Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Selandia Baru terus perketat kedatangan migran Pasifik
  • Rabu, 14 Juni 2017 — 10:18
  • 826x views

Selandia Baru terus perketat kedatangan migran Pasifik

Setiap saat Sangeeta Bali mengunjungi puterinya yang berusia 13 tahun di Fiji, hatinya terasa berat. Puterinya yang bernama Shurti itu selalu mendekapnya erat dan enggan ditinggalkan.
Sangeeta Bali memegang foto puterinya, Shurti (13) yang tinggal di Fiji dan visanya selalu ditolak oleh Selandia Baru. /RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Auckland, Jubi – Setiap saat Sangeeta Bali mengunjungi puterinya yang berusia 13 tahun di Fiji, hatinya terasa berat. Puterinya yang bernama Shurti itu selalu mendekapnya erat dan enggan ditinggalkan. “Ketika saya di Fiji, Shurti selalu menahan saya dengan menarik-narik rok saya,” ujar Bali.

Malang nasib Shurti dan Bali. Mereka terpisah jarak yang cukup jauh. Shurti tinggal di Fiji, sementara Bali di Selandia Baru. Shurti yang menderita cerebral palsy tidak berhasil mendapatkan visa baik visa kunjungan apalagi visa tinggal di Selandia Baru di mana seluruh keluarganya kini tinggal.

Bulan ini adalah kali keempat bagi Bali dan suaminya mengunjungi Shurti tahun ini. Ia kerap bolak-balik ke Fiji untuk mengobati rindu pada puteri mereka.

Selandia Baru memiliki tautan sejarah yang sangat signifikan dengan kawasan Pasifik. Auckland adalah kota yang dihuni bangsa Polinesia terbesar di dunia. Namun, jumlah migran asal Pasifik yang diperbolehkan datang dan berkunjung ke Auckland akhir-akhir ini menurun drastis.

Pemerintah Selandia Baru memperketat pemberian izin datang dan tinggal orang-orang Pasifik ke Selandia Baru. Dan Sangeeta Bali adalah salah seorang warga Pasifik yang merasakan bahwa Selandia Baru makin tertutup bagi bangsa tetangganya, Pasifik.

Bali awalnya tiba di Selandia Baru pada tahun 2010 untuk belajar. Setelah lulus dan diterima bekerja, ia tinggal dan menetap di negeri itu. Ia berhasil meraih izin tinggal permanen, suami dan anak laki-lakinya menjadi warga negara Selandia Baru. Namun, tidak bagi Shurti yang permohonan visanya berkali-kali ditolak.

Kasus yang menimpa Shurti tampaknya akan lebih sulit di masa datang. Pasalnya, pemerintah Selandia Baru bulan lalu menerbitkan aturan keimigrasian baru yang tidak memperbolehkan para orangtua mengajukan aplikasi visa bagi anak-anak mereka yang menderita disabilitas atau anak-anak dengan kebutuhan khusus. 

Selama Bali dan keluarganya menetap di Selandia Baru, Shurti diurus oleh orangtua Bali di Fiji. Namun, awal tahun ini, Ibunda Bali meninggal dunia dan Ayahnya pun menderita sakit parah. Anggota kerabat lain kini menjaga Shurti.

Karena aturan baru tersebut, Pengadilan Keimigrasian Selandia Baru kembali menolak permohonan Bali untuk membawa Shurti ke Selandia Baru. “Saya merasa ini adalah akhir hidup saya. Saya merasa begitu sepi. Sekarang saya tidak memiliki siapapun yang bisa menolong saya untuk menjaga puteri saya,” ujar Bali.

Tidak menghargai Pasifik

Kebijakan yang membatasi warga Pasifik untuk datang dan menetap di Selandia Baru dianggap sebagai kebijakan yang menghargai kebudayaan Pasifik. Dalam kebudayaan Pasifik, seorang anak harus kembali dalam pelukan orangtuanya setelah diurus oleh kerabat.

“Kebijakan ini akan berdampak besar. Seorang anak mungkin saja hidup bersama kakek atau neneknya, kami menangani banyak kasus seperti ini ketika sang kakek atau nenek meninggal dan lalu anak tersebut kembali dalam pelukan orangtuanya,” ujar pengacara imigrasi, Richard Small.

Jika pemerintah Selandia Baru tidak mempertimbangkan aspek kebudayaan Pasifik seperti ini, bagi Richard sungguh keterlaluan.

Kebijakan imigrasi Selandia Baru terus diperketat sejak tahun 2012 ketika pemerintah menghapuskan kategori pemberian visa bagi imigran yang mensponsori anak-anak atau saudara mereka untuk pindah ke Selandia Baru.

Syarat memperoleh visa semakin menyulitkan para migran. Kebijakan ini akan membuat orang Pasifik lebih sulit untuk datang dan menetap di Selandia Baru.

Kendati demikian, syarat ketat itu bisa menjadi mudah jika orang Pasifik yang mengajukan visa itu berpendapatan tinggi. Dengan kebijakan pembatasan seperti ini, jumlah pemohon visa dari Pasifik menurun hingga 28 persen.

Demikian juga dari kategori visa bagi pekerja terampil yang menurun sejak tahun 2012. Menurut informasi dari Bagian Imigrasi Selandia Baru, dari 986 orang Pasifik yang berhasil mendapat visa tahun lalu itu, jika menggunakan ketentuan baru ini sebenarnya hanya 56 orang yang bisa lolos.

Menteri Imigrasi Selandia Baru, Michael Woodhouse mengatakan bahwa selama ini Selandia Baru telah begitu baik pada migran dari Pasifik melalui skema penetapan kuota secara acak. Melalui skema ini, Selandia Baru menetapkan kuota sebanyak 75 orang masing-masing dari Kiribati dan Tuvalu; 250 orang masing-masing dari Tonga dan Fiji; dan 1.100 orang dari Samoa.

Mereka yang terpilih harus berusia antara 18-45 tahun atau memiliki pasangan yang bekerja di Selandia Baru dengan penghasilan yang cukup untuk membiayai keluarganya di Selandia Baru.

Namun, petugas imigrasi Tonga,Sione Palavi mengatakan bahwa skema kuota ini tidak pernah terpenuhi mengingat sulitnya para pemohon memenuhi syarat yang ditentukan, khususnya tentang pekerjaan dan penghasilan di Selandia Baru.

Kadang ada pemohon yang menderita karena terjerat penipuan yang menawarkan pekerjaan palsu di Selandia Baru demi memenuhi syarat tersebut. “Ada satu pasangan di sini yang saya temui beberapa tahun lalu dan mereka bilang pada saya bahwa mereka harus membayar ribuan dolar kepada oknum pengusaha agar mereka diterima bekerja di sini dan dapat lolos visa. Namun, setelah mereka membayar dan berhasil mendapat izin menetap, mereka tidak mendapat pekerjaan yang mereka inginkan,” ujarnya. **

loading...

Sebelumnya

Para pimpinan politik PNG berkumpul bahas formasi pemerintahan baru

Selanjutnya

Gelombang kritik sertai penandatanganan PACER Plus

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6233x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5819x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3995x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe