Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Taiwan tak mau kehilangan Pasifik
  • Kamis, 01 Juni 2017 — 13:43
  • 1342x views

Taiwan tak mau kehilangan Pasifik

Persaingan politik dan ekonomi antara Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di kawasan Pasifik kian memanas. Kedua negara saling berebut pengaruh dan dukungan dari negara-negara di Pasifik.
Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. /AFP via RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Taipei, Jubi – Persaingan politik dan ekonomi antara Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di kawasan Pasifik kian memanas. Kedua negara saling berebut pengaruh dan dukungan dari negara-negara di Pasifik.

Seakan tak mau ketinggalan langkah dari RRT, Taiwan berencana mendekat ke negara-negara pendukungnya di Pasifik. Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen dalam waktu dekat akan mengunjungi enam negara pendukung Taiwan pada JUli mendatang. Keenam negara yang dikunjungi yaitu negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Taiwan News melaporkan bahwa presiden mereka akan mengunjungi Kepulauan Solomon, Kepulauan Marshall, Palau, Nauru, Tuvalu dan Kiribati. Rencana kunjungan ini telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Taiwan, kemarin.

Negara-negara kepulauan Pasifik lumayan menjadi blok yang cukup signifikan di antara 21 negara di dunia yang mengakui kedaulatan Taiwan sebagai negara. Oleh karena itu, penting bagi Taiwan untuk memelihara dukungan dari enam negara di Pasifik ini.

Posisi politik Taiwan di Pasifik kian melemah. Baru-baru ini, Fiji menutup kantor perwakilannya di Taipei dan lebih memilih mendekat ke RRT. Seusai mengikuti pertemuan infrastruktur “China’s Belt and Road” di Beijing pada 17 Mei lalu, Fiji memutuskan untuk menutup kantor perwakilannya di Taiwan. Menurut perwakilan Fiji di Taiwan, itu diputuskan setelah mengevaluasi keberadaan kedutaan dan perwakilan Fiji di berbagai negara di dunia.

Sejak tahun 1975, meski menganut prinsip One China Policy (kebijakan luar negeri yang hanya mengakui Tiongkok sebagai negara berdaulat, bukan Taiwan-RED), Fiji tetap membuka kantor perwakilan dagang dan pariwisatanya di Taipei. Karena keputusan itu, politikus Taiwan, Lu Shiow-yen menuding Tiongkok sebagai dalangnya.

Sebelum itu diputuskan, Taiwan meyakinkan Fiji untuk setidaknya memiliki satu atau dua orang perwakilan negaranya di Taiwan. Namun, upaya itu gagal karena Fiji terlalu banyak dipengaruhi Tiongkok.

Padahal, selama ini kantor perwakilan dagang dan pariwisata Fiji berfungsi seperti kedutaan besar Fiji di Taiwan di tengah absennya hubungan diplomatik antara kedua negara.

Langkah serupa menjauhi Taiwan ini diikuti juga oleh Perdana Menteri Papua Nugini, Peter O’Neill. Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC, Papua Nugini terus perkuat sinyal untuk mendekati Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Dalam sebuah pertemuan dengan Duta BEsar RRT, H. E. Xue Bing, Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill menyampaikan bahwa Presiden Xi Jinping adalah satu-satunya pemimpin negara yang pertama menerima undangan untuk menghadiri pertemuan pemimpin APEC.

Seperti halnya Fiji, Peter O’Neill lalu menegaskan bahwa negaranya pun berkomitmen mendukung One China Policy yang artinya hanya mengakui Tiongkok sebagai negara berdaulat, bukan Taiwan. Pengakuan terhadap One China Policy ini dianggap O’Neill sebagai basis memperkuat kerjasama antara kedua negara.

Komitmen Solomon

Dengan langkah politik O Neill dan Bainimarama, posisi tawar politik Taiwan di Pasifik kian melemah. Berbeda dengan dua pemimpin itu, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare menyatakan bahwa ia dan negaranya akan terus mendukung Taiwan untuk mendapat pengakuan negara berdaulat oleh Perserikatan Bangsa-bangsa.

Awal tahun ini, Sogavare mendeskripsikan Taiwan sebagai kawan sejati Kepulauan Solomon bahkan ketika dilanda ketegangan etnis. Ia juga mengaku tidak takut untuk bicara membela Taiwan di forum PBB.

Sebagai kompensasi atas dukungan tersebut, Taiwan telah setuju membayari pembangunan stadion baru di Kepulauan Solomon yang akan digunakan untuk menghelat Pacific Games 2023. Selain itu, Taiwan juga berencana membangun gedung kedutaan besarnya di Honiara.

Solomon telah menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan selama 35 tahun.

 “Kemesraan” antara Sogavare dengan Tsai Ing-wen terus terjaga sejak pertemuan tatap muka pertama mereka pada Juli 2016 di Taipei. Sogavare mengunjungi Taipei selama sembilan hari dan membicarakan banyak hal terkait bantuan pembangunan pendidikan, kesehatan dan pertanian.

Jika rencana kunjungan Tsai Ing-wen jadi terlaksana Juli nanti, maka itu sekaligus akan menjadi kunjungan balasan atas kunjungan Sogavare setahun sebelumnya.

Kerjasama antara kedua negara tak terbatas di bidang politik dan infrastruktur, Taiwan juga telah mengirimkan ahli teknik ke Solomon untuk membantu petani lokal memulai pertanian komersial mereka.

Sejumlah ahli teknik dari Kaohsiung Agriculture Development Company diterjunkan ke Solomon untuk membantu para petani lokal memasarkan hasil pertaniannya melalui sistem koperasi. Melalui asosiasi petani, petani dapat menghemat uang, meminjam uang dengan bunga ringan sementara kebutuhan lainnya mendapat subsidi dari pemerintah.

Selain itu, Taiwan juga menyediakan bantuan bagi Solomon untuk membangun sarana pendidikan dan kesehatan dengan kolaborasi antara Kaohsiung Medical University Hospital of Taiwan dengan the Solomon Islands National University.

Kembali ke rencana kunjungan Tsai Ing-wen Juli nanti. Gelontoran bantuan tampaknya tidak hanya akan menjadi rezeki Kepulauan Solomon, melainkan juga bagi lima negara Pasifik lainnya yang konsisten mengakui kedaulatan Taiwan. Taiwan pasti akan melakukannya, karena Taiwan tak mau kehilangan Pasifik. **

loading...

Sebelumnya

Pengungsi Manus tolak pindah ke Lorengau

Selanjutnya

Pemerintah PNG bersiap hadapi fase El Nino

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe