Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Bali NTT
  3. Radikalisme incar anak muda labil
  • Minggu, 28 Mei 2017 — 17:44
  • 2824x views

Radikalisme incar anak muda labil

Radikalisme dapat dilawan dengan mengembangkan wacana keagamaan baru dengan mengusung budaya damai," kata dosen Islamologi STFK Ledalero, Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka.
Ilustrasi . Jubi/Tempo.co
ANTARA
Editor : Syam Terrajana

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Kupang, Jubi - Akademisi dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere, Kabupaten Sika, Pater Dr Philipus Tule SVD berpendapat paham radikalisme dapat dilawan dengan mengusung budaya damai. "Radikalisme dapat dilawan dengan mengembangkan wacana keagamaan baru dengan mengusung budaya damai," kata dosen Islamologi STFK Ledalero, Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka.

"Kekuatan utama masyarakat NTT dalam membangun toleransi dan kebhinnekaan terletak pada kemampuan masyarakatnya secara turun-temurun dalam menghayati agama dan kebudayaan secara seimbang," tutur penulis buku "Identitas Muslim Pribumi NTT" itu.

Rohaniwan Katolik itu menjelaskan, secara etimologis, makna kata radikal, fundamental, fanatis, memiliki makna positif serta harus dimiliki setiap umat beragama. "Memang sebagai orang beriman kita harus menjadi radikal, kembali ke fundamen atau dasar agama yakni kitab suci, Injil, Alquran, teologi, Hadist, dan tradisi," katanya.

Menurutnya, orang yang sungguh kembali ke akar agamanya akan menghayati imannya secara benar, melihat nilai-nilai luhur dalam kebudayaan serta menolak penggunaan kekerasan. Kata-kata itu, lanjutnya, akan bermakna negatif ketika ditambah dengan akhiran "isme", menjadi radikalisme, fundamentalisme, fanatisme yang mengedepankan kekerasan dan pemaksaaan kehendak pada orang lain.

"Radikalisme, fundamentalisme, fanatisme, hingga terorisme sesungguhnya ada dalam semua sejarah agama," ujarnya lagi.

Pada sisi lain, katanya, akar radikalisme dan fundamentalisme bersumber dari persoalan ekonomi, politik, dan penafsiran yang keliru terhadap agama.

Menurutnya, jika kehadiran paham-paham tersebut tidak dibendung dengan baik maka dapat merusak tatanan hidup individu, masyarakat, organisasi, partai politik, hingga lingkungan pendidikan.

"Paham radikalisme di Indonesia telah mengintai remaja dan anak-anak muda kita yang masih labil untuk dijadikan pengikut atau anggota kelompok radikal," katanya.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah dan semua komponen masyarakat bangsa harus bersatu padu membongkar radikalisme lewat upaya-upaya deradikalisasi dengan menanamkan nilai-nilai cinta damai. (*)
 

loading...

#

Sebelumnya

Karantina Labuan gagalkan pengiriman kepiting ilegal

Selanjutnya

Mencintai lingkungan di Trihita alam

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 3048x views
Pengalaman |— Minggu, 13 Mei 2018 WP | 1205x views
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 1179x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe