Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Meepago
  3. Kenang 25 tahun imamat, Tebay Kebadabi gelar misa di Waghete
  • Senin, 26 Juni 2017 — 15:55
  • 3248x views

Kenang 25 tahun imamat, Tebay Kebadabi gelar misa di Waghete

Dalam khotbahnya, Pater Neles Tebay Kebadabi, Pr menjelaskan bahwa injil Matius 10:26-33 meminta manusia janganlah takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh.
Pater Neles tebay Kebadabi, Pr saat menerima persembahan dari umat pada perayaan ekaristi di gereja Katolik St. Yohanes Pemandi Waghete, Minggu, (25/6/2017) - Jubi/Abeth You
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Deiyai, Jubi – Minggu (25/6/2017), umat Katolik Dekenat Paniai merayakan Pesta Perak 25 tahun Imamat Pater Neles Tebay Kebadabi, Pr di Gereja St. Yohanes Pemandi Waghete. Perayaan itu, dimulai dengan misa Ekaristi yang dipimpin oleh tujuh imam, yaitu P. Marthen E. Kuayo, Pr, P. Damianus Adii, Pr, P. P. Santon Tekege, Pr, P. Rufinus Madai, Pr, P.  C. Budiarto SJ, P. Paul Welor, Pr dan P. Neles Tebay Kebadabi, Pr.

Ekaristi dimulai pada jam 09.00 WP, diawali dengan perarakan dari halaman gereja. Sesampainya di depan gereja, arak-arakan  disambut dengan tarian penyambutan oleh  umat Paroki Waghete sekaligus menghantar para Romo menuju altar.

Ribuan umat yang hadir berasal dari Paroki Enarotali, Epouto, Damabagata dan Diyai. Cuacapun cukup cerah pada hari itu. Dalam khotbahnya, Pater Neles Tebay Kebadabi, Pr menjelaskan bahwa injil Matius 10:26-33 meminta manusia janganlah takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh.

“Kita tidak boleh takut. Jangan takut karena kasih Allah selalu bersama kita semua. Ingat, Yesus mengatakan ‘jangan takut’ sampai tiga kali di dalam khotbah-Nya ketika mengutus para murid-Nya untuk melayani. Perintah ini adalah perintah Ilahi, agar kita tidak takut kepada manusia, maut dan Iblis, bahkan kalaupun ketakutan itu berasal dari para penguasa, orang tua, setan-setan atau ancaman lainnya,” kata Tebay Kebadabi, Pr mengawali kotbahnya.

Pada kesempatan tersebut Ketua STFT “FT” Abepura ini mengkisahkan pengalaman pribadinya menjalani hidup imamat selama 25 tahun. Sempat sekali waktu dirinya dilanda cobaan namun ia tetap teguh pada panggilan imamat yang ditahbiskan pada 28 Juni 1992 di Timipotukebo, Waghete dengan pemberian nama Kebadabi merupakan pembuka jalan bagi orang lain.

Namun semua tantangan dan godaan tersebut hanya bisa dijawab dengan petunjuk dari Allah dan hendaknya semua godaan dan tantangan tersebut ditempatkan di hadapan Allah.

“Memang hari ini saya berbahagia kembali ke rumah lama di Waghete. Pikiran saya terfokus 25 tahun lalu di mana saat itu musim hujan, tapi sebelum seminggu mau tahbisan negeri Tigi menjadi langit biru, Danau Tigi tenang teduh hingga saya ditahbiskan. Setelah saya ditahbiskan menjadi imam Katolik Keuskupan Jayapura (kala itu) dari suku Mee yang keempat. Setelah tahbis, hujan kembali melanda Waghete hingga bulan September,” kenangnya.

Sesudah itu, dirinya ditugaskan di paroki Waghete selama enam bulan dan selanjutnya Tebay dipindahkan ke PPK Epouto selama satu tahun lalu dipindahkan ke kampus STFT “FT” sebagai tenaga dosen.

“Saya menjadi guru dari semua pastor di tanah Papua. Kebahagiaan saya bertambah karena ada adik-adik saya menjadi pastor dan itulah didikan saya. Buktinya hari ini ada di depan kita ada pater Damianus Adii, Pater Santon Tekege dan Pater Rufinus Madai. Jadi, umat Waghete kasih nama Kebadabi itu agar saya menjadi pembuka jalan bagi mereka yang lain. Contohnya saya pergi kuliah ke Roma, setelah saya selesai ada Pater Domin Hodo dan Pater Agus Tebay juga pergi kuliah di sana. Saya bukan jalan bagi yang lain. Dan itu sudah menjadi nyata,” tuturnya.

Ia menabahkan, alasan dirinya merayakan 25 tahun imamat di Waghete merupakan wujud syukur kepada Allah. Sebab, Allah itu maha kasih kepada kita semua.

“Allah kasih jadi kita terima saja. Kita tidak boleh takut, cemas, bimbang. Allah senantiasa menyertai kita selamanya,” pesannya.

Pastor Dekan Dekenat Paniai, Pater Marten E. Kuayo, Pr mengatakan, kembalinya Pater Kebadabi di negeri Tigi merupakan sebuah catatan yang mengingatkan kepada semua umat Katolik di Meuwodide bahwa ia hadir di Owaa Komoudaa (kembali rumahnya).

“Empat pater suku Mee (Theo Makai, Alm. Nato Gobay, Alm. Jack Mote dan Yan You) rayakan di kota, tapi Kebadabi kembali untuk bahagiakan kita. Juga kehadirannya ini memperkuat program Owaada,” ungkap Kuayo.

Sisi lain, menurutnya, kehadiran Tebay ini justru mengambil kekuatan, semangat dan  roh di Owaa Komoudaa untuk melanjutkan misi Allah bahwa memberitahukan kabar gembira Allah.(*)

loading...

Sebelumnya

Paroki bertanggung jawab untuk keselamatan umat

Selanjutnya

Uskup Timika deklarasikan gerakan “Stop Jual Tanah” di Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe