasan yang dilakukan pendukung Justin ini tergolong aksi paranoid para pendukung terhadap transparansi pemilu yang ditegakkan oleh media. Manajemen Media Niugini Limited yang menaungi EMTV News menyatakan bahwa medianya akan tetap independen, imparsial dan bebas bias politik.

Selama meliput pemilu nasional, tidak ada pihak mana pun termasuk kandidat, pemilih, pemerintah maupun komisi pemilihan yang dapat mendikte media. Independensi dan integritas media tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun dari pihak-pihak tersebut.

Jika para kandidat atau pemerintah melakukan hal itu, bisa dimaknai sebagai upaya bunuh diri politik bagi mereka. **

 

loading...

Sebelumnya

Restoran di Auckland pertama sajikan masakan khas Pasifik

Selanjutnya

Perusahaan tambang AS sudah berikan uang perizinan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe