Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Polemik Stiper Jayapura, mahasiswa jangan jadi korban
  • Rabu, 14 Juni 2017 — 11:06
  • 1239x views

Polemik Stiper Jayapura, mahasiswa jangan jadi korban

Dalam putusan tertanggal 1 April, Ketua STA Aloysius menetapkan Carlos Matuan sebagai pejabat plt. ketua STA. Tugasnya memimpin pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi agar tidak vakum, mempersiapkan dan melaksanakan proses penjaringan hingga pemilihan calon ketua STA periode 2017-2022.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) St. Thomas Aquinas atau STA Jayapura,
Timoteus Marten
Editor :
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Jayapura, Jubi – Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) St. Thomas Aquinas atau STA Jayapura, Papua dilanda polemik sejak beberapa bulan terakhir. Civitas akademika berharap mahasiswa jangan dijadikan korban.

Polemik disebut-sebut terjadi karena adanya dualisme dan pro-kontra pergantian pelaksana tugas ketua STA oleh Ketua Yayasan Pegunungan Bintang, Yohanes Jefrry de Fretes.

Dosen dan Kepala Bagian Akademik STA, Thomas Tonggap ketika bertandang ke redaksi Jubi, Senin malam, 12 Juni 2017 mengatakan, masa jabatan pelaksana tugas (plt) sesuai aturan diangkat melalui rapat senat oleh ketua yang sah.

“Yayasan tidak bisa mengintervensi untuk menentukan ketua. Yang terjadi di Stiper ini beda. Pa Alo ini pimpinan yang sah. Namun yang terjadi adalah polemik. Ada yang menciptakan polemik. Ada muatan kelompok-kelompok,” katanya.

Menurut dia Ketua STA Aloisius Kowenip meminta petunjuk ke Pendidikan Tinggi (Dikti) 1 April 2017. Lalu Dikti melalui Kopertis XIV menyetujui plt. yang diusulkan ketua STA yang sah.

Dalam putusan tertanggal 1 April, Ketua STA Aloysius menetapkan Carlos Matuan sebagai pejabat plt. ketua STA. Tugasnya memimpin pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi agar tidak vakum, mempersiapkan dan melaksanakan proses penjaringan hingga pemilihan calon ketua STA periode 2017-2022.

Penyerahan SK plt. oleh yayasan dinilai sepihak
Tanggal 19 Mei 2017, Aloysius mengirim undangan perihal penyerahan SK plt. ketua STA berdasarkan SK koordinator kopertis wilayah XIV di Biak, bahwa Senin (22/5/2017) dilakukan serah terima ketua jabatan plt. ketua secara terbuka di aula STA.

Namun sepuluh hari sebelum tanggal tersebut, Ketua Yayasan Pegunungan Bintang, Yohanes Jefrry de Fretes menyerahkan surat keputusan (SK) pelaksana tugas ketua Stiper St. Thomas kepada Laurens Maturbongs menggantikan Aloisius Kowenip.

Pihak Thomas pun melaporkan kepada Keuskupan Jayapura terkait dualisme yang terjadi, sebab sekolah ini di bawah Keuskupan. Pimpinan gereja lokal lalu mengutus pastor paroki sebagai pihak netral dan dilakukan pertemuan pada 25 Mei 2017 di aula Paroki Sang Penebus Sentani, yang dihadiri pihak de Fretes, mantan ketua STA Aloisius Kowenip, para wakil ketua, Pastor Paroki Sentani Hendrikus Nahak, OFM, Ketua Pemuda Katolik, senat mahasiswa Carlos Matuan dan simpatisan.

“Tapi pada kenyataannya bukan Carlos Matuan sebagai pelaksana tugas, malah Laurens Maturbongs,” kata salah seorang dosen yang tak mau menyebutkan namanya.

Ketua Yayasan Pegunungan Bintang, Yohanes Jefrry de Fretes menolak disebut menyerahkan SK sepihak. Penyerahan SK versi yayasan disebutnya sesuai Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 1999 tentang Pergantian Ketua Stiper St. Thomas Aquinas.

“Sebelumnya mandat ketua dipegang oleh Bapak Alosius Kowenip yang telah menjalankan masa tugasnya selama dua aperiode (10 tahun). Jadi, sudah saatnya jabatan ketua diganti kepada orang lain sesuai dengan hasil rapat seluruh badang pengurus Yayasan Pegunungan Bintang. Selanjutnya proses pemilihan ketua yang baru akan dilaksanakan oleh pelaksana tugas,” katanya seperti ditulis Jubi, Selasa (9/5/2017).

Sementara plt. versi yayasan, Laurens Maturbongs, Selasa (9/5/2017) mengaku akan berkoordinasi kembali dengan seluruh civitas akademika untuk mengembalikan proses akademik yang sempat terhenti beberapa waktu lalu.

“Langkah awal saya sebagai pemegang mandat pelaksana tugas ketua akan mengembalikan seluruh aktifitas akademik di kampus pertanian ini, baik dengan wakil-wakil ketua, ketua-ketua jurusan dan juga mahasiswa. Karena aktifitas belajar mengajar sempat terhenti pada minggu lalu,” katanya.  

Dua minggu kemudian, Selasa (23/5/2017) de Fretes mengklarifikasi soal pengangkatan pelaksana tugas yang dinilai bertentangan dengan Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999 pasal 61 ayat (3).

Ia mengaku bahwa dalam hubungan kelembagaan yayasan tidak bertanggung jawab ke Dikti atau Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) XIV tentang Carolus Matuan, yang diangkat sebagai pelaksana tugas.

“Mengacu pada PP RI Nomor 60 Tahun 1999, maka proses pengangkatan plt. oleh ketua Stiper sangat tidak mendasar. Carolus Matuan termasuk dalam bagian kami, yang akan melaksanakan tugas koordinasi dengan berbagai pihak. Proses pengangkatan plt. ini juga tanpa koordinasi dengan kami pihak yayasan,” kata de Fretes.

Ia menolak disebut mengintervensi persoalan internal semua proses perkuliahan. Namun mempunyai hak dan wewenang untuk memberhentikan dan mengangkat pejabat di kampus.

Mahasiswa mengeluarkan sejumlah tuntutan
Stiper St. Thomas Aquinas berlokasi di Jalan Akuatan-Kemiri 1 Nomor 4, Sentani, dan berdiri pada 5 Juli 2001 dengan nomor SK PT79DO2001. Kampus STA memiliki empat program studi yaitu agribisnis, agroteknologi, budidaya perairan dan peternakan dengan jumlah mahasiswa kurang dari 3.000-an orang.

Sejumlah mahasiswa STA melakukan aksi demo selama beberapa hari sejak 5 Mei 2017. Mereka memalang kampus untuk merespons polemik yang terjadi. Mereka meminta agar polemik segera diselesaikan agar tidak mengorban mahasiswa. Hingga kini proses perkuliahan di kampus terhenti.

Dalam pernyataan sikap yang diantar ke redaksi Jubi dan ditandangani kordinator aksi Antonius Sobolim, 8 Juni 2017, sejumlah tuntutan mahasiswa disebutkan sebagai berikut:

Pertama, STA mendesak Carlos Matuan segera mengambil alih seluruh kegiatan akademik dan keuangan kampus sesuai SK plt. ketua oleh Kopertis XIV wilayah Papua dan Papua Barat tanggal 1 April;

Kedua, Laurens Maturbongs didesak mengundurkan diri ;

Ketiga, mendesak Carlos Matuan agar segera menggelar pemilihan ketua STA sesuai statuta yang telah dibahas dan disahkan oleh ketua STA tanggal 11 Maret 2017 oleh senat perguruan tinggi;

Keempat, ketua STA harus dijabat orang asli Papua sesuai statuta;

Kelima; mahasiswa menolak yayasan bentukan Yohanes Jeffry de Fretes karena dinilai ilegal;

Keenam, mahasiswa mendukung hasil pertemuan pada 25 Mei 2017 di aula Paroki Sang Penebus Sentani yang dihadiri pihak de Fretes, mantan ketua STA Aloisius Kowenip, para wakil ketua, Pastor Paroki Sentani Hendrikus Nahak, OFM, Ketua Pemuda Katolik, senat mahasiswa Carlos Matuan dan simpatisan.

Disebutkan, semua pihak sepakat bahwa Carlos Matuan sebagai pelaksana tugas ketua STA dan berhak mengatur seluruh administrasi, keuangan dan tugas lain sesuai SK plt. oleh Ketua STA, Aloysius Kowenip, yang disetujui Kemenristek Dikti melalui Koordinator Kopertis XIV 1 April 2017.

Alumni harapkan OAP pimpin STA Jayapura
Alumnus STA Jayapura, Steven mengatakan, dalam statuta kampus STA yang ditetapkan 11 Maret 2017, pasal 28 ayat (3) disebutkan, pemimpin Stiper adalah orang asli Papua (OAP) yang beragama Katolik.

“Dalam hal ini pemimpin, baik plt. maupun ketua definitif tidak dibenarkan dijabat orang bukan OAP,” katanya.

Jika memang jabatan bukan OAP dipaksanakan, maka pihaknya justru mempertanyakan pihak-pihak yang melawan statuta tersebut.

“Karena statuta ini berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Kalau memang melawan, kira-kira mereka pakai ideologi mana dan dasar negara mana baru mengajar kita?” kata lulusan program studi perikanan ini.

Pihaknya juga mendesak Kopertis wilayah XIV Papua dan Papua Barat untuk OAP sebagai plt. ketua STA sesuai amanat Otonomi Khsusus. (*)

loading...

Sebelumnya

Malvin Yobe dilantik pimpin BEM USTJ periode 2017-2018

Selanjutnya

HUT ke-5 SMP dan SMA Santo Antonius Pandua gelar syukuran

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Pilihan Editor |— Selasa, 25 September 2018 WP | 9599x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6385x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 6025x views
Berita Papua |— Senin, 24 September 2018 WP | 4609x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe