Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Seniman terlunta-lunta karena kerabat menteri ingkar janji
  • Kamis, 25 Mei 2017 — 13:59
  • 1022x views

Seniman terlunta-lunta karena kerabat menteri ingkar janji

Sekelompok seniman wanita berusia lanjut yang berencana melakukan tur seni budaya di Eropa nasibnya menjadi terlunta-lunta karena saudara menteri yang berjanji membiayai perjalanan mereka, ternyata ingkar janji.
Dua orang seniman wanita Kepulauan Cook memamerkan tivaivai karya mereka yang akan dipamerkan di Prancis. /RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Auckland, Jubi – Sekelompok seniman wanita berusia lanjut yang berencana melakukan tur seni budaya di Eropa nasibnya menjadi terlunta-lunta karena saudara menteri yang berjanji membiayai perjalanan mereka, ternyata ingkar janji.

Seniman wanita lanjut usia yang menamakan diri “Mamas” itu menciptakan karya seni bernama tivaivai atau hiasan dinding tradisional. Atas sponsor dari saudara perempuan Menteri Masyarakat Pasifik, Alfred Ngaro, mereka berpartisipasi dalam sebuah pameran seni di London. Selain itu, mereka juga dijadwalkan mengunjungi Arras di Prancis untuk menghormati 500 tentara asli Kepulauan Cook yang gugur dalam Perang Dunia I.

Namun, NiaVal Tali yang berkomitmen memberikan pendanaan perjalanan mereka selama tiga minggu itu ternyata tidak kunjung terbukti. Para seniman itu terlunta-lunta di London dan terpaksa bertahan hidup dengan uang bekal yang mereka bawa sendiri.

Bahkan, lebih parahnya lagi yaitu pihak hostel dimana para seniman menginap terpaksa menyandera tivaivai hasil karya mereka karena para seniman itu tidak mampu membayar tagihan selama mereka menginap di hostel tersebut.

Di Arras, mereka juga batal mengikuti acara peringatan setelah NiaVal Tali meninggalkan mereka begitu saja di hostel.

Insiden itu membuat kakak kandung NiaVal Tali menjadi malu. Seusai perjalanan budaya itu, Alfred Ngaro mengundang para seniman dan memohon maaf. Ia dan isterinya lalu menawarkan sejumlah kompensasi kepada para seniman.

Namun, mereka enggan menerima tawaran itu jika NiaVal Tali sendiri tidak memohon maaf kepada para seniman yang diterlantarkan di luar negeri. Atas hal ini, Alfred Ngaro menolak berkomentar kepada RNZI karena menurut dia, hal ini adalah masalah keluarga.

Salah seorang seniman, Ngāmata Uriaro, mengatakan bahwa awalnya Nivai Tali meminta kelompok seniman untuk berkontribusi sebesar 2.500 dolar AS per orang. Sementara, akomodasi dan makan selama perjalanan akan ditanggung oleh dirinya selaku pemberi bantuan.

Namun, kesepakatan itu berubah ketika dalam perjalanan menuju London, tepatnya ketika baru tiba di Dubai. “Nia-Val datang menghampiri saya dan mengatakan bahwa dia tidak punya uang karena tidak mendapat sponsor dari pihak manapun. Saya diminta menyampaikan pada seniman-seniman lain untuk membayar akomodasi dan makan,” ujar Uriaro.

Seniman lainnya, Ngā Tere, mengatakan bahwa ia dan empat seniman wanita lainnya yang berusia antara 58 hingga 77 tahun yang tergabung dalam perjalanan itu mengaku masing-masing hanya memiliki uang ratusan pounds.

Ketika ia mengetahui soal itu, ia berencana ingin kembali pulang saja dan enggan melanjutkan perjalanan. Namun, jadwal tiket penerbangan tidak dapat diubah dan jika mau diubah ia harus membayar lebih mahal lagi.

Selama berada di London dan Prancis, mereka mengatur uang yang tersisa dengan cara hemat. Mereka hanya membeli makanan dari toko-toko yang menawarkan diskon.

Dengan uang yang tersisa, mereka hanya bisa membayar penginapan selama satu pekan. Untuk biaya penginapan dua pekan sisanya, Nia-Val Tali menawarkan diri untuk membantu.

Namun, ternyata perwakilan New Zealand House yang datang ke penginapan untuk mengambil tivaivai hasil karya para seniman itu baru mengetahui bahwa ternyata hostel tersebut belum dibayar sehingga pihak hostel menyandera tivaivai.

Pā Ariki, seniman lainnya sekaligus salah satu cucu dari pahlawan Kepulauan Cook, mengatakan bahwa tivaivai adalah sebuah taonga dan maknanya sama dengan korowai atau jubah tradisional khas Māori. Hingga saat ini, para seniman wanita lanjut usia itu belum juga memperoleh kembali karya mereka dari pihak hostel.

Komplain

Atas tudingan ini, Nia Val Tali protes. Ia tidak terima dengan cerita para seniman wanita lanjut usia itu mengenai dirinya. Menurut Tali, para seniman wanita itu selalu complain sepanjang waktu perjalanan.

Ia mengaku tidak pernah berjanji untuk menanggung seluruh biaya akomodasi dan makan para seniman. Meski begitu, ia memang berkata bahwa ia akan berusaha untuk mencari sumber pendanaan untuk membantu mereka membayar akomodasi dan makanan selama perjalanan.

“Jika Anda seorang seniman, Anda tidak mendapat pendanaan untuk semua kebutuhan Anda. Namun, hal yang terpenting yaitu bahwa dari perjalanan itu mereka dapat membangun kredibilitas profesional mereka selaku seniman. Dan itulah persis yang mereka dapatkan, bahkan mereka mendapat lebih dari itu,” ujarnya.

Ia juga mengaku tidak pernah berjanji untuk membawa para seniman wanita lanjut usia itu untuk mengunjungi Arras di Prancis untuk menghadiri peringatan penghargaan terhadap 500 prajurit Kepulauan Cook yang gugur di era Perang Dunia I.

“Karena saya membawa wanita tua yang memiliki gangguan kesehatan dimana-mana, saya disarankan untuk tidak membawa mereka ke Arras,” tuturnya.

Namun, para seniman wanita lanjut usia itu kembali membela diri. Menurut mereka, mereka telah mengantongi surat keterangan sehat dari dokter mereka di Selandia Baru. Pilihan untuk pergi atau tidak ke Arras, jelas adalah pilihan mereka. **

 

loading...

Sebelumnya

Partai Kanak imbau pengikutnya menghadang Front Nasional

Selanjutnya

Makin banyak petani PNG bermigrasi ke kota

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 4563x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2742x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2628x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe