Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Presiden Vanuatu meninggal dunia
  • Minggu, 18 Juni 2017 — 16:07
  • 892x views

Presiden Vanuatu meninggal dunia

Vanuatu sedang dirundung duka. Tanpa disangka-sangka, sang presiden, Baldwin Lonsdale meninggal dunia di Port Vila pada Sabtu (18/6/2017) dini hari.
Almarhum Presiden Vanuatu, Baldwin Lonsdale. /AFP via RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Port Vila, Jubi – Vanuatu sedang dirundung duka. Tanpa disangka-sangka, sang presiden, Baldwin Lonsdale meninggal dunia di Port Vila pada Sabtu (18/6/2017) dini hari. Baldwin sebelumnya berjuang melawan serangan jantung yang ia derita pada Jumat (17/6/2017) malam. Namun, setibanya di Rumah Sakit Vila Central, nyawa Baldwin tak dapat terselamatkan lagi. Ia wafat pada usianya yang ke-67 tahun.

“Vanuatu baru saja kehilangan salah seorang pemimpin besarnya,” ujar Sela Molisa, mantan anggota parlemen yang menggambarkan Baldwin sebagai sosok rendah hati dan pemberani. “Vanuatu sangat beruntung dipimpin oleh beliau,” tuturnya lagi.

Seluruh penjuru negeri memasang bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung. Ratusan keluarga, teman-teman dan anggota pejabat publik berkumpul di luar rumah sakit untuk melepas jenazah Baldwin diberangkatkan ke rumah duka.

Anggota kabinet langsung menggelar pertemuan untuk merancang acara duka yang biasanya terdiri dari upacara kenegaraan. Jenazah Baldwin disemayamkan terlebih dahulu di Istana Negara pada Sabtu malam.

Baldwin Jacobson Lonsdale lahir di Mota Lava, sebelah utara pulau Banks pada tahun 1950. Ia tumbuh menjadi pejabat publik senior dan sekretaris jenderal pemerintah provinsi Torba sebelum akhirnya menjadi pendeta gereja Anglican.

Pada September 2014, Baldwin terpilih menjadi presiden setelah melewati serangkaian pemilu delapan putaran. Ia kala itu memperoleh 2/3 suara mayoritas dari parlemen dan eksekutif provinsi.

Baldwin Lonsdale berjanji untuk menegakkan konstitusi dan meminta agar rakyat Vanuatu tetap bersatu. “Saya tahu bahwa ada tanggung jawab yang sangat besar sebagai kepala negara. Tapi, prioritas pertama saya adalah untuk meyakinkan bahwa konstitusi bangsa ini ditegakkan dan bahwa perdamaian, persatuan dan keadilan serta harmoni sepanjang masa,” ujarnya saat pelantikan dirinya menjadi presiden.

Komitmen itulah yang diuji pada masa penuh krisis tahun 2015 ketika Vanuatu terserang badai siklon dan krisis politik. Pada Maret 2015, negara Vanuatu menderita karena terserang badai Pam kategori lima yang menyapu habis kepulauan. Ribuan rumah hancur dan pemiliknya menjadi terlunta-lunta tanpa tempat tinggal serta banyak lahan pertanian dan infrastruktur yang juga hancur. 

Pada saat itu, Baldwin tengah berada di Jepang menghadiri konferensi pengurangan risiko bencana. “Sebagai sebuah bangsa, sebagai kepala negara ini, hati saya tertuju untuk rakyat. Semua orang merasakan hal yang sama karena kami tidak tahu apa yang menimpa keluarga kami di rumah,” ujarnya dalam pidato di konferensi itu dan menyentuh hati para hadirin dari berbagai negara.

Baldwin menggambarkan badai Pam sebagai sebuah monster yang menyapu seluruh hasil pembangunan. Ia juga menyalahkan perubahan iklim yang berkontribusi menciptakan bencana tersebut.

Krisis politik

Enam bulan kemudian, ketika negara belum pulih benar dari serangan badai Pam, krisis yang lain terjadi di Port Vila. Pada Oktober 2015, sekitar 15 orang anggota parlemen yang mencapai hampir setengahnya dari kabinet pemerintahan perdana menteri Sato Kilman dituduh terlibat korupsi berjamaah.

Lagi-lagi saat itu, Baldwin tengah berada di luar negeri. Salah seorang anggota parlemen yang menjadi tersangka sekaligus juru bicara parlemen, Marcellino Pipite membela dirinya dengan menyatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh 13 orang rekannya itu atas nama presiden.

Baldwin buru-buru kembali ke tanah air dan langsung membantah pembelaan Pipite. Ia balik menuding bahwa tindakan Pipite ini merupakan tindakan yang memalukan. “Saya akan bersihkan seluruh kotoran ini dari halaman saya. Demi bangsa ini, kita harus menghentikan aksi menjijikkan ini,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan televisi.

Baldwin gagal membantah tuduhan Pipite di pengadilan, ia akhirnya membekukan parlemen dan menyelenggarakan pemilu sela pada Januari 2016. Artinya, ia juga membekukan pemerintahan perdana menteri Kilman dan membentuk pemerintahan baru dengan penuh semangat reformasi.

Saat pelantikan parlemen baru, Baldwin menyatakan bahwa korupsi telah menyalahgunakan kepercayaan publik demi kepentingan pribadi. Ia mendeskripsikan struktur parlemen baru sebagai takdir baru bagi Vanuatu.

“Saat itu ia sangat tegas. Sejarah akan mengenang beliau karena ini. Saya yakin pemerintah dan khususnya rakyat akan mengenang jasa beliau yang luar biasa untuk Vanuatu,” ujar Molisa.

Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai dalam pidato penghormatan jenazah mengatakan bahwa negara akan menyelenggarakan upacara kenegaraan terlebih dahulu sebelum jenazah dikebumikan di Mota Lava.

Berdasarkan konstitusi, juru bicara parlemen, Esmon Saimon otomatis menjadi pejabat sementara presiden. Untuk memilih presiden pengganti Baldwin, harus dilakukan oleh komisi electoral dalam waktu tiga pekan mendatang.

“Dan sekarang, kita semua bersatu dalam suasana duka. Jasanya untuk bangsa ini tidak terganti oleh apapun dan tidak akan terlupakan,” ujar direktur pemberitaan Vanuatu Daily Post, Dan McGarry. Selamat jalan, Baldwin Lonsdale…**

 

Sebelumnya

Misionaris yang dideportasi dari PNG minta penjelasan

Selanjutnya

Provinsi Gulf hanya miliki 26 anggota kepolisian

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe