Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Opini
  3. Catatan 1 Juli : Orang Papua siapa yang akan menyerahkan diri?
  • Sabtu, 01 Juli 2017 — 08:46
  • 4081x views

Catatan 1 Juli : Orang Papua siapa yang akan menyerahkan diri?

Penegasannya adalah yang menyerahkan diri bukan OPM sejati, tapi binaan. Pemberitaan seperti ini hanyalah sebuah permainan dari oknum tertentu. Orang-orang itu sengaja ditangkap, lalu dididik, dibina dan melakukan hal seperti itu dengan kepentingan oknum (kelompok) yang memakai jasa masyarakat.
Ilustrasi pengibaran bendera Bintang Kejora, Bendera Pembebasan West Papua - IST
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Tetap No. 1 di Tanah Papua,

Oleh Soleman Itlay

“TONG tau semakin banyak kam berbuat busuk, tong ikut dibantu dalam kam pu permainan busuk itu. Karena tong yakin dunia pu mata, telinga dan hati. Tuhan pun pasti kan turut berperan dan berperkara di dalamnya”

Sejarah, yang mengangkat pengalaman dan kejadian masa lampau, penting untuk direkonstruksi. Dalam arti disusun, ditata, diikat dan diingat kembali untuk menghadapi peristiwa baru, sehingga tidak mudah kaget, dihasut dan terjerumus ke dalam neraka, yang sengaja dibuat-buat.

Neraka itu mencakup: paksa, masuk, rumah, orang, lain, cara, busuk, bau, tipu daya, bunuh, pukul,  kotor, senjata, pisau, sangkur, laras, panah, pistol, batu, kayu, tongkat, busur, makan, pinang, mobil, avansa, preman, motor, rumah, sakit, gunung, pesisir, tombak, tembak, tangkap, siksa, hitam, putih, keriting, lurus, gelap, tikam, tabrak, lari, sembunyi, gantung, biadab, dst.

Kesemuanya itu lahir, besar dan berkembang dimana-mana, termasuk di sini. Bayangkan, kalau kata-kata itu mempunyai usia. Tidak ada artinya lagi, karena akhirnya juga akan mati.

Tapi bukan itu, apabila dikatakan kepada sesuatu keadaan, maka pasti akan teringat selalu. Namun daya ingat manusia punya ancaman pula.

Sejauh ingatan itu lahir dari suatu keadaan kontradiksi, tidak mungkin tidak. Pasti ada upaya yang sengaja melahirkan satu keadaan baik, indah, sederhana dan paling buruk. Tujuannya, agar mengeliminasi peristiwa traumatis, baik, indah, sederhana, dan yang paling buruk.

Takutnya perasaan yang lahir dan berkembang dari peristiwa itu kemudian melahirkan pertarungan sengit, yang akhirnya memecah-belah slogan (kam pikir sendiri) harga mati. Jangan heran pada pertarungan sengit itu.

Tetapi yang perlu heran, bila perlu ditertawakan adalah ketika melihat setiap 1 Juli. Setiap tanggal ini, dari tahun ke tahun, selalu ada penyerahan diri, ditemukan ini dan itu, ditangkap begini dan begitu, dan dikibarkan di sana-sini. Tahukah, sampai dikabarkan berhasil, membanggakan diri, mengagung-agungkan diri di media massa, dst. Bila dicerna baik, sesungguhnya semua turunan dari watak neraka tadi. Menertawakan itu.

Itu bukan budaya, tapi dibuat-buat menjadi budaya baru. Semua yang akan terkena dampaknya harus cerdas menanggapinya.

Bagi mereka tidak ada anggapan bahwa napas manusia hanya bisa diberikan dan ditarik oleh Dia. Sama sekali tidak ada di alam pemikirannya. Bagi mereka manusia disamaratakan dengan hewan dan binatang. Karena itu, untuk menumpahkan darah pun layaknya hewan dan binatang: langsung tembak, tabrak, tikam, gantung, buang, tangkap dan pukul hingga mati. Pelaku justru tidak ditangkap, ujung-ujungnya hanya sebutan OTK, suku ini dan itu, kelompok ini dan itu.

Rentetan permainan baik sampai paling busuk belum terungkap. Masih tersimpan di bawah kekuatan dan kekuasaan yang berakar pada tipu daya, pemaksaan, pemalsuan, dan banyak cara yang memalukan pun dirahasiakan. Praktik kotor ini terus berlanjut sejak 1961 sampai sekarang.

Tak hanya itu, masih banyak akar persoalan yang menjadi pengalaman traumatis--yang senantiasa memompa kontradiksi itu sendiri. Misalnya, New York Agrement (15 Agustus 1962), Roma Agreement (30 September 1962), UNTEA menyerahkan Papua ke tangan kolonial Indonesia (1 Oktober 1962), Papua dipaksakan ke Indonesia (1 Mei 1963), pelaksanaan PEPERA yang cacat hukum dan demokrasi (1969).

Catatan di atas paling sering di dengar dan dilihat di baliho, spanduk, televisi, internet, radio, undangan seminar, dst. Seolah-olah itu seratus persen kebenarannya. Apalagi membaca artikel, koran, majalah dan buku sepihak, yang melibatkan akademi, pakar, kepala bagian, dll. Luar biasa.

Kondisi demikian, sebagai manusia yang tidak banyak tahu, bisa-bisa percaya begitu saja. Padahal tampilan dan penampilan hasil tipu daya, manipulasi, mombolak-balikkan fakta, dll. Tidak ada satu pun yang dapat dibenarkan.

Sayangnya masih banyak juga yang mau percaya pemberitaan, pewartaan dan informasi yang menyesatkan itu. Tidak ada yang mau mendudukkan kebijaksanaan antara dirinya dengan informasi yang menerakakan pembaca. Semua mau terima bersih, tidak jeli memandang sumbar informasi--yang sengaja dibuat-buat itu.

Sungguh ini ada kaitan erat dengan catatan berharga dan tukilan ideologi segar, “Menuju Papua Baru”. Di situ penulis mengajak semua orang melihat masalah dengan berkat dan pandangan filsafat orang Papua terhadap waktu dan sejarah. Orang Papua (pendatang dan asli) mampu berpandangan bahwa sejarah perkembangan manusia, termasuk peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas, seperti episode atau babakan-babakan tertentu yang terus-menerus berganti, (2000, Giyai: 9-10).

Ketika orang (Papua) berkuasa di atas tanahnya sendiri, dengan mata jernih akan melihat sesuatu apa adanya; yang ada di sini. Ketika masuk pada babakan kedua, dimana diganti dengan kedatangan utusan injil Barat, kemudian disusul dengan Belanda, sulit berpikir tentang eksistensi dan identitas sebagai orang pribumi. Posisi itu semakin jauh pula dengan masa pendudukan Jepang. Dari semua yang paling akhir dan paling sial adalah kedatangan Indonesia.

Berangkat dari babakan itu, di sini diajak untuk melihat posisi masalah baru berdasarkan sejarah. Sekali lagi bukan asal-asalan. Dari muka, misionaris Barat dan Belanda memasuki Papua semakin lama orang ingin melihat dan terus berpegang teguh pada ajaran dan pendidikan mereka dalam konteks yang lebih luas. Lambat laun, tidak lagi ingat akan semua memori masa lalu dengan mereka. Karena masa pendudukan Jepang dan kedatangan Indonesia menciptakan peristiwa-peristiwa baru.

Peristiwa baru tersebut bukan guna mempertahankan sejarah masa lalu, melainkan sejarah baru berbau keindonesiaan. Apa yang dilakukan bukan untuk memanusiakan manusia setempat. Tetapi lebih dari itu, upaya mengerikan trauma agar tidak lagi mendapat tekanan-tekanan dalam proses pengerutan isi perut mama yang terbentang tidur di sini. Selain membangun elemen dan kekuatan kepentingan bakal sampai menciptakan tekanan sosial guna menekan lahirnya kesadaran perlawanan.

Langkah lain yang memalukan ialah mendidik, membina dan menyuruh orang menyerahkan diri. Wacananya tidak lain, seperti biasa, misalnya, 1 Juli anggota atau pimpinan “Organisasi Papua Merdeka” dari kelompok ini dan itu yang menyerahkan diri kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Kalau bukan itu berarti alternatif lainya, pada 1 Juli ditemukan alat ini dan itu di markas ini dan itu.

Socrates S. Yoman, sudah memberikan peringatan berharga dalam bukunya, Pemusnahan Etnis Melanesia. Secara objektif memberikan informasi tentang peristiwa yang menyesatkan pola pikir orang-orang sejati dan binaan untuk kepentingan oknum atau kelompok. Orang sejati menurutnya adalah orang yang terpanggil demi tanah air dan kelangsungan hidup anak cucu ke depan. Tetapi orang binaan adalah orang (kelompok) yang sengaja memakai jasa orang Papua untuk memperkeruh suasana sesamanya.

“OPM sejati adalah orang yang terpanggil demi tanah air dan kelangsungan hidup anak cucu ke depan. Orang-orang ini memiliki komitmen, arah tujuan, cara bermartabat, simpatik, manusiawi, dan terhormat. Mereka sadar”, (Yoman: 2007:165).

Yoman sesungguhnya mengingatkan semua pihak, baik lawan dan kawan untuk tidak lagi menggunakan cara-cara atau pol-pola tidak benar. Karena usaha yang yang buruk tidak akan membawa perubahan apa pun, terlebih kebaikan untuk banyak orang. Sekalipun ditaruh dengan modal miliaran dan fasilitas yang terjamin pun tidak akan pernah mengubah kondisi. Solusi singkatnya adalah melakukan dialog damai. Kalau tidak, jalur lain akan menjadi pilihan akhir; silahkan pikirkan ini. Misalnya ada pihak ketiga yang mengambil alih untuk mendamaikan dua kelompok yang berselisih.

Sekarang saja bisa pikirkan ketika demikian darah menjadi asap dan dunia melihat itu. Bah, raut wajahnya mau taruh dimana? Singgung-singgung pihak ketiga saja, bikin macam kebakaran jenggot. Apalagi kalau sudah demikian. Siapkan tempat, ringankan kaki, tangan dan segala peralatan untuk beranjak. Biar muaranya kontradiktif dewasa ini bersua di persimpangan antara surga dan neraka.

Ungkapan bukan sekadar retorika. Bukan pula manipulasi dan memutarbalikkan kebenaran.

Berikut bukti peristiwa yang sengaja dibuat-buat, Sembilan Anggota TPN/OPM Serahkan Diri (Cepos, Selasa, 4 Juli 2017),  Sembilan OPM/TPN Menyerahkan Diri (Papua Pos). Jika diingat baik, peristiwa seperti ini paling sering terjadi pada hari-hari besar, namun paling banyak terjadi tiap 1 Juli—hari lahirnya OPM.

Penegasannya adalah yang menyerahkan diri bukan OPM sejati, tapi binaan. Pemberitaan seperti ini hanyalah sebuah permainan dari oknum tertentu. Orang-orang itu sengaja ditangkap, lalu dididik, dibina dan melakukan hal seperti itu dengan kepentingan oknum (kelompok) yang memakai jasa masyarakat. Tujuannya memprovokasi sesama orang Papua, sehingga orang lain mudah percaya, bahwa ada jaminan hidup ketika tetap di dalam Indonesia. Mereka adalah budak sejati.

Rentetan sejarah yang memutarbalikan fakta seperti ini harus menjadi perhatian semua orang. Sebelum peristiwa baru timbul semua orang mesti kritis dan skeptis. Mempersiapkan diri secara baik, sehingga tidak mudah dihasut dan terjerumus ke dalam peristiwa baru yang sama dengan peristiwa masa lalu.

Memposisikan panca indera pada peristiwa yang tepat dan benar mesti menjadi suatu keutamaan. Tanpa demikian, kondisi baru kelak akan ada persoalan baru yang kompleks, dan ditentukan oleh cara pandang subjektif sesorang. Sehingga dengan mudahnya orang menjustifikasi peristiwa baru seolah-olah benar. Padahal peristiwa itu adalah cara yang sama seperti cara-cara terdahulu.

Hanya orang-orang yang merasakan, mengetahui dan mendekati gejala sosiallah yang mampu membaca peristiwa baru dengan alam kesadaran yang tepat dan daya guna. Kalau sudah seperti itu, pemutarbalikan fakta, cara-cara manipulatif, penghasutan sana-sini, hidupnya yang menumpang di dalam kecurangan akan mengatakan, mudah dibedakan. Percaya atau tidak, akan mengatakan cara dan pola seperti itu sangat keterlaluan dan memalukan.

Biarlah apa yang ditanam, mereka tuai. Karena perbuatan seseorang atau kelompok itu bagaikan nama batu secara umum, yang tidak dapat ditukar atau digantikan dengan sesuatu apapun atau batu lain. Perbuatan hari ini tidak akan mendapatkan hasil lain, kecuali hasilnya serupa dengan perbuatan hari ini.

Tetapi hari-hari bersejarah ke depan terjadi seperti apa? Belum bisa dipastikan, karena kita berada dalam kondisi dan waktu yang cukup jauh. Jauh dari hari-hari bersejarah itu. Entalah sebelum atau sesudah hari “H” bisa saja terjadi menurut rancangan dan target oknum tertentu. Sebagai makhluk yang bertanya, semua orang hanya bisa bertanya: Orang Papua siapa yang akan menyerahkan diri? (*)

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua

loading...

Sebelumnya

Ada upaya menjatuhkan Gubernur Papua - Invisible Hand (Pro Justicia)

Selanjutnya

PR pembangunan di balik opini WTP di Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe