Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Kemiskinan dan keterisoliran
  • Senin, 05 Juni 2017 — 10:50
  • 995x views

Kemiskinan dan keterisoliran

Akses yang buruk ini diperparah dengan minimnya infrastruktur yang bisa menghubungkan jaringan-jaringan migrasi (perpindahan orang) ke daerah tersebut. Kehadiran perusahaan di lokasi-lokasi terpencil di Bintuni belum menjadi jaminan rantai keterisoliran terputus di tengah masyarakat.
Aktivitas warga Kampung Sarbe, Distrik Kuri, Kabupaten Bintuni mencari udang dan kepiting untuk kemudian dijual ke Bintuni – dok penulis
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

Oleh I Ngurah Suryawan

Kitong tahu kitong kaya, tapi orang di luar tahu kitong miskin (Kita tahu bahwa kita kaya, tapi orang di luar mengetahui (menganggap) kita miskin)

Secara umum di kawasan-kawasan remote (terpencil) di pelosok-pelosok Tanah Papua, persoalan keterisoliran menjadi isu utama yang menyebabkan mereka terkungkung dalam belenggu keterbelakangan. Akses merupakan kata kunci dari permasalahan ini yang menyebabkan mereka bisa terhubung (terinterkoneksi) dengan wilayah-wilayah di luar mereka.

Permasalahan keterpencilan wilayah ini menjadi salah satu isu yang sangat penting dalam mendefinisikan kemiskinan di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Wilayahnya yang luas mencapai 18.658 km2 tersebar dari pesisir teluk hingga pelosok-pelosok pedalaman yang sulit dijangkau dengan kendaraan darat maupun laut (long baoat atau spead boat). Satu-satunya alat transportasi untuk menjangkau daerah pedalaman tersebut adalah dengan pesawat carteran yang biaya sewanya bisa mencapai puluhan juta.

Keterisoliran ini diperparah lagi dengan ketidakhadiran negara di wilayah-wilayah tersebut. Meskipun hadir dalam bangunan fisik seperti Puskesmas Pembantu (Pustu), sekolah, maupun kantor-kantor distrik, bisa dipastikan orang-orang yang bertugas tertumpuk di kota. Mereka malas untuk tinggal berlama-lama di kampung terpencil yang tidak ada jaringan telpon, internet dan fasilitas yang minim.

Akses yang buruk ini diperparah dengan minimnya infrastruktur yang bisa menghubungkan jaringan-jaringan migrasi (perpindahan orang) ke daerah tersebut. Kehadiran perusahaan di lokasi-lokasi terpencil di Bintuni belum menjadi jaminan rantai keterisoliran terputus di tengah masyarakat.

Keterpencilan

Gambaran keterisoliran terlihat jelas di Kampung Sarbe, Distrik Kuri. Meskipun mendapat juara dalam lomba kampung di Kabupaten Teluk Bintuni, denyut kehidupan di kampung ini seolah tidak terasa.

Pelayanan-pelayanan publik seperti kantor distrik, Pustu, sekolah, tidak menunjukkan aktivitasnya. Kepala distrik dan kepala kampung sudah hampir dua bulan berada di kota Bintuni. Bahkan yang hampir mencengangkan adalah seluruh pelayanan publik ternyata dilakukan di kota. Para warga yang membutuhkan pengurusan administrasi kependudukan seperti KTP dan KK (kartu keluarga) hanya mendaftar saja di kampung untuk kemudian berkasnya dibawa ke kota untuk diproses.

Jalan-jalan papan menuju kampung dari tempat sandar spead boat adalah pemandangan awal di Kampung Sarbe, Distrik Kuri. Kampung yang berada di kawasan teluk ini dikelilingi oleh hutan bakau sepanjang jalan. Perahu-perahu masyarakat bersandar saat air meti (surut).

Kampung Sarbe adalah ibu kota dari Distrik Kuri, Kabupaten Teluk Bintuni. Dari kota Bintuni kita bisa menempuhnya dengan menggunakan long boat atau spead boat yang membutuhkan waktu antara dua hingga tiga jam perjalanan. Terdapat tujuh kampung yang menjadi bagian dari Distrik Kuri, yaitu: Kampung Wagura, Awegro, Taner/Refideso, Otremta, Sarbe, Naramasa dan Obo. Dua kampung yang sangat terpencil adalah Kampung Taner/Refideso yang berbatasan dengan Kabupaten Kaimana dan Kampung Obo yang berada di daerah pengunungan, di daerah kepala air (sumber mata air) dan berbatasan dengan Kabupaten Teluk Wondama.

Mahalnya biaya transportasi untuk memasarkan produk-produk hasil bumi mereka di Kota Bintuni adalah permasalahan krusial yang tak terselesaikan hingga kini meski mereka telah merebut juara tiga lomba kampung se-Provinsi Papua Barat. Mereka sebenarnya mengharapkan akses transportasi dipermurah ke Bintuni dan juga ada pedagang-pedagang yang datang ke wilayah mereka untuk mengambil hasil-hasil bumi. Namun hal tersebut tak kunjung terealisasi. Seorang warga Kampung Sarbe bahkan dengan ketus mengungkapkan:

“Sampai saat ini program-program yang kami suarakan tersebut belum muncul-muncul. Tim-tim khusus ada dari kabupaten, pemberdayaan, dari pusat datang ambil-ambil data saja. Hanya turun tim-tim saja terus.”

Ia mengungkapkan turunnya tim-tim ke Kampung Sarbe dan Distrik Kuri secara umum ditindaklanjuti dengan pelaksanaan program-program prioritas yang menjadi usulan dari warga kampung. Salah satu persoalan yang dirasa sangat memberatkan tersebut adalah mahalnya biaya transportasi untuk menjual barang dagangan mereka ke Bintuni. Hasil-hasil bumi yang mereka hasilkan di kampung biasanya akan diangkut dengan menggunakan long boat warga. Warga kampung akan siap menjual hasil tangkapan kepiting, udang, dan ikan mereka, dendeng sapi, dan hasil bumi berupa pala dan buah-buahan. Tidak ketinggalan sayur-sayuran. Seluruh bahan jualan mereka biasanya akan dikumpulkan untuk diangkut sekalian ke Pasar Baru Bintuni.

Nah, di sinilah muncul permasalahan. Bagi yang pergi ke kota untuk menjual hasil bumi mereka, ongkos BBM yang habiskan kurang lebih adalah Rp1,5 juta untuk mesin 40 PK long boat pulang-pergi. Tentu saja hal ini sangat memberatkan warga kampung. Mereka harus memutuskan untuk menjual dagangan mereka ke Bintuni karena tidak ada pedagang yang mau masuk hingga ke Kampung Sarbe atau kampung lain di Distrik Kuri.

Di tengah keterisoliran tersebut, mereka sebenarnya sangat mampu bertahan hidup dari hasil alam yang ada di kampungnya. Namun usaha mereka untuk memiliki cash money (uang tunai) hanya dengan menjual dagangan mereka ke Bintuni. Oleh sebab itulah tidak salah jika salah satu warga di Balai Kampung Sarbe mengungkapkan:                

Kitong tahu kitong kaya, tapi orang di luar tahu kitong miskin (Kita tahu bahwa kita kaya, tapi orang di luar mengetahui (menganggap) kita miskin). (*)

 

Penulis adalah dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

PHK di PTFI siapa yang salah?

Selanjutnya

Pola Mendidik “Gaya Noken”, Peserta Didik Bukan Noken

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe