Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lembar Olahraga
  3. Faktor pendekatan penyebab pelatih lokal gagal di Persipura
  • Kamis, 22 Juni 2017 — 14:37
  • 1787x views

Faktor pendekatan penyebab pelatih lokal gagal di Persipura

"Ini hanya masalah pendekatan pelatih kepada pemain. Pelatih harus mampu beradaptasi dan berbaur dengan pemain. Bukan datang langsung mau terapkan sistemnya dia. Setiap pemain dan tim punya karakter masing-masing," katanya.
Pemain Persipura saat latihan di Stadion Mandala Jayapura - Jubi/Jean Bisay
Arjuna Pademme
Editor : Jean Bisay
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Jayapura, Jubi - Persipura, Mutiara Hitam dari Timur Indonesia, merupakan salah satu klub papan atas tanah air. Satu gelar Liga Indonesia dan tiga piala ISL menempatkan Boaz Solossa dan kawan-kawan menjadi klub yang mendominasi gelar kompetisi tertinggi di Indonesia.

Namun dibalik kesuksesan itu, tercatat hanya satu gelar juara yang diperoleh Mutiara Hitam ketika diarsiteki pelatih lokal. Gelar juara Liga Indonesia 2005, didapat saat Rahmad Darmawan (RD) menjadi juru taktik anak-anak dari bumi Cenderawasih. Tiga gelar ISL diboyong ke Papua ditangan pelatih asal Brazil, Jacksen F. Tiago.

RD satu-satunya pelatih lokal Indonesia yang sukses membesut Persipura, selain HB Samsi, peletak dasar sepakbola ala samba Brazil, dipadukan dengan gaya tarian Yosim Pancar, khas Papua yang kini menjadi ciri khas Mutiara Hitam.

"Faktor pendekatan kepada pemain penyebab pelatih lokal di Indonesia selalu gagal ketika melatih Persipura," kata mantan pemain belakang Mutiara Hitam, Jack Kamasan Komboy ketika berbincang-bincang dengan Jubi, Rabu (21/6/2017).

Kata Jack yang kini memilih menjadi politisi setelah gantung sepatu, 2009 lalu, pelatih lokal Indonesia terkesan kaku dan sulit berbaur dengan pemain. Pelatih lokal seakan sulit menaklukkan karakter dan watak anak-anak Papua yang keras.

"Kitong (kami/kita) anak-anak Papua ini, semakin ditekan, semakin dikerasi, semakin menjauh. Akan semakin sulit diatur," ujarnya.

Ketika RD melatih Persipura kata Jack, ia memang menerapkan sikap disiplin. Namun hanya saat latihan dan jelang pertandingan. RD tidak terlalu mengekang pemainnya.

"Rahmad Darmawan hanya selalu mengatakan kepada kami ketika itu, saya hanya butuh kosentrasi kalian dua jam ketika latihan pagi, dua jam ketika latihan sore, dan 90 menit disaat pertandingan. Kalian pasti tahu sendiri apa yang akan kalian lakukan di lapangan. Jaga nama baik tim ini," ujarnya.

Meski kalimat itu terdengar cukup sederhana, namun pemain merasa  punya tanggungjawajab menjaga kepercayaan pelatih dan nama besar Persipura. Pemain dengan sendirinya sadar, harapan masyarakat Papua dalam dunia sepakbola ada pada diri mereka.

Ketika Jacksen Tiago pertama kali datang ke Persipura menggantikan Raja Isa, pelatih asal Malaysia yang didepak manajemen ditengah jalan lanjut Jack, ia melakukan hal serupa.

Ia memanggil semua pemain dan bicara dari hati ke hati. Menanyakan kondisi tim dan seperti apa keinginan pemain. Hasilnya, Jacksen membawa Persipura menjadi tim pertama yang menjuarai ISL dimusim 2008/2009.

"Ini hanya masalah pendekatan pelatih kepada pemain. Pelatih harus mampu beradaptasi dan berbaur dengan pemain. Bukan datang langsung mau terapkan sistemnya dia. Setiap pemain dan tim punya karakter masing-masing," katanya.

Sejak ditinggal Jacksen 2014 lalu, pelatih lokal Jafri Sastra mencoba peruntungannya menangani pasukan Mutiara Hitam, namun ia gagal. Sederet hasil tak memuaskan di Piala TSC membuat manajemen mendepaknya dari kursi kepelatihan. Pimpinan juru taktik diambil alih Alfredo Viera asal Argentina. Persipura keluar sebagai juara TSC.

Sepeninggalan Alfredo, Lestiadi yang menggantikannya, gagal mengikuti jejak pelatih lokal pendahulunyu. Ia harus angkat kaki lebih awal dari Papua setelah penampilan Persipura tidak konsisten dalam beberapa laga awal kompetisi Liga 1.

Manajemen bergerak cepat, mencari pelatih baru. Pilihan jatuh kepada pelatih asal Brazil, Wanderley Machoda da Silva.

"Machoda pernah melatih Perseman Manokwari. Pagi ini, Selasa (20/6/2017) dia akan tiba bersama manajer Rudy Maswi,” kata Ketua Umum Persipura, Benhur Tommi Mano, Senin (19/6/2017) malam.

Wali Kota Jayapura itu berharap, semua pihak memberikan dukungan kepada Wanderley dan tim pelatih untuk dapat bekerja maksimal. (*)

loading...

Sebelumnya

Wanderley cocok latih Persipura

Selanjutnya

Persipura benahi fisik sebelum libur Idul Fitri

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6190x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5768x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3926x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe