Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Masyarakat kecewa dengan masuknya perusahaan sawit di Muting
  • Selasa, 30 Mei 2017 — 09:45
  • 1340x views

Masyarakat kecewa dengan masuknya perusahaan sawit di Muting

“Terus terang, kami sangat kecewa dengan perusahaan yang menjanjikan mempekerjakan orang asli. Kita bisa hitung dengan jari berapa orang bekerja disitu,” ujar Mahuze tanpa menyebutkan nama perusahaan tersebut.
Masyarakat di Distrik Muting saat mengikuti kegiatan peresmian Goa Maria beberapa hari lalu – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP
Features |
Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Merauke, Jubi- Masyarakat di Kampung Muting, Distrik Muting, Kabupaten Merauke-Papua mengungkapkan kekecewaan mereka, lantaran beberapa perusahaan yang membuka lahan untuk penanaman kelapa sawit, tidak melibatkan warga setempat sebagai pemilik hak ulayat.

Hal itu diungkapkan Kepala Kampung Muting, Roberthus Mahuze kepada Jubi Senin (29/5/2017). Dikatakan, saat masuk pertama, pihak perusahaan memberikan janji akan mempekerjakan pemilik hak ulayat, ketika sudah beroperasi. Namun kenyataannya hanya beberapa orang dilibatkan.

“Terus terang, kami sangat kecewa dengan perusahaan yang menjanjikan mempekerjakan orang asli. Kita bisa hitung dengan jari berapa orang bekerja disitu,” ujar Mahuze tanpa menyebutkan nama perusahaan tersebut.

Mestinya, lanjut dia, pihak perusahaan tidak mengingkari kesepakatan yang telah dibuat bersama, ketika perusahaan hendak membuka lahan untuk pengembangan kelapa sawit.

Ditanya pembayaran ganti rugi, Mahuze mengaku, bukan ganti rugi, tetapi pembayaran tali asih.  Itu sesuai kesepakatan perusahaan bersama pemilik hak ulayat.

Diharapkan kedepan perusahaan tidak ‘menutup mata’ dengan masyarakat asli Papua di Muting. Karena mereka adalah pemilik hak ulayat dan wajib hukumnya diberikan kesempatan bekerja.

Warga lainnya, Yulius Gebze mengungkapkan hal serupa. “Ya, memang kurang ada perhatian baik dari perusahaan  terhadap pemilik hak ulayat. Sehingga timbul rasa ketidakpuasan,” tegasnya.

“Betul bahwa sejak perusahaan masuk pertama, telah ada kesepakatan agar pemilik hak ulayat dilibatkan. Tetapi dalam perjalanan, hanya beberapa orang saja diterima. Sedangkan lainnya, tidak diikutsertakan bekerja,” katanya. (*) 

loading...

Sebelumnya

Jalan trans Papua harus dengan konstruksi beton

Selanjutnya

Beli hasil petani, pemkab Boven Digoel siapkan Rp8 miliar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe