Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Meepago
  3. Paroki bertanggung jawab untuk keselamatan umat
  • Jumat, 23 Juni 2017 — 19:10
  • 5451x views

Paroki bertanggung jawab untuk keselamatan umat

“Jadi, kalau kita tidak bisa menyelamatkan iman umat, maka kita punya iman sendiri kacau. Di sini (Paroki Mauwa) adalah tempat untuk menyelamatkan iman. Bukan tempat kasih rusak iman,” kata Mgr. Philip Saklil di hadapan umat setempat. 
Uskup Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr ketika dijemput umat Quasi Mauwa dalam rangka peresmian pastoran dan pengukuhan Quasi menjadi Paroki, Jumat (23/6/2017) – Jubi/Abeth You
Abeth You
Editor : Timoteus Marten
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua 

Dogiyai, Jubi – Uskup Keuskupan Timika, Papua, Mgr. John Philip Saklil, Pr mengatakan, menjadi sebuah paroki merupakan tanggung jawab besar untuk menyelamatkan iman umat beriman Katolik.

Hal itu dikatakan Uskup Saklil usai peresmian pastoran Sta. Agnes Mauwa, Dekenat Kamuu-Mapia, Dogiyai, Jumat (23/6/2017). 

“Jadi, kalau kita tidak bisa menyelamatkan iman umat, maka kita punya iman sendiri kacau. Di sini (Paroki Mauwa) adalah tempat untuk menyelamatkan iman. Bukan tempat kasih rusak iman,” kata Mgr. Philip Saklil di hadapan umat setempat. 

“Menjadi paroki itu juga meringankan urusan dan kepentingan banyak umat. Tidak boleh ada gangguan dan tidak boleh ada urusan-urusan lain, kecuali urusan gereja,” ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu syarat yang dipenuhi umat setempat untuk menjadi paroki yaitu melepaskan lahan demi membangun gereja dan pastoran. 

Ia mencontohkan, Paroki Madi di Dekenat Paniai, yang sebelumnya menjadi quasi (komunitas umat beriman setingkat paroki) itu sejak dulu tanahnya dilakukan pelepasan oleh umat setempat. 

“Supaya tanah ini bukan menjadi masalah lagi di kemudian hari. Sudah siapkan pastoran, supaya urusan-urusannya tidak seperti urus di pasar. Dan sudah ada program-program pembinaan sampai akhirnya memenuhi syarat untuk menjadi paroki,” katanya. 

Sementara Ketua Dewan Paroki Quasi St. Petrus Mauwa, Petrus Dogomo mengatakan, lahan untuk pembangunan gereja, pastoran dan aula adalah milik gereja setempat sejak dulu dan tak ada persoalan.

Menurut Dogomo, dalam persiapan menyongsong quasi menjadi paroki pihaknya melakukan beberapa pembangunan fisik, di antaranya membangun gedung pastoran dua lantai yang bahannya di-drop dari Nabire. Selain itu mereka membuat pagar tembok dan gapura. 

“Pembangunan gedung gereja ini swadaya umat murni dan dibangun di atas tanah milik gereja dan kami bangun ini selama satu tahun. Itu sejak pengesahan Stasi Mauwa menjadi Quasi Mauwa. Untuk dananya kami keluarkan sekitar Rp 1miliar lebih. Jadi, Kombas (Komunitas Basis Gerejani) sebelumnya ada empat, setelah jadi quasi menjadi lima ditambah Kombas Muniopa,”  katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Penggunaan dandes harus diketahui masyarakat Paniai

Selanjutnya

Kenang 25 tahun imamat, Tebay Kebadabi gelar misa di Waghete

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat