Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Pendidikan Dasar yang Terlantar (1)
  • Minggu, 18 Juni 2017 — 18:11
  • 1104x views

Pendidikan Dasar yang Terlantar (1)

Pembusukan melalui pendidikan di Papua berlangsung tanpa henti. Berbagai usaha sudah dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dan bergelimang dana. Namun, kenapa justru perubahan justru begitu sulit berlangsung dengan massif?
Kondisi SD YPK Sion Sidey di Kampung Sidey Pantai, Kabupaten Manokwari (foto: Insos Maryar)
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

Oleh Marthen Ramar, Jose Satia, Insos Maryar, dan  I Ngurah Suryawan (Mahasiswa dan Dosen Jurusan Antropologi Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat).

Jika berkeinginan “memerdekakan” orang Papua, satu-satunya jalan adalah meningkatkan derajat pendidikannya. Dengan demikian mereka tidak akan mudah untuk dibodohi terus-menerus. Semua orang mengetahui itu, namun sungguh susah untuk menggerakkan tenaga dan hati ini melakukan sesuatu yang kecil namun berarti dalam pendidikan di Tanah Papua.

Pembusukan melalui pendidikan di Papua berlangsung tanpa henti. Berbagai usaha sudah dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dan bergelimang dana. Namun, kenapa justru perubahan justru begitu sulit berlangsung dengan massif?

Pendidikan dasar menjadi salah satu permasalahan penting yang memberikan dampak hebat dalam proses pendidikan selanjutnya di Tanah Papua. Justru di sinilah terletak permasalahan mendasarnya. Pendidikan dasar tidak mendapatkan prioritas sehingga benih-benih anak Papua tidak tertangani dengan baik jika tidak mendapatkan pendidikan yang baik pula. Pendidikan dasar menjadi terlantar. Berat mengatakan tapi itulah kenyataannya.

Salah satunya adalah yang terjadi di pinggiran Manokwari, lima jam perjalanan dari Kota Manokwari. Kota Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat tidak lepas dari persoalan tersebut. Wilayah Sidey tidak terlalu jauh dari Manokwari. Namun di Kampung Sidey Pantai, Kabupaten Manokwari situasinya sangat ironis. Pendidikan di kampung ini justru kurang mendapat perhatian dari para orangtua, guru dan pemerintah daerah. Padahal letak Kampung Sidey Pantai ini hanya berada di pinggiran Kota Manokwari. Jika pinggiran kota saja sudah seperti ini, bagaimana nasib pendidikan dasar yang terjadi di daerah pedalaman dan kampung-kampung yang jauh dari wilayah Kota Manokwari?

Sidey yang Terjepit

Wilayah Sidey di Kabupaten Manokwari dikenal sebagai daerah transmigrasi. Jika menuju Sidey dari Kota Manokwari, kita akan melihat barisan pohon sawit dan perkampungan transmigrasi. Dataran Sidey, begitu masyarakat sering menyebut daerah yang didominasi oleh para transmigran dan beberapa masyarakat lokal dari orang Meyakh yang bermigrasi dari daerah Pegunungan Arfak menuju ke wilayah-wilayah pantai. Mereka bermigrasi untuk bertahan hidup dan kemudian berinteraksi dengan berbagai komunitas etnik lainnya di Papua. Pada momen inilah—adanya migrasi—yang memungkinkan mereka mengenal dunia lain selain kampung dan dunia kelompok etnik mereka.

Untuk sampai pada Kampung Sidey Pantai, kita bisa menggunakan Bis Damri atau angkutan lokal yang mengangkut penumpang ke Kampung Sidey Pantai. Dari Kota Manokwari, transportasi menuju Sidey berada di areal parkiran mobil di Pasar Wosi. Kita bisa juga menggunakan motor dengan memakan waktu 5 jam perjalanan untuk sampai pada daerah ini.

Dalam perjalanan mulai keluar dari Pasar Wosi kita akan melihat berbagai bentuk bangunan berupa ruko, toko-toko aneka makanan dan minuman serta peralatan rumah tangga. Ada juga yang menjual peralatan bangunan sampai pada usaha yang paling kecil yaitu penjual bensin eceran dan pinang yang dijual dipinggiran jalan dan beberapa rumah warga. Dari Kodam yang terdapat di daerah Arfai hingga Maripi kita akan dihibur dengan hembusan angin yang tertiup sepoi-sepoi dari arah Pantai Pasir Hitam di Maripi. Di sinilah kita akan dapati sebuah pabrik semen yang berdiri megah. Daerah Warmare dan Supsay pada daerah ini yang kita dapati hanyalah pepohonan kelapa sawit yang tumbuh di sepanjang kiri dan kanan jalan milik PT. Medco. Berikutnya kita akan menemukan deretan rumah-rumah warga serta usaha bengkel motor, kios, warung makan, mini market, pasar umum dan bangunan tempat beribadah gereja dan masjid, serta bangunan sekolah mulai dari SD, SMP hingga SMA dari SP 1 sampai SP 10.

Kampung Sidey adalah nama awal yang disematkan oleh para bestuurs (pamong/pegawai pemerintah) Belanda yang ditugaskan di Manokwari hingga tahun 1975. Setelah pergantian kekuasaan ke Indonesia, Kampung  Sidey  diubah menjadi Sidey  Baru pada tahun 1995. Pada tahun 1990-an ini jugalah pengerahan transmigrasi besar-besaran yang terjadi di wilayah Manokwari, khususnya di Wilayah Sidey. Satuan-satuan pemukiman inilah yang kemudian menggerakkan perubahan mulai dari dataran Prafi hingga Sidey. Lalu dimana nasib masyarakat lokal Papua yang bermigrasi dari wilayah pedalaman menuju wilayah dataran serta pesisir tersebut?

Masyarakat lokal Papua perlahan namun pasti tersingkir dengan transmigran. Selain jumlah yang sudah merata dan seimbang, kemampuan untuk menggerakkan perekonomian membuat mereka harus tersisih. Beberapa kampung-kampung masyarakat lokal Papua meski tetap berdiri namun bergerak lambat untuk perubahan. Sidey dengan demikian menjadi “wilayah” dari para transmigran.  

SD di Sidey 

SD YPK (Yayasan Pendidikan Kristen) Sion Sidey adalah salah satu sekolah dasar yang bertempat di Kampung Sidey pantai Distrik Sidey Kabupaten Manokwari. Kepala sekolah SD ini adalah Yustus Bubui. SD YPK Sion Sidey memiliki 7 tenaga guru, 3 di antaranya PNS termasuk kepala sekolah, dan 4 lainnya tenaga guru honor. Fasilitas fisik memiliki 3 ruang kelas, 3 diantaranya tembok dan 3 lainnya stengah papan. Sekolah ini memiliki jumlah 80 siswa yang menuntut ilmu di SD YPK Sion Sidey.

Berdirinya SD  YPK  Sion Sidey diawali dari inisiatif dari Bapak Paulus Moktis sekembalinya  dari  Tidore. Awalnya adalah keinginnya untuk membuat perubahan di kampung dalam bidang pendidikan yaitu mendirikan sekolah. Selain itu, Paulus Moktis juga menggerakkan masyarakat untuk program pertanian untuk menopang kebutuhan hidup mereka. Hal lainnya yang dilakukan adalah pembanguan  gedung  Gereja.  Dan  kemudian  setelah  selesai  mereka  program  ini  dibentuk  dan dibangun  maka  yang  menjadi  guru  pertama  adalah  Bapak  Paulus  Moktis  sendiri. Mulai  dari  saat  itu  sampai sekarang, proses pendidikan di SD YPK Sion Sidey tetap berjalan  di tengah kekurangan  tenaga  kerja  pendidik. (*)
 

loading...

Sebelumnya

Pola Mendidik “Gaya Noken”, Peserta Didik Bukan Noken

Selanjutnya

Tanah adat masyarakat adat Moi: Bukan untuk perkebunan kelapa sawit

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe