TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Gelombang kritik sertai penandatanganan PACER Plus
  • Rabu, 14 Juni 2017 — 13:44
  • 822x views

Gelombang kritik sertai penandatanganan PACER Plus

Setelah hampir satu dekade pembahasan yang alot, akhirnya negara-negara di Pasifik menandatangani kesepakatan perdagangan bebas di Pasifik (PACER Plus).
Perwakilan negara-negara penandatangan PACER Plus. /RNZI
RNZI
[email protected]
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Tonga, Jubi – Setelah hampir satu dekade pembahasan yang alot, akhirnya negara-negara di Pasifik menandatangani kesepakatan perdagangan bebas di Pasifik (PACER Plus). Sang promotor terkuat konsep ini di wilayah Pasifik yaitu Australia dan Selandia Baru. Namun, mendapat tentangan dari tiga negara besar di Pasifik, yaitu Papua Nugini, Vanuatu dan Fiji.

Meski tanpa tiga negara besar di Pasifik tersebut, PACER Plus terus melaju. Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di kota Nuku’alofa, Tonga pada Rabu (14/6/2017) pagi, Australia dan Selandia Baru menandatangani PACER Plus bersama dengan Tonga, Niue, Nauru, Samoa, Kepulauan Solomon, Kiribati, Tuvalu dan Kepulauan Cook.

Sejak digulirkan, PACER Plus tak pernah lepas dari kritik. Kesepakatan perdagangan bebas dianggap hanya akan menguntungkan Australia dan Selandia Baru karena akan mempermudah kedua negara ini untuk mengeruk hasil kekayaan alam dan sumber daya manusia di negara-negara Pasifik.

Suara kritik ini terdengar lebih keras gaungnya ketimbang suara yang mendukung PACER Plus. Selama proses penandatanganan berlangsung, lebih dari 30 kelompok dan 170 individu dari negara-negara Pasifik, Australia dan Selandia Baru berkumpul bersama di luar gedung pertemuan untuk menuntut penundaan PACER Plus.

Semua pihak yang hadir diharapkan menunda penandatanganan itu hingga studi dan konsultasi tentang dampak PACER Plus dilakukan dengan layak bersama rakyat Pasifik. “Kami melihat bahwa PACER Plus sebagai sebuah kesepakatan hanya akan memberikan keuntungan bagi Australia dan Selandia Baru. Kesepakatan ini juga akan membatasi ruang gerak rakyat Pasifik untuk menentukan model pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan mereka,” ujar Adam Wolfenden, juru kampanye Pacific Network on Globalisation (PANG).

Hal ini juga disadari oleh pemerintah Papua Nugini hingga akhirnya mereka menarik diri dari negosiasi PACER Plus pada tahun 2016 karena menganggap hanya akan mendatangkan kerugian bagi ekonomi negara tersebut.

Langkah Papua Nugini kemudian diikuti oleh Fiji yang keberatan dengan klausul perlindungan industri yang dinilai sangat minim melindungi usaha kecil. Begitu pula dengan Vanuatu yang akhirnya memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam upacara penandatanganan dan akan menunggu dampak PACER Plus sebelum nanti keterlibatannya diputuskan.

Dengan tarik dirinya tiga negara tersebut dari PACER Plus, maka sesungguhnya kesepakatan perdagangan bebas ini kehilangan dukungan dari mayoritas negara Melanesian Spearhead (MSG). “Apa yang benar-benar menjadi pertanyaan sekarang yaitu apakah mereka yang menandatanani PACER Plus benar-benar mengerti dampaknya bagi mereka? Ketergesa-gesaan untuk menandantangani PACER Plus membuat rakyat makin tidak terlibat dalam prosesnya,” ujar Wolfenden.

Di Tonga sendiri, muncul petisi penolakan terhadap PACER Plus. Dalam petisi yang dilayangkan kepada Perdana Menteri Tonga, Akilisi Pohiva, sebuah kelompok masyarakat meminta agar pemerintah mengkaji ulang semua klausul dalam PACER Plus dan menghitung dampaknya bagi rakyat Tonga.

“Upacara penandatanganan PACER Plus terjadi hampir delapan tahun sejak Menteri Perdagangan Tonga ditekan untuk menyetujui peluncuran negosiasi PACER Plus yang berlangsung di Samoa pada tahun 2009. Setelah itu, semua negosiasi PACER Plus selalu dimulai oleh kepentingan Australia dan Selandia Baru dan sedihnya lagi, negosiasi PACER Plus juga diakhiri dengan mengutamakan kepentingan kedua negara tersebut,” ujar Wolfenden.

Tidak khawatir

Terlepas dari kerasnya kritik yang ditujukan untuk PACER Plus, Selandia Baru menilai bahwa kesepakatan ini akan menghubungkan dengan cepat segala bentuk pembangunan ke sektor perdagangan. Selandia Baru menganggap bahwa penandatanganan PACER Plus ini patut dirayakan setelah hampir 10 tahun hanya berhenti di meja perundingan.

Menteri Perdagangan, Todd McClay mengatakan bahwa dengan adanya PACER Plus maka akan ada aliran dana untuk memperbesar ekspor dari negara-negara Pasifik dan akan dipermudah proses ekspornya. “Ini kesepakatan berkualitas tinggi yang akan memberikan kepastian bagi eksportir dan benar-benar akan membantu negara-negara Pasifik untuk bisa memenuhi persyaratan perdagangan internasional,” katanya.

Bagi McClay, PACER Plus akan bisa mentransformasi dan memodernisasi ekonomi negara-negara Pasifik. “Mereka bisa memenuhi syarat-syarat dan aturan perdangangan internasional,” ujarnya.

McClay tidak khawatir dengan absennya tiga negara dengan ekonomi terbesar di Pasifik. PACER Plus akan tetap berjalan secara fleksibel. “Saya cukup tenang meski mereka tidak bergabung. Lagipula, ini bukan soal pemaksaan. Ini tentang kerjasama dan mereka akan melihat keuntungan dari PACER Plus. Kami tetap terbuka untuk negara-negara di Pasifik yang ingin menyusul untuk menandatangani kesepakatan ini,” ujarnya. **

 

 

 

loading...

Sebelumnya

Selandia Baru terus perketat kedatangan migran Pasifik

Selanjutnya

Australia akhirnya beri kompensasi bagi pengungsi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Mamta |— Minggu, 10 Juni 2018 WP | 3066x views
Otonomi |— Minggu, 10 Juni 2018 WP | 2927x views
Pilkada Papua |— Selasa, 12 Juni 2018 WP | 2494x views
Anim Ha |— Selasa, 12 Juni 2018 WP | 2401x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat