Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Perempuan Tonga ingin hapuskan pernikahan dini
  • Selasa, 30 Mei 2017 — 12:52
  • 1391x views

Perempuan Tonga ingin hapuskan pernikahan dini

Ilustrasi. Pernikahan dini banyak yang berujung pada tindak kekerasan dalam rumah tangga. /AFP via RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Tonga, Jubi – Pernikahan dini masih merupakan tantangan besar di Tonga. Selama dua tahun terakhir, tercatat ada lebih dari 50 remaja yang menikah dan tergolong pernikahan dini. Tonga memperbolehkan remaja yang berusia 15 dan 17 tahun untuk menikah sepanjang mereka mendapat restu orangtua.

Hal ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam di kalangan para aktivis hak perempuan, di antaranya yaitu Vanessa Heleta. Perempuan ini aktif mengampanyekan stop pernikahan dini di Tonga melalui programnya yang disebut “Talitha Projects”. Organisasi ini muncul dengan mengusung motto : “Let Girls be Girls!”.

Menurut Heleta, pada tahun 2015, ada sekitar 56 pernikahan anak dan 52 pernikahan terjadi pada tahun 2016. Rata-rata usia mereka saat menikah yaitu 15 tahun. “Ini sangat menyayat hati saya. Menurut saya ini sama sekali tidak benar. Di zaman sekarang ini, kita seharusnya tidak mendorong dan mendukung adanya pernikahan anak,” katanya.

Melalui Talitha Projects, Heleta ingin memperluas kesempatan bagi anak-anak gadis untuk meraih cita-cita mereka. Kendala yang mereka hadapi untuk ini sangat besar. Selain dari budaya keluarga, kendala juga datang dari hukum pernikahan di Tonga yang memperbolehkan pernikahan dini.

Pada banyak kasus, pernikahan dini ini selalu didahului oleh kehamilan yang tidak diinginkan. Banyak anak-anak gadis yang sangat tertekan untuk menikah karena merasa belum siap.

Sejak pekan lalu diluncurkan, kampanye "Let Girls be Girls!" ini memang ditujukan untuk menekan pemerintah Tonga agar mencabut hukum pernikahan yang memperbolehkan pernikahan dini. Mereka menuntut agar batas usia minimal pernikahan yaitu 18 tahun. Talitha Projects ini didukung oleh Kementerian Kehakiman dan diluncurkan di Hotel Tanoa International Dateline, pekan lalu.

Undang-undang pernikahan Tonga yang memperbolehkan pernikahan di usia 15 tahun itu merupakan undang-undang yang lahir pada tahun 1926. Dengan demikian, jelas undang-undang ini sudah tidak lagi relevan dengan kehidupan modern sekarang.

Kendati demikian, Tonga sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1995 yang merupakan landasan hukum untuk melindungi hak anak-anak, termasuk hak untuk mendapat pendidikan layak, hak untuk menentukan nasibnya sendiri terkait pernikahan.

Meski dalam undang-undang disebutkan bahwa pernikahan diperbolehkan asal mendapat restu orang tua, namun pada kenyataannya banyak kasus dimana orang tua yang memaksa atau menekan anak-anak mereka agar segera menikah. “Tekanan itu datang dari orang tua agar anak-anaknya cepat menikah dengan alasan malu pada orang lain jika terlambat menikah,” ujarnya.

Oleh karena banyak kasus seperti ini, tingkat kehamilan pada anak remaja menjadi tinggi karena mereka dipaksa berada dalam institusi pernikahan. “Kita tidak boleh membiarkan ketakutan dan keterpaksaan ini menguasai akal sehat. Kita harus melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita sepanjang waktu. Hukum seharusnya merefleksikan nilai-nilai dalam masyarakat, dan hukum seharusnya melindungi wanita, pria, anak laki-laki, anak gadis dan seluruhnya,” tuturnya.

Heleta mengatakan, ia didukung oleh sekelompok anak gadis dan para ibu yang berkomitmen untuk memastikan agar seluruh anak gadis di Tonga dapat hidup maksimal dengan segala potensinya. “Ada satu pemahaman yang sama bahwa agar para gadis di Tonga menyadari potensi dirinya, mereka harus dilengkapi dengan pendidikan dan kesiapan mental menghadapi tantangan masa depan mereka,” tuturnya.

Kekerasan

Pernikahan dini tak hanya berisiko tinggi bagi sang perempuan karena adanya kehamilan di usia dini. Melainkan juga karena ketidaksiapan mental para pasangan muda dapat menggiring pada munculnya kekerasan dalam rumah tangga.

Di Tonga, penampungan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga baru diresmikan tahun lalu. Di tempat yang juga diinisiasi oleh Talitha Projects tersebut, para korban kekerasan dalam rumah tangga yang mayoritas perempuan dapat memperoleh perlindungan dan konsultasi terkait kasus yang menimpa mereka.

Selain itu, tempat tersebut juga menyelenggarakan berbagai jenis kursus keterampilan agar para korban kekerasan dapat hidup mandiri. Bahkan, secara umum tempat itu juga bisa dijadikan tempat para perempuan tak hanya korban kekerasan untuk menenangkan diri.

Menurut Heleta, setiap lapis masyarakat di Tonga memiliki tempat bersama untuk sekedar berkumpul dan mengekspresikan dirinya, kecuali bagi para wanita muda. “Para pria, seperti Anda tahu, mereka pergi dan minum kava dan ada juga memang para perempuan di sana. Tapi khusus bagi para gadis itu tidak ada. Di tempat ini, kami sediakan konseling dan berbagai informasi bagi mereka tentang kekerasan dalam rumah tangga terutama terhadap para perempuan,” ujarnya.

Berbeda dengan program “Let Girls be Girls!”, di penampungan korban kekerasan ini, Heleta mengusung motto “My Body! My Rights!”. Tujuannya agar para gadis dapat memutuskan nasibnya sendiri bebas dari kekerasan dan menikmati hak-hak dasar mereka sebagai manusia. **

 

loading...

#

Sebelumnya

Ancaman Korut tunda kepindahan marinir AS ke Guam

Selanjutnya

LSM se-Pasifik nyatakan oposisi terhadap PACER Plus

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4860x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4273x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4130x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3475x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2921x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe