close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Suku Komo sandera tiga karyawan ExxonMobil
  • Senin, 05 Juni 2017 — 15:58
  • 1087x views

Suku Komo sandera tiga karyawan ExxonMobil

Suku Komo di pedalaman provinsi Hela menyandera tiga karyawan ExxonMobil termasuk seorang wanita yang berprofesi sebagai ilmuwan pada Jumat pekan lalu.
Fasilitas proyek tambang LNG milik ExxonMobil di provinsi Hela. /RNZI
Post Courier
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Hela, Jubi – Suku Komo di pedalaman provinsi Hela menyandera tiga karyawan ExxonMobil termasuk seorang wanita yang berprofesi sebagai ilmuwan pada Jumat pekan lalu. Para penyandera meminta pembebasan dua rekannya yang ditahan oleh pihak kepolisian.

Salah satu sandera terluka selama proses negosiasi. Akhirnya drama penyanderaan berakhir setelah penyandera membebaskan ketiga sanderanya dan kepolisian membebaskan dua orang tahanan yang ditahan siang harinya.

Komandan kepolisian daerah Provinsi Hela, Superintendent Michael Wally mengatakan bahwa kedua orang yang ditangkap dari suku Komo itu dijerat hukum karena kedapatan memiliki senjata tanpa izin. Polisi lalu menahan mereka di markas kepolisian Tari, pekan lalu.

Namun, penahanan itu ternyata memicu kemarahan kerabat kedua orang tersebut yang bermukim di wilayah bukit sekitar bandara Komo. Dalam rangka membebaskan kedua kerabatnya itu, mereka lalu menyelinap masuk ke kawasan bandara Komo, memotong parameter keamanan dan menyandera tiga orang karyawan.

Ketiga sandera terdiri dari seorang wanita yang berprofesi sebagai ilmuwan bidang lingkungan, seorang karyawan biasa dan seorang sopir kontraktor HDGC yang sedang melakukan investigasi lingkungan dan penelitian lapangan di area tersebut.

Wally mengatakan, sekelompok orang suku Komo itu lalu menyandera ketiga orang tersebut, memanggil kepolisian dan meminta pembebasan dua orang kerabatnya yang tengah ditahan di markas polisi. Menurut dia, demi menyelamatkan ilmuwan wanita yang disandera, akhirnya terpaksa polisi menuruti keinginan para penyandera yaitu membebaskan dua orang kerabat mereka.

Akhirnya ilmuwan wanita itu bebas dan selamat, sementara seorang karyawan lainnya yang menjadi sandera menderita luka-luka. Tindakan para penyandera itu digolongkan sebagai tindakan kriminal dan oleh karena itu merekan akan ditahan dan dituntut di pengadilan.

Dalam sebuah pernyataan resminya, developer LNG ExxonMobil PNG Limited mengatakan bahwa mereka sangat serius menanggapi peristiwa penyanderaan salah seorang stafnya di bandara Komo, Jumat lalu.

“Kami lega untuk mengatakan bahwa drama penyanderaan itu berakhir dengan cepat dan karyawan kami selamat. Kami apresiasi pihak kepolisian yang mengutamakan keselamatan seluruh sandera,” ujar salah seorang juru bicara perusahaan.

Perusahaan juga mengklarifikasi bahwa peristiwa itu tidak berhubungan dengan aktivitas penambangan yang mereka lakukan di Tari. “Kami terus mendorong dialog konstruktif sebagai cara mencari jalan keluar dari ketegangan yang terjadi. ExxonMobil PNG berkomitmen mempertahankan hubungan positif dengan para pemilik lahan, pemerintah dan masyarakat luas,” katanya.

Amnesti senjata

Baru-baru ini, pemerintah provinsi Hela tengah menerapkan kebijakan amnesti senjata yang memberikan kesempatan warga pemilik senjata ilegal untuk menyerahkan senjatanya kepada kepolisian untuk dihancurkan. Kebijakan ini mendulang sukses di beberapa distrik, termasuk Tari dan Komo.

Menurut Wakil Gubernur provinsi Hela, Thomas Potobe, amnesti senjata diperlukan mengingat ada kebutuhan mendesak untuk mengamankan situasi di wilayah pegunungan tinggi tersebut.

Akhir Desember lalu, kepolisian nasional dan tentara mengirim pasukan tambahan ke provinsi tersebut sebanyak 300 personel demi mengamankan area tambang LNG bernilai 19 juta dolar AS yang ada di sana. Setelah kebijakan itu berakhir, menyisakan banyak senjata ilegal yang dimiliki warga dan lalu menggunakannya dalam serangkaian perang antarsuku.

Potobe memperingatkan bahwa sejak pemilu tahun 2012, ketegangan antarsuku di wilayah tersebut terus memburuk. “Dan kali ini saya kira akan terjadi perkelahian di banyak tempat di provinsi ini. Tahun lalu, ada peperangan besar di provinsi ini dan kita tidak bisa mengatasinya,” ujar Potobe.

Bulan lalu, komisoner polisi nasional, Gary Baki menyuarakan ide untuk merekrut ratusan pensiunan polisi dan tentara untuk dikirim ke provinsi Hela. Ide ini diakui Potobe sebagai usulan dari pemerintah provinsi kepada pemerintah pusat. Namun, baik pemerintah provinsi maupun pusat menyadari mereka tidak memiliki anggaran untuk membayar personel-personel tambahan tersebut.

Ia mengonfirmasi ketakutan yang menghantui di sekitar provinsi tersebut sewaktu-waktu dapat kembali meledak. “Tidak hanya di Tari, tapi juga di sekitar pegunungan. Kita butuh lebih banyak personel keamanan, termasuk di Tari,” ujarnya.

Kebutuhan personel keamanan di Hela makin mendesak mengingat saat ini menjelang hari pencoblosan pemilu nasional. Terkait hal ini, Sekretaris Negara Isaac Lupari mengatakan bahwa pengamanan obyek vital, yaitu area tambang LNG tetap menjadi prioritas. Lupari menyarankan penambahan personel ke area itu bisa mulai dilakukan sebelum hari pencoblosan. **

 

loading...

Sebelumnya

Tiongkok makin mudah dekati Pasifik karena AS tarik diri

Selanjutnya

Independensi pers di Tonga terancam

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4962x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4364x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4145x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2559x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe