Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Para pemimpin Pasifik sesalkan kebijakan iklim AS
  • Minggu, 04 Juni 2017 — 14:42
  • 1023x views

Para pemimpin Pasifik sesalkan kebijakan iklim AS

Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, memerintahkan seluruh jajarannya untuk membatalkan semua kerjasama dengan Amerika Serikat.
Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sosene Sopoaga. /RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:43 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 13:02 WP
Features |
Rabu, 21 Februari 2018 | 12:40 WP

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Tuvalu, Jubi – Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, memerintahkan seluruh jajarannya untuk membatalkan semua kerjasama dengan Amerika Serikat. Hal itu sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah AS yang menarik diri dari Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim.

“Saya telah memerintahkan seluruh jajaran saya untuk tidak lagi bicara tentang perubahan iklim dengan negara ini (AS) hingga mereka mengubah kebijakannya. Saya kira tidak masuk akal untuk berbicara tentang hal lain jika kita tidak memperbaiki keadaan karena perubahan iklim,” ujar Sopoaga dalam sebuah wawancara.

Sopoaga adalah satu dari banyak pemimpin Pasifik yang telah bereaksi terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang menarik diri dari Kesepakatan Paris. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar dan negara penghasil  polusi terbesar kedua di dunia, langkah Trump dianggap sebagai langkah yang memalukan. Apalagi, Trump berdalih bahwa keputusan itu ditempuhnya demi melindungi kedaulatan dan ekonomi AS.

Kesepakatan Paris ditandatangani seluruh negara. Dua negara penghasil polusi terbesar dunia, yaitu AS dan Tiongkok baru menandatanganinya pada Desember 2015. Keduanya terikat perjanjian untuk mengurangi emisi gas rumah kaca demi melindungi bumi dari bahaya akibat perubahan iklim yang lebih parah.

Oleh Presiden AS terdahulu, Barrack Obama, Kesepakatan Paris dianggap sebagai sinyal kuat bagi dunia untuk berkomitmen penuh terhadap masa depan yang rendah karbon. Obama pun segera menandatangani Kesepakatan Paris dan saat itu disambut oleh dunia sebagai keputusan terbaik juga diikuti Tiongkok.

Namun, 1,5 tahun kemudian, AS tak lagi berpandangan seperti Obama. Segera setelah ia terpilih menjadi presiden AS, Trump mengumumkan bahwa Kesepakatan Paris adalah perjanjian yang tidak adil bagi pelaku bisnis AS dan para pekerjanya. Ia langsung memenuhi janji kampanyenya untuk mmembatalkan Kesepakatan Paris.

Bagi negara-negara Kepulauan Pasifik yang sehari-hari terancam dengan peningkatan kenaikan tinggi muka air laut dan perubahan cuaca ekstrim, Kesepakatan Paris dianggap sebagai angin segar karena menunjukkan komitmen negara-negara besar untuk mencari solusi atas ancaman-ancaman perubahan iklim yang menakutkan bagi negara-negara kepulauan.

Salah satu negara yang ada di garis depan terhadap perubahan iklim yaitu Tuvalu. Negara ini terdiri dari sembilan atol karang tipis yang terancam kenaikan tinggi muka air laut. Karena itu, air laut kini sudah makin menggenangi dan gelombang ombak mengancam pantai, jalanan dan perumahan.

Lahan pertanian makin terancam dan pasokan air menipis karena terpenetrasi oleh air garam. Tuvalu juga menderita terhembas badai siklon Pam pada tahun 2015, badai kategori 5 yang intensitasnya terkait dengan perubahan iklim.

“Kami sangat, sangat tertekan. Saya kira pernyataan ini sudah sangat keterlaluan meluncur dari seorang pemimpin negara yang merupakan penghasil polusi terbesar di dunia dan kami sangat kecewa sebagai negara kepulauan kecil yang sudah menderita karena perubahan iklim,” tutur Sopoaga.

Mengecewakan

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, yang akan memimpin dialog perubahan iklim Perserikatan Bangsa-bangsa November mendatang mengatakan bahwa keputusan Trump ini sangat mengecewakan bagi masyarakat di negara-negara rentan.

“Saya lakukan saya saya bisa lakukan—bersama dengan pemimpin negara-negara di dunia—untuk meyakinkan presiden Trump agar tetap bersama kami bahu membahu menghadapi masalah terbesar di planet ini,” ujar Bainimarama dalam sebuah pernyataan pers.

Presiden Prancis Polinesia, Marcel Tuihani juga menyatakan kekecewaannya. “Tidak ada janji kampanye yang harus dipenuhi jika itu melanggar prinsip kemanusiaan. Kami menyesalkan atas keputusan yang diambil presiden AS karena tidak lagi mempertimbangkan nasib negara-negara kecil di Pasifik yang sangat terancam oleh dampak pemanasan global,” ujarnya.

Negara lainnya yang terancam, yaitu Kepulauan Marshall. Negara ini telah lama dijadikan AS sebagai pangkalan militer AS. Presiden Kepulauan Marshall, Hilda Heine mengatakan bahwa keputusan Trump akan berdampak besar dan membingungkan bagi negara-negara pendukungnya.

Keputusan tarik diri AS ini juga mempengaruhi pendirian beberapa negara lain yang dari awal merasa keberatan mengurangi emisi gas karbon pada tahun 2025. Ditakutkan negara-negara ini akan segera mengikuti langkah Trump.

Namun, negara-negara Pasifik tidak hilang harap. Komitmen ulang yang dinyatakan oleh Uni Eropa, India, Australia, Selandia Baru dan banyak negara lainnya telah menambah semangat bagi negara Pasifik. Bahkan, Tiongkok sebagai negara penghasil polusi terbesar di dunia menyatakan akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS.

“Saya rasa masyarakat dunia akan bangkit dan menaklukkan tantangan ini. Kita akan tetap maju dan melakukan yang terbaik dalam rangka menyelamatkan pulau ini dan dunia,” ujar Sopoaga.

Bainimarama menegaskan, dengan tarik dirinya AS, negara-negara lain akan makin solid memerangi dampak perubahan iklim. Dunia bisa tetap maju tanpa negara seperti AS yang melakukan pendekatan isolasionis dalam hal perubahan iklim. “Kita tidak usah terpengaruh dengan kebijakan AS yang sangat mundur dan terbelakang ini,” tuturnya. **

loading...

Sebelumnya

Samoa rayakan HUT kemerdekaan ke-55

Selanjutnya

Selandia Baru tolak pencari suaka dari Manus

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 5982x views
Penkes |— Senin, 12 Februari 2018 WP | 2937x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 2910x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe