Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Lapago
  3. Dirut RSUD Wamena: tidak betul kematian ibu hamil dan bayi meningkat setiap tahun
  • Senin, 19 Juni 2017 — 08:16
  • 524x views

Dirut RSUD Wamena: tidak betul kematian ibu hamil dan bayi meningkat setiap tahun

Dr. Sahureka menjelaskan angka kematian perempuan saat persalinan kecil. Pada tahun 2015, terdapat tujuh kasus kematian perempuan dari total 1.888 persalinan.
Dirut RSUD Wamena ketika memberikan klarifikasi-Jubi/Islami
Islami Adisubrata
islami@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

Wamena, Jubi – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena, Dr. Felly G. Sahureka mengklarifikasi kekeliruan dalam pemberitaan Koran Jubi dan tabloidjubi.com edisi Kamis 15 Juni 2017 yang menyebutkan kematian ibu hamil dan bayi meningkat di rumah sakit Wamena.

Dr. Sahureka menjelaskan angka kematian perempuan saat persalinan kecil. Pada tahun 2015, terdapat tujuh kasus kematian perempuan dari total 1.888 persalinan.

Selanjutnya, dalam tahun 2016, terdapat enam perempuan yang meninggal dunia dari total 2.009 persalinan. Sementara tahun ini, data RSUD Wamena tentang persalinan sejak Januari-Maret, sudah ada 319 persalinan. Dari ratusan persalinan itu, dokter Sahureka menegaskan tidak ada kasus kematian selama rentang waktu tersebut.

Untuk kelahiran bayi dalam perawatan perinatologi RSUD Wamena, sejak Januari-Maret 2017, dokter Sahureka menjelaskan jumlah kelahiran sebanyak 319 bayi.

"Terdapat 293 bayi yang masih hidup. Kurang dari 48 jam, sebanyak 15 bayi meninggal dan lebih dari 48 jam 11 orang meninggal. Sehingga total bayi meninggal sejak Januari-Maret 2017 sebanyak 26 bayi," jelasnya. “Jadi tidak betul kalau disebutkan bayi yang baru dilahirkan dari tahun 2016 lalu, dari total 2.009, hanya 293 bayi yang hidup,” tegasnya kepada Jubi di RSUD Wamena, Minggu (18/6/2017).

Dokter Sahureka menjelaskan, kematian perempuan dalam persalinan juga disebabkan beragam faktor. “Jadi, harus dilihat dulu prosesnya sebelum pasien yang melahirkan ke rumah sakit, karena ada suatu proses dari Puskesmas atau dari kampung bahkan tempat tinggal pasien,” katanya.

Dokter spesialis kandungan di RSUD Wamena, Dr. Charles C. Ratulangi, Sp.Og menuturkan, angka kematian ibu dalam persalinan banyak disebabkan  pendarahan, infeksi kehamilan dan masalah kekurangan gizi bagi ibu hamil.

Menurutnya, secara umum angka kematian ibu yang ada di Rumah Sakit sedikit berbeda dengan yang ada di Kabupaten Jayawijaya secara keseluruhan. Kematian ibu hamil, paling sering disebabkan pendarahan pasca melahirkan, kemudian infeksi yang ditandai dengan darah tinggi.

“Kalau di Wamena, rata–rata pendarahan ada tapi sedikit, yang paling banyak itu faktor lain seperti infeksi, ada yang hamil dengan kanker rectum atau anus, kalau pendarahan biasanya disebabkan karena memiliki banyak anak,” ujar Dr. Charles.

Menurutnya, untuk kematian yang diakibatkan karena infeksi biasanya pasien datang terlambat atau tidak pernah melakukan pemeriksaan rutin.

“Kalau tidak pernah periksa dan pas bersalin tensinya sudah mencapai 200, ini yang mengakibatkan potensi kematian, begitu tensinya tinggi efeknya bukan hanya pada kehamilan saja tetapi bisa juga ke yang lain seperti jantung dan ginjal,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Masyarakat diminta terus buka lahan pertanian

Selanjutnya

Kapolda dan Pangdam ajak OMK se-Peguteng bangun Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua