Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Pendidikan dasar yang terlantar (2)
  • Rabu, 28 Juni 2017 — 13:27
  • 2051x views

Pendidikan dasar yang terlantar (2)

SD YPK Sion Sidey mempunyai tenaga pengajar sebanyak tujuh orang. Tiga orang guru berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan empat orang guru sukarela yang berasal dari masyarakat di Kampung Sidey. Mereka terpanggil melihat kondisi adik-adik mereka dan akhirnya mengajar di sekolah tersebut.
Anak-anak di SD YPK Sion Sidey di Kampung Sidey Pantai, Kabupaten Manokwari, Papua Barat – Jubi/Insos Maryar
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

*Oleh Marthen Ramar, Jose Satia, Insos Maryar, dan  I Ngurah Suryawan

Salah satu permasalahan mendasar yang terjadi pada pendidikan dasar di Kampung Sidey adalah kurang adanya perhatian dari para guru, terutama kepala sekolah. Sang kepala sekolah sejak tahun 2012 sampai saat ini tidak pernah berada di tempat. Kepala sekolah hanya berada di sekolah jika ada ujian sekolah atau ada program-program bantuan yang masuk ke SD YPK Sion Sidey. Setelah itu, ia kembali ke kota dan meninggalkan sekolah serta para guru dan anak-anak. Situasi ini memang terkesan klise, namun itulah yang sejatinya terjadi dalam dunia pendidikan di Papua.

SD YPK Sion Sidey mempunyai tenaga pengajar sebanyak tujuh orang. Tiga orang guru berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan empat orang guru sukarela yang berasal dari masyarakat di Kampung Sidey. Mereka terpanggil melihat kondisi adik-adik mereka dan akhirnya mengajar di sekolah tersebut.

Para guru sukarela ini biasanya digaji Rp 500.000/bulan. Itu pun kalau uang berhasil dikumpulkan dari bantuan masyarakat. Kadang juga mereka tidak digaji. Namun hal itu tidak mengecilkan semangat mereka untuk mengajar. Mereka tetap semangat, saling mendukung dan membantu dalam mengajar adik-adik mereka di SD YPK Sion Sidey.

Kondisi yang sangat terbatas itulah yang menyebabkan proses pendidikan tidak berlangsung maksimal di SD YPK Sion Sidey. Anak-anak di Sidey banyak yang belum mengenal huruf, membaca, menulis serta menghitung dengan baik. Tentu ini bukan permasalahan yang biasa sebab pendidikan ini adalah bekal yang penting bagi kehidupan seseorang kelak. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka sangat disayangkan nasib mereka beberapa tahun ke depan.

Permasalahan lain yang menghambat perkembangan pendidikan di Kampung Sidey adalah kurangnya perhatian orangtua terhadap pendidikan anaknya. Salah satu contohnya, setiap pagi biasanya para guru berangkat ke sekolah pukul 08.00 – 09.00 WIT, karena harus singgah di rumah murid-muridnya di kampung untuk memandikan dan membawa mereka ke sekolah.

Dorlince Kemesrar, salah seorang guru SD YPK Sion Sidey mengungkapkan bahwa anak-anak dibiarkan oleh orang tua bermain atau diajak membantu mereka untuk berkebun. Daftar absensi menjadi bukti banyaknya anak-anak di Kampung Sidey yang lebih senang bermain daripada pergi ke sekolah.

Harapan

Meski berada di situasi serba terbatas, tentu ada harapan akan perubahan. Tepat pukul 07:30, Jose Satia, seorang mahasiswa Antropologi Universitas Papua (Unipa) yang sedang melakukan Praktek Penelitian Lapangan (PPL) di Kampung Sidey mengamati anak-anak sedang duduk-duduk dan berbicara di pinggir jalan bersiap menuju sekolah. Mereka duduk berombongan di jalan.

Mereka adalah siswa dari kelas 1 sampai 6 yang duduk melingkar sambil menunggu guru-gurunya datang, sambil bercerita dan bercakap. Beberapa di antaranya bisa/ingin bercerita. Salah satu cerita yang bisa mereka ceritakan adalah mop (cerita khas Papua). Ketika salah satu diantaranya bercerita, anak-anak lainnya mendengar.

Mereka datang lebih awal ke sekolah daripada guru-gurunya, karena mereka tahu bahwa mereka ingin dan butuh pendidikan. Antusiasme dan harapan inilah yang masih tersisa di Sidey di tengah keterbatasan. Tak lama kemudian guru-guru datang dan memulai proses belajar-mengajar.

Pelajaran di kelas 3 di SD YPK Sion Sidey berlangsung sepi. Di dalam kelas hanya 4 siswa yaitu 3 perempuan dan 1 laki-laki. Dua siswa lainnya tidak masuk. Jadi jumlah keseluruhan siswa kelas 3 hanya ada 6 siswa.

Tentu ini jumlah yang sangat memprihatinkan bagi saya, yang ingin belajar sangat sedikit di bandingkan dengan sekolah lainnya. Saat guru masuk ke ruang kelas langsung menanyakan kepada mereka apakah ada PR? Mereka menjawab dengan lepas bahwa mereka ada PR. Meski di tengah keterbatasan, mereka sangat antusias ingin dan rasa ingin tahu yang sangat besar untuk mengejar impian dan cita-citanya.

Selanjutnya mereka berdoa untuk mengawali pelajaran. Setelah itu mereka bernyanyi. Itulah simbol kebahagiaan anak-anak untuk mengawali pelajaran. Inisiatif untuk mengikuti pelajaran dan semangat belajarnya sangat tinggi, dengan tetap diam dan fokus pada apa yang dikatakan guru dalam memberikan pelajaran.            

Materi yang diajarkan guru untuk murid-murid saat itu adalah diagram pengatur. Mereka belajar soal makanan dari tumbuh-tumbuhan sayuran untuk dikonsumsi.

Proses belajar-mengajar berlangsung sangat baik. Guru sangat baik dalam mengemas dan memberi materi agar mudah dipahami murid-murid kelas 3 SD YPK Sion Sidey. Para siswa pun sangat siap dan percaya diri bahwa mereka siap dan akan menjawab pertanyaan yang akan diberikan gurunya.

Pada hari itu guru memberikan materi bagian pertama tentang makhluk hidup, seperti burung, ulat dan ayam adalah hewan, dan pohon jambu dan rumput adalah tumbuhan. Jadi, manusia, hewan, dan tumbuhan adalah makhluk hidup yang ada di bumi.

Guru mengatakan bahwa materi yang mau di tulis di papan tulis sebenarnya masih panjang, tapi papan tulis pendek. Ini menunjukan bahwa fasilitas seperti yang mereka butuhkan demi menunjang proses belajar dan mengajar sangatlah terbatas. Oleh sebab itulah materi yang disampaikan akhirnya terhambat. Fasilitas yang menjadi penghambat proses pendidikan, khususnya anak-anak di kampung-kampung di daerah pedalaman.

Fasilitas fisik memang sangat penting dalam menunjang proses belajar-mengajar. Tapi itu bukan satu-satunya yang penting. Hal yang terjadi di SD YPK Sion Sidey adalah kurangnya alat tulis-menulis dan buku atau bahan ajar bagi guru-guru.

Para murid juga terlihat banyak yang tidak memakai sepatu, tas, dan perlengkapan sekolah lainnya. Ini mungkin faktor ekonomi keluarga atau abainya pihak sekolah dalam memberikan fasilitas kepada peserta didik. Namun di tengah keterbatasan tersebut tidak menutupi semangat mereka untuk belajar.

Harus ada kesadaran dari pihak pemerintah, khusunya di bidang pendidikan untuk melihat kekurangan-kekurangan yang mereka alami agar proses belajar-mengajar menjadi lebih baik lagi, demi masa depan mereka sendiri, demi menegakkan martabat generasi penerus Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa dan dosen Jurusan Antropologi Universitas Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Tanah adat masyarakat Moi bukan untuk perkebunan sawit

Selanjutnya

Menuduh Benny Wenda sebagai buronan menunjukkan lemahnya kapasitas Dubes RI di NZ

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe