Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Pola Mendidik “Gaya Noken”, Peserta Didik Bukan Noken
  • Senin, 12 Juni 2017 — 09:27
  • 1330x views

Pola Mendidik “Gaya Noken”, Peserta Didik Bukan Noken

Berdasarkan bentuknya, noken (yang merupakan objek) adalah benda mati yang digunakan manusia (sebagai subjek) untuk memenuhi kebutuhannya. Entah itu mengantongi barang bawaan, tempat penyimpanan suatu barang semaunya si pemilik noken. Itulah salah satu bentuk utilitas dari noken yang kodrati. Tapi berbeda dangan peserta didik. Mereka hidup. Mereka juga punya akal budi dan hak asasi manusia.
Ilustrasi - Jubi
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

Oleh: Herman E. Degei

Kepada kita, Paulo Freire, tokoh dan teoretikus pendidikan dari Brasil memperkenalkan metode pendidikan ‘Gaya Bank’. Tapi di sini saya mengkontekstualisasikannya dengan istilah ‘Gaya Noken’ karena saya orang Papua, dan bagi saya intinya, bank dan noken di sisi lain adalah sama-sama sebagai tempat penyimpanan barang.

Permasalahan yang masih begitu kental melekat di dunia pendidikan kita sekarang, bahkan menjadi pola ajar di setiap lembaga pendidikan adalah cara mendidik “Gaya Noken”. Ini adalah persoalan metafisika yang oleh sebagian pendidik maupun peserta didik tak disadari keberadaannya. Laiknya dalam buku “Pendidikan Kaum Tertindas”, Paulo Freire, dapat ditarik benang merahnya bahwa gaya bank, atau di sini gaya noken, merupakan sebuah konsep pendidikan tentang dua posisi yang cuma dihubungkan oleh sistem komunikasi satu arah.

Kalau dianalogikan, kedua posisi tersebut berupa “orang yang menaruh barang” dan “noken”. Jadi, noken cuma selalu dan selalu menerima barang yang ditaruh oleh si penaruh barang. Sebatas itu. Di sekolah maupun di kampus kita dapat menemukan konsep seperti ini. Peserta didik hanya menerima, mencatat dan menyimpan materi yang disampaikan oleh pendidik, mengiyakan perintah pendidik tanpa skeptis dan kritis, dstnya. Hal itu karena memang si pendidik yang menciptakan suasana demikian. Tapi kalau peserta didiknya yang malah pasif, tidak skeptis dan kritis, ya, itu lain persoalan.

Cara mengajar dengan model demikian tanpa memberikan peserta didik kesempatan untuk bertanya, menanggapi, dan mengemukakan apa yang dipahaminya untuk kemudian didiskusikan dan dicari jalan keluarnya sama-sama adalah sikap pendidik berwatak penindas. Jika realitas seperti ini masih kronis dan tak beringsut, dunia pendidikan kita takkan mampu memberikan banyak kontribusi bagi bangsa ini untuk keluar dari keterpurukan.

Berdasarkan bentuknya, noken (yang merupakan objek) adalah benda mati yang digunakan manusia (sebagai subjek) untuk memenuhi kebutuhannya. Entah itu mengantongi barang bawaan, tempat penyimpanan suatu barang semaunya si pemilik noken. Itulah salah satu bentuk utilitas dari noken yang kodrati. Tapi berbeda dangan peserta didik. Mereka hidup. Mereka juga punya akal budi dan hak asasi manusia.

Konsep pendidikan demikian hanya akan menjadikan peserta sebagai benda dan gampang diatur. Juga dengan begitu, akan mengurangi atau merenggut daya kreasi para peserta didik, serta menumbuhkan sikap mudah percaya. Yang ada lantas adalah pengajar mengajar, peserta didik belajar; pengajar tahu segalanya, peserta didik tak tahu apa-apa; pengajar berbicara, peserta mendengarkan; pengajar subyek proses belajar, peserta didik obyek belajar; dstnya. Kalau sudah begini modelnya, apa bedanya peserta didik dengan noken (sebuah benda)?

Pernah di bangku sekolah menengah, ada salah satu guru kami kalau mengajar hanya menjelaskan sepintas, berikan contoh, dan kasih tugas. Hampir tidak pernah dia menanyakan apakah kami sudah mengerti apa yang diajarkannya atau belum. Apalagi mereedukasi apa yang sudah kami belajar. Tidak pernah, mengalir. Seakan kami punya otak ini semacam mekanistik, yang secara otomatis bisa meresap secara langsung semua yang kami belajar tanpa butuh waktu yang banyak.

Saya baru memahami konsep pengajaran seperti ini ketika saat semester pertama di mata kuliah ‘pengantar ilmu komunikasi’ diajarkan tentang “komunikasi satu arah”. Komunikasi satu arah merupakan komunikasi yang berlangsung dari satu pihak saja, yaitu hanya dari pihak komunikator dengan tidak memberi kesempatan kepada komunikan untuk memberikan respons atau tanggapan.

Memang ada kalanya seorang pendidik harus menerapkan pola komunikasi ini, agar kemudian proses interaksi lebih efektif. Tapi di saat-saat tertentu, pendidik juga harus memberikan waktu ke peserta didik untuk merespons, menanyai bagian-bagian yang barangkali belum dimengerti, dstnya. Bukan seakan membacakan berita atau berkhotbah di ruang kelas. Interaksi verbal yang dialogis-lah yang harus di bangun.

Paulo Freire pernah bilang, pendidikan merupakan usaha untuk kasih kembali fungsi pendidikan sebagai alat yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan. Tapi yang terjadi di lapangan oleh beberapa pendidik selama ini, kan secara sadar (namun tak disadari) mereka sengaja paksakan pemikirannya dan menghiraukan kemampuan atau potensi peserta didik. Ini juga merupakan salah satu bentuk penindasan. Dan di sinilah sebenarnya awal dimana pendidik menyemaikan “kebudayaan bisu” dalam batok para peserta didik.

Seperti dalam pandangan Marx, “kebudayaan bisu” adalah konteks di mana manusia tidak sadar atas fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Karena ketaksadarannya atau kesadaran palsu yang dipatrikan pada dirinya, maka si penindas akan semakin leluasa menindas. Jika dikorelasikan, maka kita bisa saja bilang bahwa para pendidik yang selama ini memperlakukan para peserta didik sebagai objek adalah penindas dan kaki tangan dari para pemodal, militer, dan mafia-mafia biang kekacauan lainnya.

Bagaimana tidak, kadang ada juga pendidik yang menjelaskan, peserta didik bertanya, dan pendidik menjawab, lalu bila ada jawaban lain dari peserta didik yang berbeda dari jawaban pendidik, maka selalu saja peserta didik yang disalahkan dan diberi ganjaran karena pada dasarnya si pendidik memegang kuasa pengetahuan dengan pertimbangan “pendidik lebih banyak makan garam ketimbang peserta didiknya”. Misal saja di ruang perkuliahan, dilakukan diskusi. Kesimpulan final hasil diskusi selalu berada di tangan dosen. Padahal kadang ada juga jawaban dan/atau kesimpulan dari dosen yang rancu. Bagaimana peserta didik mau protes? Sementara nilai selalu menjadi korbannya. Ini persoalan.

Ah, bagaimana pun juga pendidikan di negeri ini harus kembali kepada hakikatnya, yaitu “memanusiakan manusia”. Artinya, lewat pendidikan itu setiap peserta didik digembleng agar dapat menjadi “manusia”. Pendidikan haruslah menjadi gerakan penyadaran. Dan di situlah peran guru/dosen sebagai pendidik dibutuhkan. Peserta didik bukan noken, yang hanya bisa digunakan untuk menyimpan dan/atau membawa sesuatu. Mereka adalah duta (dari keluarga mereka) yang dititipkan dengan tidak gratis untuk dididik dengan cara yang semestinya. Para pendidik harus tahu hal itu. Semoga! (*)

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Yogyakarta

Sebelumnya

Kemiskinan dan keterisoliran

Selanjutnya

Pendidikan Dasar yang Terlantar (1)

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe