Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Tanah di Boven Digoel kurang  cocok untuk areal persawahan
  • Rabu, 31 Mei 2017 — 09:08
  • 1690x views

Tanah di Boven Digoel kurang  cocok untuk areal persawahan

“Setiap kali saya ke kampung-kampung, selalu mengingatkan kepada masyarakat agar secara terus menerus mengembangkan beberapa jenis tanaman tersebut. Kalau lahan dibuka untuk areal persawahan kurang cocok,” katanya.
Masyarakat Boven Digoel saat mengikuti suatu kegiatan beberapa waktu lalu – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Merauke, Jubi - Bupati Boven Digoel, Benediktus Tambonop menjelaskan, struktur tanah di wilayah kabupaten tersebut, termasuk keras dan kurang cocok untuk dimanfaatkan sebagai areal persawahan. Tanah yang ada lebih cocok dikembangkan tanaman lain  seperti karet, kelapa sawit, kakao maupun durian.

Demikian disampaikan Bupati Tambonop kepada Jubi Selasa (30/5/2017). Menurutnya, secara umum,  masyarakat di kampung-kampung lebih banyak menanam anakan pohon karet, durian serta kakao. Khusus kelapa sawit, lebih  didominasi perusahaan swasta.

“Setiap kali saya ke kampung-kampung, selalu mengingatkan kepada masyarakat agar secara terus menerus mengembangkan beberapa jenis tanaman tersebut. Kalau lahan dibuka untuk areal persawahan kurang cocok,” katanya.

Dijelaskan, beberapa hari lalu, ia melakukan kunjungan kerja di beberapa kampung di salah satu distrik. “Ketika itu, saya begitu terkejut, karena mengetahui ada beberapa warga membuka lahan sampai 10 hektare dan menanam kakako,” tuturnya.

Dari hasil kerja keras yang dilakukan, demikian Bupati Tambonop, mereka sudah banyak kali memanen. Hanya sayangnya, tak bisa dijual keluar, karena sulit mendapatkan pasaran.

“Saya langsung perintahkan agar hasil kakao yang sudah dipanen, dijual kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boven Digoel, karena telah ada Badan Usaha MIlik Daerah (BUMD) yang siap menampung hasil petani. Berapapun jumlahnya, siap dibeli pemerintah,” ujarnya.

Wakil Bupati Boven Digoel, Chaerul Anwar beberapa waktu lalu mengatakan, lahan milik masyarakat di kampung-kampung, sangat cocok dikembangkan menanam durian maupun beberapa jenis tanaman lain.

“Kita sudah tahu jika durian Boven Digoel, menguasai pasaran di beberapa daerah termasuk Merauke. Olehnya, perlu dikembangkan dan dengan hadirnya BUMD, hasil petani dibeli petani. Jadi, tidak ada lagi tengkulak bergerilian ke kampung-kampung lagi,” tegasnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Sepuluh tokoh adat Marind temui pejabat di kementerian perhubungan RI

Selanjutnya

Pasca pelantikan pengurus baru, KNPB Merauke ditangkap 

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe