Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pilihan Editor
  3. Gereja : Rasisme dan diskriminasi oknum aparat keamanan dibalik kekerasan di Tanah Papua
  • Selasa, 06 Juni 2017 — 22:04
  • 4024x views

Gereja : Rasisme dan diskriminasi oknum aparat keamanan dibalik kekerasan di Tanah Papua

Giay mengatakan kronologis pembunuhan Pius Kulua di tangan keluarga korban ibu Teresia di Waena sangat rasis. Proses pembunuhan itu tidak akan pernah terjadi kalau aparat kepolisian bertindak sebagai penegak hukum yang cerdas.
Pimpinan gereja di Tanah Papua, (ki-ka) Pendeta Dorman Wandikbo, Pendeta Socratez Yoman dan Pendetan Benny Giay - Jubi/Yance Wenda
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Jayapura, Jubi - Pemimpin Forum Kerja Oikumenis Gereja-gereja Papua yang terdiri dari Persekutuan Gereja Baptis Papua (PGBP, Gereja Injili di Indonesia (GIDI) dan Gereja Kingmi menyebut negara dan oknum aparat keamanan bertindak rasis dan diskriminatif terhadap orang asli Papua. Tudingan itu disampaikan Pendeta Dorman Wandikbo (Presiden GIDI), Pendeta Socratez Sofyan Yoman (Ketua PGBP) dan Ketua Sinode Kingmi, Pendeta Benny Giay akhir bulan Mei lalu.

Benny Giay menyebut tindakan aparat yang rasis itu terlihat dalam proses penanganan kasus pembunuhan dalam bulan Mei 2017 di kota Jayapura. Pertama, kasus pembunuhan dosen Uncen Dr Suwandi di Buper, Waena kota Jayapura, Kami (11/05/2017) pukul 00:30 WP. Pemberitaan menyebutkan dua orang hadang dan membunuh tapi DPO polisi tiga orang dengan identitas Komite Nasional Papua Barat. Peristiwa kedua, kasus pembunuhan ibu Teresia Lampyompar di Waena 19 Mei 2017. Polisi langsung memetakan dan mencari orang gunung sebagai pelaku pembunuhan. Polisi tidak mencari tahu dengan teliti pelakunya.  Sebaliknya, setelah sekelompok orang membunuh Pius Kulua, di depan rumah duka keluarga Teresia, malam setelah jenazah perempuan malang ini dtemukan, polisi terus meniga rumah keluarga Teresia. Endah kenapa, tapi warga di sekitar rumah tersebut mengatakan polisi berjaga karena khawatir ada serangan dari keluarga almarhum Pius Kulua.

Peristiwa ketiga, tindakan rasis itu juga terlihat dalam peristiwa protes umat Kristen dalam isu pembakaran alkitab di Padang Bulan, kota Jayapura pada 20/06/2017. Aparat TNI melakukan tindakan brutal terhadap rakyat sipil dengan melepaskan peluru tajam. Tiga orang warga sipil asli Papua kena peluru tajam anggota TNI. 

Kronologis tindakan rasis
Giay mengatakan kronologis pembunuhan Pius Kulua di tangan keluarga korban ibu Teresia di Waena sangat rasis. Proses pembunuhan itu tidak akan pernah terjadi kalau aparat kepolisian bertindak sebagai penegak hukum yang cerdas.

“Ketika mayatnya ditemukan jam 5 pagi, siangnya polisi langsung petakan dan cari orang gunung di sawmill Waena, bukan mencari pelakunya yang diduga kuat suaminya itu,” tegas dia.

Tindakan polisi mencari pelaku itu sudah jelas membangun opini. Orang gunung dituduh sebagai pelaku. Suaminya yang diduga kuat pelakunya menikmati kebebasan.  Orang gunung yang menjadi sasaran pelampisan emosi keluarga suami korban. Keluarga yang berduka memalang jalan depan rumah sakit Dian Harapan. Bakar ban bekas hingga wilayah itu menjadi sunyi dari arus lalulintas publik kota Jayapura.

Seorang saksi, yang tidak mau menyebutkan nama dalam pemberitaan ini mengatakan gejala pembunuhan sudah kelihatan sejak mayat ditemukan.

“Ibu itu tinggal di Perumnas II dalam tetapi disemayamkan di depan ini. Mayatnya mereka semayamkan agak ke dalam. Rumah di belakang kios depan rumah sakit. Di tempat mayat itu tidak ada orang. Beberapa saja yang jaga. Kebanyakan orang duduk di pinggir jalan ini,” ujarnya.

Ketika hari sudah gelap, polisi sudah berjaga-jaga di depan rumah duka dan mata jalan depan rumah sakit dan mata jalan Abe Sentani.

“Jam 12 malam itu ada mobil avanza hitam naik turun dengan gas tinggi. Orang dalam mobil itu marah-marah ke keluarga korban yang duduk di pinggir jalan. Saya dengar dia bilang. Kamu orang bikin jago-jago apa di sini. Kamu bubar sudah. Sesudah itu mobil avanza itu menghilang. Saya menduga itu orang mabuk atau narkoba. Karena dia berani sekali bilang begitu,” katanya lagi.  

Dalam waktu yang bersamaan, keluarga korban yang jaga-jaga juga menghilang. Tidak lama puluhan orang muncul dengan alat tajam.  Semua pegang parang-parang panjang.

“Saya tidak tahu mereka itu datang dengan apa karena tidak ada motor dan mobil yang dorang parkir di situ,” ujarnya.

Yali Yeliple, seorang saksi mata kedua kepada Jubi mengatakan ketika keluarga bertindak, wilayah itu sudah steril. Polisi sudah jaga di mata jalan SPG Waena dan depan rumah sakit Dian Harapan.  Mata jalan sampai depan rumah sakit kosong. Orang-orang nonton dari depan rumah di pinggir jalan saja, Menurut dia, hanya keluarga korban dengan alat tajam yang beraksi di jalan. Bakar ban hingga teriak-teriak orang yang berusaha lewat dari Expo-Abe ke perumnas III atau sebaliknya.

“Jam 1:30 Saya dengar motor gas tinggi dari Expo naik. Ada yang teriak bunuh-bunuh. Motor itu berhenti tiba-tiba. Orang toki-toki tiang listrik. Saya lari ke pintu pagar. Saya lihat orang itu (Pius Kulua) sudah tergeletak di aspal depan bengkel itu. Polisi datang kasih naik dia ke mobil patroli dan bawa,” katanya.

Kata dia, usai korban dinaikan ke truk. Ada yang komando “Stop. Sudah selesai. Semua naik. Kurang lebih 50 orang itu naik ke truk polisi yang sudah parkir itu,” lanjutnya.  

Menurut Benny Giay, kejadian macam itu sangat aneh. Pembunuhan terjadi di depan aparat penegak hukum. Polisi membiarkan saja. Semestinya Polisi melindungi bukan menuduh orang gunung. Membenturkan orang gunung dan keluarga korban.

Menurut Pdt. Sokratez Sofyan Yoman proses penyelidikan kasus pembunuhan dosen Universitas Cendrawasih (UNCEN) pun sama. Polisi tidak mencari siapa pelaku yang sebenarnya tetapi langsung menuduh orang gunung. Tuduhan itu terlihat ketika polisi mengeluarkan tiga orang Daftar Pencaharian Orang (DPO) sebagai pelaku pembunuhan. Polisi menyebut DPO mengunakan identitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

“Padahal pembunuh itu orang lain. Kami tahu, dugaan besar, pembunuh itu orang lain. Polisi mesti cari tahu,” tegasnya .

Dugaan pembunuhnya orang lain bisa benar. Polisi mengeluarkan DPO tiga orang. Pemberitaan media menyebutkan dua orang yang menghadang korban.

Tuduhan yang sama terjadi dalam peristiwa isu pembakaran Alkitab di Korem 172/PWY Jayapura. Sesaat setelah insiden tersebut terjadi, beredar laporan yang menyebut KNPB dan salah satu orang etnis Tionghoa menjadi aktor atau provokatornya.

“Di Jakarta dorang benci orang Tionghoa. Di Papua menyebut juga nama orang Tionghoa dan anak-anak KNPB, orang gunung dan itu rasis,” tegas Giay.

Polisi tidak menegakkan hukum tapi mengejar target
Menurut Benny Giay, proses penanganan tiga kasus dengan menyebut pelaku tanpa mencari tahu pelaku yang benar itu jelas pesannya. Polisi sedang mengejar target tertentu daripada penegakan hukum.

“Polisi berpolitik bukan menegakan hukum,” ungkap Benny Giay.

Kata dia, targetnya sudah jelas. Polisi membawa semua orang di Papua masuk ke dalam harapan-harapan negara dapat terwujud di Papua.  Orang Papua dibawa untuk membenci orang gunung dan KNPB sehingga terjebak dalam dalam lingkaran kebencian, bukan mencari siapa pelaku kekerasan.

Dugaan yang sama disampaikan, Anum Siregar,  kepada penulis di sela-sela 25 imamat Pastor Neles Tebay di Abepura (3/06/2017).  Menurutnya pelaku kekerasan sudah punya target ke kelompok dan dan orang tertentu. Karena mayat korban di buang dipinggir jalan.

“Kalau tidak punya target, pelakunya pasti kasih sembunyi mayat supaya tidak ketahuan,” ujar direktur Alianis demokrasi untuk Papua (ALDP) ini kepada penulis.

Pendeta Sofyan Yoman, menambahkan upaya aparat itu bagian dari kepanikan negara. Negara panik dengan isu Papua yang sudah menjadi isu negara-negara Pasifik dan menjadi sorotan Universal Periodict Report (UPR) 2017. Karena itu, kata Sofyan, negara berupaya mereduksi perjuangan orang Papua dengan menyalahkan orang Papua di dunia Internasional. Negara hendak balik menuduh orang Papua.

“Indonesia mendapat sorotan. Sekarang dia kerja mau beritahu kepada dunia, itu lihat orang Papua yang melakukan kejahatan, bunuh dosen,” tegasnya.

Kalaupun itu target, kata Yoman, Indonesia sudah terlampau terlambat. Karena, orang Papua sudah melangkah jauh. Orang Papua sudah keluar dari cara berfikir lama itu.

Harapan Indonesia bertindak dewasa
Dorman Wandikbo, presiden GIDI mengatakan Indonesia tidak akan pernah mencapai target itu. Karena, rancangan kejahatan itu tidak akan pernah mempengaruhi orang Papua tidak menjaga kedamaian.

“Orang Papua sudah terima Injil. Orang Papua bisa menjaga dirinya tanpa ada yang menjaga keamanan,” kata Pendeta Dorman.

Mantan tahanan politik di Wamena ini mengatakan Orang Papua tidak melakukan kejahatan di Papua. Orang Papua menjaga keamanan kampungnya dengan baik. Seorang kepala suku saja bisa menjaga keamanan kampung tanpa melibatkan aparat keamanan. Karena selamatkan nyawa manusia itu lebih bernilai daripada menyelamatkan nilai-nilai laina.

“Negara harus bertindak dewasa menegakan keadilan dalam negara demokrasi bagi semua rakyat Indonesia,” lanjutnya.

Kalau Indonesia bisa membuka ruang demokkrasi bagi rakyat di Jawa, ORMAS radikal walaupun itu menentang negara, negara juga harus membuka ruang bagi KNPB dan United Liberation Movement for West Papua ULMWP (United Liberation Movement for West Papua),”katanya.

KNPB tidak menentang negara. KNPB hanya meneriakan ketidakdilan negara di Papua. KNPB menyampaikan pendapat dengan cara-cara yang damai. KNPB tidak anarkis. Mereka tidak merusak. Mereka berdemokrasi dengan cara-cara yang damai.  Karena itu, negara harus bukan ruang bagi KNPB. Negara harus intropeksi diri dengan kehadiran KNPB.

“KNPB lahir bukan kebetulan, namun karena perilaku negara yang tidak adil dan tidak demokratis di Papua. KNPB, ULMWP itu anak dari perkawinan paksa yang namanya PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969,” ungkap Benny Giay.

Kata dia, negara harus bertanya kepada diri sendiri, mengapa anak kawin paksa itu ada? Ketika bertanya, negara akan menemukan akar pesoalan anak kawin paksa itu.

“Kalau terus menerus siram api kejahatan, kejar-kejar, masalah Papua tidak akan selesai!” tegas Benny Giay. (*)

loading...

Sebelumnya

Agar bisa produksi hingga 160 ribu ton per hari, ini tantangan pekerja Freeport

Selanjutnya

Kemitraan ENGIE-EVI senilai 240 juta dolar akan listriki 3000 kampung di Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe