TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Tarik diri dari Kesepakatan Paris, para pemimpin Pasifik kecam Trump
  • Jumat, 23 Juni 2017 — 07:04
  • 819x views

Tarik diri dari Kesepakatan Paris, para pemimpin Pasifik kecam Trump

"Saya sudah menginstruksikan kepada jajaran saya agar tidak membicarakan isu-isu perubahan iklim apapun dengan negeri itu (AS) hingga kebijakan baru berlaku," ujar Sopoaga kepada Radio New Zealand.
Ilustrasi kampanye Kepulauan Marshall melawan dampak perubahan iklim – 350.org
Pacific Islands Report
Editor : Zely Ariane

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Apia, Jubi – Deputi Perdana Menteri Samoa Fiame Naomi Mata’afa mengungkapkan rasa kecewanya atas pengumuman Donald Trump, Presiden Amerika Serikat menarik diri dari Kesepatakan Perubahan Iklim Paris.

Berbicara pada Samoa Observer sebagai Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Fiame Naomi Mata'afa juga tidak heran saat anggota kongres Samoa Amerika, Aumua Amata, mendukung posisi Trump itu.

"Aumua Amata adalah anggota kongres perempuan dari Partai Republik (Republikan) meskipun dia mewakili Teritori Kepulauan kami," kata Fiame. "Jadi saya tidak heran atas posisinya."

Sebagai figur terkemuka yang cukup keras mengadvokasi pentingnya menangani perubahan iklim di negeri itu, Fiame berharap Amerika seharusnya mempertimbangkan kembali posisinya. 

“Sama seperti kekecewaan para pemimpin dunia lainnya, termasuk para pemimpin dari Samoa dan Pasifik terhadap pemerintahan baru AS," ujarnya. 

Namun Fiame juga menitipkan pesan pada 174 negara yang menandatangani Kesepakatan Paris untuk tetap maju. 

“Yang paling penting adalah seluruh dunia yang menandatangani Kesepakatan Paris agar bergerak maju dalam respon global kita terhadap Perubahan Iklim. Semoga AS dapat menyelesaikan persoalan ini secara internal bersama-sama negeri-negeri lain di dunia."

Di tahun 2015, Amerika menandatangani Kesepakatan Paris saat Presiden Barack Obama masih menjabat.

Namun Presiden AS Donald Trump sudah mengumumkan bahwa AS akan menarik diri dari kesepakatan itu.

“Dalam rangka memenuhi tanggung jawab saya melindungi Amerika dan warga negaranya, Amerika Serikat akan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris," ujar Trump dalam sebuah pernyataannya dari Gedung Putih. 

Tindakan-tindakan Trump telah sejak awal dikritik oleh para pemimpin Pasifik.

Misalnya Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, meminta para pejabat negaranya untuk membatalkan semua kerjasama dengan Amerika Serikat karena menganggap keputusan AS yang keluar dari kesepakatan perubahan iklim Paris sebagai tindakan merusak.

"Saya sudah menginstruksikan kepada jajaran saya agar tidak membicarakan isu-isu perubahan iklim apapun dengan negeri itu (AS) hingga kebijakan baru berlaku," ujar Sopoaga kepada Radio New Zealand.

"Saya rasa tidak masuk akal bicara soal hal-hal lain jika kita tidak menangani persoalan perubahan iklim terlebih dahulu."

Sopoaga adalah salah satu dari beberapa pemimpin Kepulauan Pasifik  yang bereaksi kecewa dan tidak percaya atas keputusan Donald Trump. 

"Kami sangat, sangat sakit hati," kata Sopoaga. "Saya rasa pernyataan itu amat sangat destruktif, suatu sikap yang menghambat keluar dari mulut seorang pemimpin dari negeri yang barangkali merupakan poluter terbesar di bumi ini, sehingga kami sangat kecewa sebagai negeri pulau kecil yang sudah menderita akibat dampak perubahan iklim ini."

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, yang akan mengepalai putaran pembicaraan iklim PBB selanjutnya di bulan November, mengatakan keputusan tersebut sangat mengecewakan bagi rakyat bangsa-bangsa yang rentan.

“Saya lakukan apa yang saya bisa, bersama dengan banyak pemimpin dunia lainnya untuk mencoba mengubah pendirian Presiden Trump agar tetap bersama kita bahu membahu mengatasi tantangan terbesar planet bumi yang harus kita hadapi saat ini,” ujar Baimarama dalam sebuah pernyataan. “Sebenarnya hilangnya kepemimpinan AS dalam isu ini akan sangat disayangkan, perjuangan ini masih jauh dari selesai.”

Presiden Majelis French Polynesia, Marcel Tuhaini juga menunjukkan kekhawatirannya.

“Tidak ada janji elektoral yang dapat menang di atas kepentingan tertinggi kemanusiaan,”ujar Tuihani. “Kami menyesalkan presiden AS tak lagi punya pertimbangan apapun terhadap rakyat negara-negara Kepulauan Pasifik, yang kehidupannya terancam oleh dampak perubahan iklim yang sudah terbukti secara ilmiah.”

Negara lainnya yang juga terancam adalah Kepulauan Marshall, sebuah negara yang berasosiasi bebas denagn Amerika Serikat yang menjadi tempat bagi basis militer AS, juga mengritik tindakan AS itu. Presidennya, Hilda Heine, mengatakan keputusan itu akan memiliki dampak mengerikan, dan sangat membingungkan bagi mereka-mereka yang mendukung kepempimpinan AS di panggung dunia.  

Kesepakatan Paris

Tujuan utama Kesepakatan Paris adalah menguatkan respon global terhadap perubahan iklim dengan menjaga kenaikan temperatur global di abad ini tetap di bawah 2 derajat celsius di atas level pra-industri serta menggalakkan upaya pembatasan peningkatan kenaikan temperatur lebih jauh lagi hingga 1,5 derajat celcius.

Lebih lanjut, kesepakatan itu bertujuan untuk menguatkan kemampuan negara-negara menangani dampak perubahan iklim.

Guna mencapai tujuan ambisius ini, aliran dana yang tepat, suatu kerangka teknologi dan penguatan pembangunan kapasitas harus diwujudkan, karena itu  mendukung tindakan yang dilakukan oleh negeri-negeri berkembang dan negeri-negeri paling rentan, akan sejalan dengan tujuan nasional mereka.

Kesepakatan itu juga menyediakan peluang penguatan transparansi atas aksi dan dukungan melalui kerangka kerja yang lebih cepat dan transparan.(*)

loading...

Sebelumnya

Helikopter jemput caleg perempuan yang terancam

Selanjutnya

Portal PNGi diluncurkan, ungkap penyelewengan kekuasaan di PNG

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4869x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4293x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4162x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3490x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2945x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe