Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Perluasan eksploitasi BP Tangguh: PLN dijamin, Papua ‘dikorbankan’
  • Selasa, 23 Mei 2017 — 18:22
  • 2399x views

Perluasan eksploitasi BP Tangguh: PLN dijamin, Papua ‘dikorbankan’

“West Papua dijadikan zona pengorbanan, bagian kemanusiaan yang dikategorikan sebagai ‘belum sepenuhnya manusia’ dan racun-racun atas nama kemajuan terpaksa diterima,” kata Woodman.
Ilustrasi janji LNG Tangguh Train 3 untuk merekrut lebih banyak tenaga kerja asli Papua - IST
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Tahun lalu BP mengumumkan investasi baru massif pada fasilitas Gas Alam Cair (LNG) di Provinsi Papua Barat, yang diklaim dapat meciptakan 10,000 lapangan kerja baru. Namun pengamat West Papua dari Universitas Warwick Inggris mengingatkan hal itu hanya akan melegitimasi pendudukan Indonesia di Papua.

Kehadiran eksplorasi gas dan minyak BP dianggap bermasalah secara historis di wilayah Papua, dan saat ini dituding memperkuat kaki kembali dengan investasi barunya.

Perluasan eksploitasi Tangguh

Pada tahun 2016 lalu , seperti dilansir sputniknews.com (19/5), BP mengumumkan keputusan penambahan investasi pada Proyek Perluasan Tangguh (Train 3), dengan besaran eksploitasi gas alam cair mencapai 14,4 triliun kaki kubik.

Sebagian besar eksploitasi itu akan dijual ke PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), selain juga akan memasok kebutuhan Kansai Electric Power Company dari Jepang.

Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka kepada Antara (17/5) mengatakan PT PLN (Persero) menambah lagi pasokan LNG sebanyak 16 kargo per tahun dari Kilang Tangguh, Papua Barat selama 16 tahun dari 2020 hingga 2035.

Sebelumnya pada April 2016, PLN sudah menandatangani pasokan LNG Tangguh sebanyak 44 kargo, sehingga total pasokan Tangguh sebesar 60 kargo LNG per tahun kepada PLN. "Pasokan gas Tangguh ini pun bisa multidestinasi, sehingga bisa memenuhi kebutuhan gas pembangkit PLN di seluruh Indonesia," ujar Made.

Menanggapi perkembangan ini, Connor Woodman, peneliti Politics of Papua Project di University of Warwick, kepada Sputnik justru mengaku prihatin atas nasib orang asli Papua dalam perluasan investasi itu. Menurut dia, West Papua telah menjadi apa disebut Naomi Klein sebagai sebuah ‘zona pengorbanan’.

“West Papua dijadikan zona pengorbanan, bagian kemanusiaan yang dikategorikan sebagai ‘belum sepenuhnya manusia’ dan racun-racun atas nama kemajuan terpaksa diterima,” kata Woodman.

BP menurutnya cukup berhasil memonopoli narasi terkait Tangguh. “Mereka mendirikan badan penasehat independen, walau kita tidak tahu persis seberapa independen, namun badan itu menurut catatan lebih baik dari badan serupa yang dibentuk Freeport,” kata dia.

BP Tangguh dikatakan tidak mau mengulangi kesalahan yang mereka lakukan di Kolombia sehingga mereka lebih berhati-hati terkait pengamanan mereka, meskipun masih bekerjasama dengan militer Indonesia, ujar Woodman. Selain itu LNG lebih sedikit bersifat merusak dibanding tambang terbuka, sehingga tidak banyak diangkat oleh para pemerhati lingkungan.

Woodman mengingatkan bahwa kehadiran BP Tangguh memiliki jejak sejarah penyingkiran, dominasi dan pelanggaran HAM.

“Selama berdekade-dekade pasca referendum palsu yang kontroversial tahun 1969 puluhan ribu masyarakat tani dari berbagai tempat di Indonesia didorong menetap di West Papua, sehingga hari ini jumlahnya mungkin bisa melebihi penduduk asli,” kata Woodman.

Dia juga mengatakan, akibat investasi banyak masyarakat asli West Papua yang pergi meninggalkan tanah mereka dan ada juga yang berakhir dalam kecemburuan sosial antar kampung yang mendapat kompensasi dari BP dan kampung yang tidak.

"Tetapi masalah mendasarnya adalah kehadiran BP akan memperkuat ikatan dan kontrol rezim Indonesia di West Papua. Karena itu menjadi legitimasi kedaulatan Indonesia sekaligus menjadi masalah nomer satu bagi orang-orang West Papua,” ujarnya lagi.

Lapangan kerja bagi masyarakat asli?

Terlepas persoalan historis dan legitimasi yang bermasalah, di dalam perluasan investasi tersebut BP berjanji akan memastikan 85 persen tenaga kerja terampilnya di Tangguh adalah orang asli Papua hingga tahun 2029.

Namun hal itu masih dipersoalkan oleh masyarakat asli dari suku Kuri, Wamesa, Irarutu, Soow, Moskona, Sebiar dan Sumuri.

Menurut mereka proyek pembangunan Train 3 LNG Tangguh dinilai melecehkan nilai-nilai penghormatan dan perlindungan terhadap masyarakat hukum adat. Mereka juga menuntut keterlibatan tenaga kerja asli lebih banyak dibanding pendatang.

“Kami menuntut hak-hak kami untuk diangkat sebagai tenaga kerja dan mendapat keadilan dan pemerataan kerja, karena kami lihat justru tenaga kerja banyak datang dari luar,” kata Yohanis Ateta dalam sebuah demo yang digelar di Sorong, pertengahan Mei lalu.

Protes serupa juga dilakukan pada 26 April 2017. Ketika itu puluhan pencari kerja dan sejumlah warga memalang kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Teluk Bintuni. Penerimaan karyawan di Train 3 BP Tangguh LNG sesuai nomor surat 04/029/BUP-TB/III/2017 mereka tuding tak ditindaklanjuti. 

“Kami minta Pemda seriusi bagaimana mengatasi dan meminimalisir pengangguran yang ada di Teluk Bintuni. Ini terkait penerimaan kuota karyawan untuk BP Tangguh Train 3 harus diperjelas,” katanya. 

Pemerintah Kabupaten Kaimana dinilai belum tegas dalam merekrut karyawan masyarakat adat sebanyak 4.000 orang ke BP Tangguh.

Menurut Jan Waromi beberapa kontraktor lokal yang ingin berinvestasi pada pembangungan Train 3 LNG Tangguh juga tidak melibatkan OAP.  “Pernyataan yang disampaikan oleh direktur BP bahwa pihaknya sudah memberdayakan OAP sama sekali pernyataan kossong,” katanya.(*)

loading...

Sebelumnya

100 personil brimob Jambi ditugaskan ke Papua, amankan Freeport

Selanjutnya

Dinilai hanya untuk pencitraan diplomasi, mahasiswa Papua di Yogya tolak undangan Kemenlu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe