Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Repatriasi gigi paus ke Fiji
  • Senin, 29 Mei 2017 — 13:32
  • 1063x views

Repatriasi gigi paus ke Fiji

Merepatriasi manusia, sudah biasa. Namun, bagaimana jika yang direpatriasi adalah gigi ikan paus?
Gigi ikan paus atau tabua./ RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Suva, Jubi – Merepatriasi manusia, sudah biasa. Namun, bagaimana jika yang direpatriasi adalah gigi ikan paus?

Baru-baru ini pemerintah Selandia Baru merepatriasi 150 gigi ikan paus ke negeri asalnya, Fiji. Gigi ikan paus yang disebut ‘tabua’ itu berhasil diamankan oleh otoritas Selandia Baru di wilayah perbatasan negeri itu selama lebih dari 15 tahun terakhir.

Meski terdengar sepele, namun tabua memiliki peran yang sangat penting dalam kebudayaan Fiji. Oleh karena itu, pemerintah Fiji meminta Selandia Baru untuk merepatriasi tabua-tabua yang diselundupkan ke Selandia Baru oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Akhirnya, dalam sebuah upacara kebudayaan yang khidmat, sebanyak 150 tabua diserahkan oleh Departemen Konservasi Selandia Baru kepada Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama di Suva pada Senin (29/5/2017) pagi.

Menurut Konvensi Perdagangan Spesies Langka Internasional (CITES), tabua merupakan satu dari 34.000 spesies yang harus dilindungi. Oleh karena itu, izin ekspor tabua tidak dapat diberikan secara mudah.

Sejak 15 tahun lalu, tabua-tabua tersebut berada dalam perlindungan otoritas Selandia Baru di bawah Hukum Perdagangan Spesies Langka di negara tersebut. Lebih dari 90 persen specimen tabua yang berhasil diamankan di Selandia Baru telah dimusnahkan.

Namun, sejak tahun 1990-an, otoritas Fiji saat itu meminta agar tabua-tabua yang berhasil diamankan itu disimpan di peti es dengan harapan suatu saat tabua-tabua itu bisa dikembalikan ke Fiji.

Salah seorang staf di kamar peti es tabua atau yang disebut tim Kahui Kaupapa Atawhai mengatakan bahwa upacara pelepasan tabua-tabua itu dilakukan pekan lalu. tujuan upacara tersebut adalah melepas tabua-tabua kembali ke Fiji dan tiba akhir pekan di Fiji.

Direktur Strategic Partnership, Joe Harawira yang ikut mengantar langsung tabua-tabua itu ke Fiji mengatakan bahwa ia sangat senang melihat tabua-tabua itu akhirnya bisa kembali ke tanah airnya. “Kami sangat paham bahwa tabua-tabua ini sangat bernilai bagi masyarakat dan tanah ini. Maka, ini adalah tanggung jawab kami untuk memastikan tabua-tabua ini kembali ke Fiji,” ujarnya.

Masyarakat Fiji biasa menjadikan tabua ini sebagai kalung yang dipakaikan kepada anggota keluarga secara turun temurun. Salah seorang ibu, Dali Jobson harus memberikan pernyataan di bagian imigrasi ketika anaknya yang berusia 13 tahun mengenakan kalung tabua sepanjang 13 sentimeter setelah ia kembali ke Fiji dari luar negeri.

Tabua tersebut diperoleh puterinya ketika masih berusia sembilan tahun dari seorang tua di desa melalui sebuah upacara formal. Oleh karena itu, keluarga mereka sangat kecewa ketika kalung tabua tersebut dilarang di bagian imigrasi bandara.

Dali mengaku sangat senang dengan adanya repatriasi tabua dari Selandia Baru ke Fiji. “Saya sangat bersyukur. Dan tentu karena mereka telah mengakui keagungan budaya dari tabua. Ketika mengetahui adanya repatriasi tabua ini, saya sebagai warga Fiji yang tinggal di luar Fiji sangat merasa nyaman,” ujarnya.

Dengan adanya repatriasi ini, ia juga berharap agar ia dapat menemukan kembali tabua milik puterinya yang ditahan di bagian imigrasi Selandia Baru.  Ia yakin, tabua milik puterinya itu ada di antara 150 tabua yang direpatriasi ke Fiji.

Pertama kali

Repatriasi gigi paus atau tabua ini merupakan peristiwa pertama kali terjadi di Pasifik atau bahkan di dunia. Kepala otoritas CITES, Wendy Jackson mengatakan bahwa ia sangat senang melakukan ini. “Dampaknya bagi konservasi, pengetahuan publik, pengertian hubungan antara manusia, budaya dan alam. Ini sangat fantastik, ” ujarnya.

John Scanlan adalah Sekretaris Jenderal CITES yang bermarkas di Jenewa. Ia sengaja terbang ke Fiji untuk menghadiri upacara repatriasi gigi-gigi paus tersebut. Scanlan mengatakan bahwa repatriasi gigi hiu tergolong peristiwa yang sangat langka dan signifikansi budaya dalam kehidupan modern sekarang ini tentu sangat luar biasa.

“Ini peristiwa yang luar biasa karena ini memadukan budaya masyarakat dan kehidupan liar yang jarang kita lihat,” tuturnya.

Repatriasi sangat penting karena banyak orang yang melewati batas internasional sambil mengenakan tabua tanpa izin. Dengan adanya repatriasi ini, menurut Scanlan, orang-orang di seluruh negara akan mengetahui makna budaya yang luhur dari tabua.

Upacara repatriasi pun tak berlangsung singkat. Ada serangkaian seminar terbatas dan pelatihan tingkat regional yang dihadiri para delegasi dari berbagai negara di Pasifik Selatan untuk meningkatkan pengetahuan publik tentang CITES dan meningkatkan implementasinya di kawasan tersebut.

Informasi yang dibahas dalam seminar di antaranya menyangkut detil kepemilikan dari masing-masing tabua yang diamankan. Data kepemilikan tabua ini juga telah dikembalikan pemerintah Selandia Baru kepada pemerintah Fiji. **

 

loading...

Sebelumnya

Australia kirim pengungsi ke Kamboja

Selanjutnya

Bank South Pacific buka kantor di Kamboja

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5150x views
Anim Ha |— Sabtu, 10 Februari 2018 WP | 2829x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2723x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe