Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Sekolah adat dan tifa Sentani
  • Jumat, 30 Juni 2017 — 13:23
  • 2684x views

Sekolah adat dan tifa Sentani

"Kelompok sekolah adat ini baru berdiri selama tiga bulan dan kami mulai mengumpulkan koleksi hasil seni dari masyarakat di kampung," kata John Sokoy pemimpin Sekolah Adat kepada Jubi saat berkunjung ke stand sekolah adat di Kalkhote FDS ke X, Jumat (22/6/2017)
Tifa Sentani
Dominggus Mampioper
dominggusmampioper@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua

Jayapura, Jubi- Kelompok Sekolah Adat dari Kampung Hobong, Kabupaten Jayapura menampilkan hasil karya mereka dalam Festival Danau Sentani (FDS) ke X di Kalkhote, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura. Saat berkunjung para seniman sedang mengerjakan tiga buah tifa dan piring kayu untuk dipamerkan.

"Kelompok sekolah adat ini baru berdiri selama tiga bulan dan kami mulai mengumpulkan koleksi hasil seni dari masyarakat di kampung," kata John Sokoy pemimpin Sekolah Adat kepada Jubi saat berkunjung ke stand sekolah adat di Kalkhote FDS ke X, Jumat (22/6/2017)

Dia menambahkan pertama kali buka sekolah adat pesertanya sebanyak 15 orang saja dan kemudian bertambah lagi menjadi 30 orang murid sekolah adat.

"Kami mengerjakan semua aksesoris adat mulai dari tifa, perahu, piring kayu  dan sebagainya," katanya sambil mengukir tifa asli khas orang Sentani.

Untuk membuat tifa lanjut dia kalau rajin bisa selesai hanya tiga hari. "Tapi kalau santai mungkin bisa lebih dari tiga hari, tergantung pembuatnya," kata Sokoy.

Secara terpisah Agus Ongge seniman asal Kampung Asey kepada Jubi di sela-sela pameran FDS ke X mengatakan di Sentani khususnya Kampung Asey terdapat tiga jenis tifa. "Tifa-tifa ini punya nama khusus sesuai dengan fungsinya," kata seniman penggagas lukisan kulit kayu terpanjang pada FDS ke IX, 2016 lalu.

Kata Ongge jenis tifa pertama bernama tifa kayakhe dibunyikan untuk masyarakat akan datang untuk berpesta. "Jadi kalau tifa kayakhe berbunyi sudah pasti masyarakat kampung tahu ada pesta," katanya. Tifa kedua lanjut Ongge adalah tifa kena khingging yang diperuntukan bagi perkawinan atau perempuan dari kampung lain datang untuk kawin atau nikah di kampung Asei Pulau di Danau Sentani, Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Tifa jenis ketiga kata Ongge adalah amang wakhu, tifa ini akan dibunyikan untuk orang dari kampung-kampung datang membawa makanan ke kampung Asei Pulau.

Selain itu menurut Yosy Mehua Khoselo Hobong mengatakan tifa untuk ondoafi sangat khusus besar dan hanya tinggal di kediaman ondoafi saja. Tifa ini kata Mehue namanya dalam bahasa Sentani adalah khaeufa. "Jadi kalau ondoafi lapar atau meminta orang kampung membawa makanan tinggal membunyikan tifa khaeufa langsung masyarakat sudah antar makanan," katanya.

Jenis kayu yang sering digunakan untuk membuat tifa, kata Sokoy maupun Ongge biasanya mereka memakai kayu jenis bintangor (Calophyllum soulattri Burman f., Fl.). "Kayu bintanggor dalam bahasa Sentani disebut  nale," kata Ongge. Sedangkan kata dia kulit yang biasa dipakai dalam membuat tifa kebanyak memakai kulit soa-soa.

Soa-soa atau kadal semi akuatik ini banyak terdapat di daerah Sentani sehingga banyak diambil dan dikuliti untuk  membuat tifa berbagai jenis di Papua maupun di Sentani.Sepintas, bentuk tubuh soa-soa ini lebih menyerupai miniatur dinosaurus atau naga daripada kadal sehingga dalam bahasa Inggris disebut sail-fin dragon atau sail-fin lizard.

Seni musik

Tifa adalah alat musik yang berasal dari Maluku dan Papua serta wilayah kebudayaan Melanesia di Pasifik termasuk masyarakat Selat Torres di Australia.

Bentuknya mirip gendang dan cara memainkannya adalah dengan dipukul. Bahannya terbuat dari sebatang kayu yang isinya dikosongkan dan pada salah satu sisi ujungnya ditutup menggunakan kulit soa-soa, ada juga yang memakai kulit kangguru. Namun kulit soa-soa yang memiliki suara yang sangat nyaring dan garing.

Antropolog dari Fakultas Sosial dan Ilmu Politik jurusan antropolog, Dr Enos Rumansara dalam artikel berjudul Peran Sanggar Seni dalam menunjang kegiatan edukatif pada pameran benda budaya koleksi museum-museum di Papua mengatakan alat musik seperti tifa, terompet bambu, triton kulit siput cara menggunakannya, bunyi, tempo (ritme) belum tentu bisa diketahui oleh semua orang atau generasi muda yang memiliki benda budaya tersebut.

Lebih lanjut tulis Rumansara semua itu bisa dijawab oleh sanggar seni maupun sanggar seni yang dibentuk untuk mendukung dan membina serta melestarikan kesenian daerah itu sendiri.

Menurut dia tempo (ritme) pukulan tifa dari setiap suku bangsa yang ada di Papua berbeda satu sama lainnya. "Tempo (ritme) dari orang Sentani berbeda dengan tempo pukulan tifa dari orang Asmat. Begitu pula dengan daerah lainnya," kata Rumansara. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Mr. Hon Amkat Mai berpeluang pertahankan jabatan Gubernur Sandaun

Selanjutnya

Catatan 1 Juli : Orang Papua siapa yang akan menyerahkan diri?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe