Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Pasangan lansia di Merauke jadi pemulung
  • Selasa, 06 Juni 2017 — 17:32
  • 899x views

Pasangan lansia di Merauke jadi pemulung

“Jadi, sudah puluhan tahun saya bersama istri menjalani pekerjaan sebagai pemulung dengan mencari kaleng bekas atau botol vit di sejumlah tempat yang ada sampahnya,” katanya.
Yunus Harianto bersama istrinya usai mencari kaleng bekas dan botol air vit bekas – Jubi/Frans L. Kobun
Ans K
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua
 
Merauke, Jubi – Saban hari Yunus Harianto dan Sawati istrinya berjalan kaki sambil mendorong gerobak mencari botol-botol dan kaleng bekas untuk didaur ulang dan dijual. Siapa sangka kedua pasangan lanjut usia (lansia) ini bekerja sebagai pemulung di Merauke?
 
Ditemui Jubi di Merauke, Senin siang (5/6/2017), Yunus mengatakan, tahun 1993 dirinya bersama sang istri mengikuti program transmigrasi di Kabupaten Merauke. 
 
Namun dua tahun kemudian mereka malah hengkang dari lokasi transmigrasi, Bupul, Distrik Elikobel, dan memilih menjadi pemulung.
 
“Jadi, sudah puluhan tahun saya bersama istri menjalani pekerjaan sebagai pemulung dengan mencari kaleng bekas atau botol vit di sejumlah tempat yang ada sampahnya,” katanya.
 
Selain sebagai pemulung, mereka juga menjual air minum keliling di Kota Rusa ini. Hal tersebut dilakukan jika musim kemarau.
 
“Kalau sekarang, saya bersama istri mencari kaleng maupun botol vit saja,” katanya.
 
Hal serupa disampaikan istrinya, Sawati.  Ia mengaku bahwa pendapatan setiap hari yang didapat sekitar Rp 25.000 – Rp 30.000, karena kaleng bekas, biasa dijual Rp 6.000/kg. Sedangkan botol vit, hanya Rp 500/kilogram.
 
“Memang kami mempunya anak angkat, hanya dia sudah kembali ke Jawa. Sehingga tinggal berduaan saja. Sehingga mau tidak mau, meskipun sudah tua, harus bekerja agar bisa mendapatkan sedikit uang guna membeli beras,” kata Sawati yang enggan menyebutkan usianya.
 
“Kalau kita hanya  bangun tidur di rumah sewa, bagaimana dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Ini yang pertimbangan, belum lagi hanya kami berdua. Sehingga perlu bekerja agar bisa beli beras,” katanya. (*)
 

loading...

Sebelumnya

OAP di Kampung Konorau diabaikan pemerintah

Selanjutnya

Manajemen akui Susi Air terbang dua kali ke Kimaam

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6234x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5820x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3996x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe